Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Fiksiislami Artikel Utama

Di Depan Rumah Retret Itu, Kau Berlutut Memelukku

15 Juni 2018   06:03 Diperbarui: 16 Juni 2018   02:49 3889 29 20
Di Depan Rumah Retret Itu, Kau Berlutut Memelukku
Ilustrasi: Shutterstock.com

"I hate Eid Mubarak."

Ingin rasanya Silvi melontarkan kalimat itu. Lama-lama ia muak juga dengan hari raya. Benar, di hari kemenangan itu keluarganya berkumpul bersama. Tubuh mereka ada di sini, tetapi tidak dengan pikiran mereka. Gawai di tangan telah menyita perhatian.

Hanya Silvi yang tidak memegang gadget. Ia konsisten pada prinsipnya: no gadget saat bersama orang-orang yang dicintai. Sayangnya, paham keluarganya berseberangan. Bagi mereka, gadget everywhere. Alhasil gadis blasteran Jawa-Belanda itu hanya bisa menggigit bibir, kecewa.

Percuma, bisik hati kecilnya. Buat apa berkumpul bersama bila akhirnya hanya sibuk dengan smartphonenya masing-masing? Sejumput niat untuk kabur memerciki hati.

Diam-diam gadis cantik bergaun putih itu melirik sekitarnya, mencari celah. Ia tak tahan begini terus. Eid Mubarak, bisakah meninggalkan gadget sejenak?

Hari pertama Eid Mubarak seperti berlalu begitu saja. Tanpa ada kesan mendalam. Bermain gadget tetap menjadi kegiatan dominan di hari raya. Menahan kejengkelannya, Silvi bangkit dari sofa. Balik kanan, lalu berjalan ke halaman depan.

"Andai ada yang menemaniku..." desahnya, menatap hampa langit biru berlapis gumpalan awan putih. Angin berdesis, menarik-narik ujung dressnya.

"Seharusnya aku pergi saja."

Pergi, ya pergi. Mengapa tidak? Toh tak ada yang peduli. Perlahan dilangkahkannya kaki ke pintu pagar. Membukanya sepelan mungkin. Kabur bisa menjadi pilihan.

Menit berikutnya, kaki Silvi telah menjejak jalan raya. Berhasil, dirinya berhasil kabur dari rumah. Hatinya bersorak kegirangan, mengapresiaasi keberhasilannya sendiri.

**     

Pintu taksi membuka. Dengan anggun, Silvi turun dari dalamnya. Sesaat perasaannya kalut. Seperti ada yang mengawasi dari balik rimbun pepohonan itu. Mungkin hanya perasaannya.

Berusaha mengabaikannya, Silvi melangkah ringan memasuki area kompleks perumahan di atas bukit itu. Dilewatinya rumah demi rumah, blok demi blok. Rumah-rumah di sini kebanyakan bergaya klasik dan berukuran besar. Kesejukan udara sore khas perbukitan makin merilekskan hatinya. Menyenangkan juga bisa berjalan-jalan di sore pertama Eid Mubarak. Lebih baik di sini, dari pada di rumahnya yang isinya pengidap gadget addict semua.

Terbayang seraut wajah di pelupuk mata. Sosok tampan yang ingin ditemuinya. Bagaimanakah dia sekarang? Semakin tampankah dia? Senyum tipis bermain di bibir Silvi saat mengingatnya.

Smartphonenya bergetar. Request Skype dari seseorang.

"Silvi, kamu nekat ke sana?" Sepasang mata sipit bening di layar mencerminkan kekagetan begitu tahu keberadaan Silvi.

"Iya. Kenapa, Calvin?" balas Silvi datar.

"Please jangan ke sana, Silvi. Feelingku mengatakan, kamu akan diperlakukan buruk."

"Kamu berdoa hal buruk menimpaku?"

"Bukan begitu, Silvi. Aku..."

Klik. Silvi tetiba merasa marah. Apa hak Calvin melarangnya? Ia punya hak untuk menemui calon rohaniwan yang dicintainya.

Selang beberapa menit, Silvi sampai di sebuah rumah besar berpagar hitam. Sebuah papan nama tergantung di pagarnya. Inilah rumah yang ia cari. Bukan rumah biasa, sebuah rumah yang dipakai untuk menyepi dan membuat keputusan.

Cukup lama ia menanti. Debar di hatinya makin cepat. Sampai akhirnya...

"Silvi Maurishka...goede midag."

Sesosok pria setengah baya berbaju hitam mendekat. Menyapanya dalam Bahasa Belanda. Silvi tersenyum, melontarkan sapaan yang sama.

"Selamat Idul Fitri ya," Pria itu menyalami Silvi, sukses membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.

Dari mana pembimbing rohani itu tahu tentang diri dan keyakinannya? Hati Silvi disergap ketakutan. Bergetar suaranya saat membalas ucapan selamat itu.

"Mau ketemu Al, kan? Ayo saya antar."

Ini menakutkan, sungguh menakutkan. Mungkinkah apa yang dikatakan Calvin benar?

Di ambang pintu, Albert telah menantinya. Frater tampan berdarah Jawa-Jerman-Skotlandia. Sikapnya dingin tak seperti biasa. Wajahnya beku tanpa senyuman.

"Hai Al," sapa Silvi ragu.

Kini mereka hanya berdua. Albert menatap tajam Silvi lalu berujar.

"Aku tidak memintamu datang ke sini."

"Aku hanya minta jawabanmu, Al. Kau pasti sudah memikirkannya."

"Baik, kalau itu permintaanmu. Jawabannya: aku tidak bisa. Kamu tidak tulus."

Ini sebuah pengingkaran. Perih hati Silvi. Albert menjustifikasi ketidaktulusan pada dirinya.

"Tapi Al..."

"Pergi! Jangan temui Frater miskin yang telah berkaul kekal ini!" teriak Albert di depan wajah gadis itu. Sejurus kemudian ia melempar tas Silvi ke halaman. Mendorong kasar tubuhnya.

Silvi shock. Beginikah sikap calon pemuka agama? Albert mengusirnya. Sempurna menggoreskan luka di hati model dan penulis itu.

Dengan hati hancur, Silvi berjalan pergi. Ia ikuti saja kemana kakinya melangkah. Jiwanya pedih luar biasa. Katakanlah ini Eid Mubarak terkelam dalam hidupnya.

**      

Kenyataan yang ada kasih

Kau tak mungkin ada di sini

Tanpamu cinta tak berarti

Cinta sudah lewat

Tak kukira kan begini

Mengapa harus kau terikat

Meski tak terucap

Hanya aku yang ada di hatimu (Kahitna-Cinta Sudah Lewat).

Piano putih di ruang tamu dimainkan dengan perfect. Pria tampan berwajah oriental dan bermata sipit itu menggerakkan jemarinya. Suara bassnya yang empuk menyanyikan untaian lirik lagu.

Sekali-dua kali ia memejamkan mata. Dihayatinya kedalaman isi lagu. Teringat anak adopsinya yang telah meninggal. Teringat pula gadis cantik tapi nekat yang ia pedulikan.

"Calvin, oke banget sih permainan pianomu. Seriously, Eid Mubarak bakalan sepi kalo nggak ada kamu."

Pujian dan tepukan tangan keluarga besarnya menyadarkan Calvin. Calvin hanya tersenyum mendengarnya.

"Lagunya buat Paulina dan Silvi, kan?"

Calvin diam. Namun pigura-pigura yang terpajang di dinding lebih aktif bicara. Semuanya menunjukkan potret kebersamaan Calvin dengan putri angkatnya. Sedih menyeruak ke hati. Betapa rindunya Calvin pada Paulina. Anak cantik itu pergi terlalu cepat. Kanker getah bening merenggut nyawanya.

Rindunya pada Paulina membias dengan kerinduan yang sama pada Silvi. Gadis yang telah ia anggap seperti adiknya sendiri. Di sudut hati, ada rasa yang lain. Tak ingin tenggelam dalam perasaan, Calvin buru-buru beranjak. Disambuti teriakan protes dari anggota keluarga.

"Aku harus ke kantor," Ia menjelaskan sesabar mungkin.

"What? Eid Mubarak begini ke kantor? Nggak salah?"

Mereka takkan mengerti. Malam ini juga, Calvin harus ke Tiongkok untuk perjalanan bisnis. Blogger dan pengusaha super tampan itu tergesa mengemudikan Chevroletnya.

Tiba di kantor, Calvin tak berkonsentrasi. Pikirannya melayang ke hati Silvi, mencemaskan gadisnya. Setelah menyiapkan beberapa dokumen, dibukanya blog pribadinya. Mungkin menulis artikel bisa meringankan kekhawatiran.

Paragraf demi paragraf ia tulis. Opini dan fakta dari berbagai referensi ia rangkaikan. Tepat ketika artikel itu diposting, telepon tak terduga merobek hatinya.

"Calvin...bisakah kamu ke rumah retret itu? Maukah kau menemuiku?" Suara di seberang sana teramat sedih dan putus asa. Disambuti isakan tangis.

Perasaan Calvin tak menentu. Hatinya teriris mendengar suara tangis itu. Detik-detik mendebarkan, akhirnya ia mengambil keputusan. Setelah mendengar tangisan gadis yang dicintainya, Calvin menutup laptop. Ia memakai kembali jasnya, sejurus kemudian berlari meninggalkan ruang kerja CEO di lantai lima. Calvin membatalkan perjalanan bisnisnya, ia meminta staf kepercayaannya menggantikan. Ada yang lebih butuh dirinya di luar sana.

**     

Dingin, malam itu sangat dingin.  Tubuh Silvi limbung. Berjam-jam lamanya ia di jalanan. Berjalan begitu jauh tanpa arah. Ia kembali lagi ke depan rumah retret. Entah apa lagi yang dicarinya.

Make upnya telah luntur. Gaunnya kotor oleh debu dan tanah. Silvi jatuh terempas di atas lututnya sendiri, sekuat tenaga menahan tangis. Bukankah ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tegar?

Sebuah pisau kecil ia keluarkan dari tasnya. Benda tajam itu menyusup ke balik gaun, menorehkan luka. Raga dan jiwanya kini terluka.

Peringatan Calvin benar. Calvin? Nama itu muncul ke permukaan. Calvin Wan, pemilik nama itu, bukankah selalu ada untuknya?

Gelembung di hatinya pecah. Dengan isak tertahan, Silvi melakukan hal terakhir yang dipikirkannya. Air matanya menetes, seiring darah yang menetesi tepi gaunnya.

Seperempat jam kemudian, Chevrolet hitam menepi. Pintu mobil terbuka. Calvin berlari menghampiri Silvi. Ujung gaun Silvi tersingkap. Calvin terperangah melihat luka memanjang yang mengalirkan darah segar. 

Silvi tak menyangka, sungguh tah tak menyangka. Malaikat tampan bermata sipitnya telah datang. Si malaikat tampan bermata sipit berlutut, merengkuhnya hangat.

"Silvi...Silvi, tolong jangan lakukan lagi." pintanya.

Calvin dan Silvi berpelukan erat. Tangan Calvin mengusap lembut darah Silvi.

"Jangan tinggalkan aku, Calvin. Jangan usir aku seperti Al." isak Silvi.

Seraya mempererat pelukannya, Calvin berkata lembut. "Tidak. Aku akan tetap di sampingmu."

Belum pernah Calvin memeluk wanita seerat ini. Pada keluarganya pun ia tak begitu ekspresif dalam mengungkapkan kasih sayang. Silvi, ya hanya Silvi yang bisa membuat Calvin begitu ekspresif.

"Sorry, telah mengganggu perjalanan bisnismu. Lebih baik kamu ke airport saja."

"Sudah kubatalkan, Silvi. Stafku yang menggantikannya."

Perkataan terakhir Calvin sukses membuat Silvi speechless. Siapakah dirinya sampai-sampai Calvin rela membatalkan perjalanan bisnis yang sangat penting untuk masa depan perusahaan? Beginikah sikap seseorang yang menyatakan diri 95% tidak akan menikah dan menutup hati untuk masuknya cinta?

**