Wiwin Zein
Wiwin Zein Freelancer

Tinggal di Cianjur

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Setelah Lebaran Saya Sanggup Tidak Makan selama Tiga Hari

9 Mei 2022   06:55 Diperbarui: 9 Mei 2022   10:25 700
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Setelah Lebaran Saya Sanggup Tidak Makan selama Tiga Hari
Sumber : kompas.com

Saya sanggup tidak makan selama 3 hari setelah lebaran? Ya! Itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya tidak sakit. Saya hanya hilang nafsu makan saja.

Bagaimana bisa? Ya bisa. Kok kuat? Alhamdulillah waktu itu saya kuat.

Tapi jangan salah faham dulu. Waktu itu saya sanggup tidak makan selama 3 hari setelah lebaran bukan berarti saya tidak makan makanan sama sekali. Waktu itu saya hanya tidak makan nasi. Sebagai gantinya saat itu saya makan ketupat selama tiga hari. Hee he...

Bukankah ketupat termasuk nasi juga? Bukan! Bagi kita orang Sunda nasi ya nasi, ketupat ya ketupat.

Bagi kita orang Sunda, yang disebut makan itu adalah makan nasi. Kalau belum makan nasi kita merasa belum makan.

Seperti halnya ketika kita sarapan bubur. Bagi kita orang Sunda belum merasa sudah makan.

Walau pun kita sudah makan bubuy sampeu (bakar singkong) sebesar tangan sekali pun, tetap kita merasa belum makan. Padahal kita merasa sudah kenyang.

Termasuk ketika kita sudah sarapan roti, kue, kulub cau (pisang rebus), kulub sampeu (singkong rebus), kulub hui (ubi rebus) atau makanan lain non-nasi. Sekenyang apa pun kita makan makanan itu tapi kita merasa belum makan. Bagi kita makan nasi adalah “harga mati”.

Akan tetapi bisa jadi tidak semua orang Sunda yang “nasi oriented”. Ada pula orang Sunda yang sudah adaptasi, bisa makan makanan lain non-nasi, asal mengenyangkan.

Terkadang saya merasa geli dengan diri sendiri atau teman-teman ketika dalam suatu kegiatan bersama di hotel misalnya. Sewaktu sarapan, banyak teman-teman tidak mengambil nasi. Mereka mengambil roti atau bubur.

Dalam hati saya berkata, “Wah mentang-mentang sarapan di hotel, gak doyan nasi”. Namun selang beberapa menit kemudian, setelah roti atau bubur yang mereka santap habis mereka kemudian mengambil nasi juga.

Oalah… Ternyata mereka makan roti atau bubur hanya sebagai makanan pembuka saja. Mereka makan roti atau bubur hanya “pencitraan” saja.

Intinya teman-teman tidak bisa move on dari nasi. Kendati sudah makan roti dan bubur yang banyak, tetap saja merasa belum makan.  

Begitulah kita. Bagaimana dengan Anda?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun