Achmad Humaidy
Achmad Humaidy Administrasi

#BloggerEksis My Instagram: @me_eksis My Twitter: @me_idy My Blog: https://www.blogger-eksis.my.id

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN Pilihan

Harapan Ramadan yang Dirindukan

27 April 2020   22:30 Diperbarui: 27 April 2020   22:45 495
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Harapan Ramadan yang Dirindukan
Marhaban yaa Ramadan (Arsip Personal)

Ramadan tiba semua bahagia
Tua dan muda bersuka cita
Bulan ampunan, bulan yang berkah
Bulan terbebas api neraka

Lagu Ramadan Tiba dari Opick mulai menggema. Artinya, seluruh umat Islam sudah bisa melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Tentu bulan yang penuh kemuliaan ini sangat ditunggu. Tak bisa dipungkiri jika Kompasianer yang beragama Islam menyambut bulan suci ini dengan gembira.


Tahun 2018, aku membuat target harian selama bulan Ramadan untuk mencapai harapan yang diinginkan. Sementara aku juga menyambut Ramadan penuh harapan di tahun 2019, meski beberapa harapan tak berhasil diwujudkan. Tepat tahun ini, harapan itu kembali bergulir agar aku bisa bersiap diri menjalankan ibadah di bulan Ramadan dengan penuh kenikmatan yang hakiki.


Mengingat bulan Ramadan tahun ini, kita dihadapi pandemi Corona. Aku tak mau kondisi ini dijadikan penghalang sehingga ibadah menjadi berantakan. Komitmenku sederhana, aku hanya ingin menjalankan ibadah yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Andaikan saja Ramadan semua
Bulan yang tiba, bulan yang ada
Karena besarnya setiap pahala
Yang dijanjikan kepada kita

Ramadan tahun ini terasa sekali perjuangannya. Bangsa ini harus menghadapi serangan virus yang mematikan. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat Kompasianer harus belajar, bekerja, dan beribadah di rumah.

Mereka yang belajar masih saja ada yang memiliki keterbatasan fasilitas belajar di rumah. Bagi yang bekerja, hilal gaji atau Tunjangan Hari Raya (THR) belum terlihat wujudnya. Bahkan ada beberapa yang langsung diputus kontraknya karena banyak perusahaan sudah tak bisa menanggung upah pekerjanya. Sementara perayaan atau ritual selama Ramadan tak terlihat seperti biasanya. Salat tarawih, tadarus Al Qur'an, silaturahmi seperti sahur on the road, buka bersama, lebaran, dan lainnya hanya bisa dilakukan secara mandiri atau virtual saja.

Kita harus menjalani Ramadan yang beda. Rasanya harapan untuk diberi kesehatan atau umur yang cukup demi beribadah kepada Sang Pencipta merupakan hal yang utama. Aku hanya bisa berdoa supaya kita semua bisa melewati ujian dan memenuhi harapan untuk berkah Ramadan kali ini.

Dalam bersahur ada pahala
Dalam berbuka alangkah indah
Menahan diri, menahan lidah
Menjaga hati, menjaga mata

Seuntai lirik lagu di atas menjadi harapan yang dirindukan olehku untuk tahun ini. Pasti Ramadan tahun ini akan menjadi kenangan nanti. Kita hanya bisa memelihara hati agar jiwa tak terasa hampa setelah Ramadan pergi.

Demi mencapai harapan tersebut, ada beberapa hal sederhana yang aku lakukan, seperti:

1. Niat
Sesuatu yang dilakukan dengan niat karena Allah SWT, insya allah akan bernilai ibadah. Jika kita sudah mengucapkan niat berpuasa, berarti kita harus siap juga untuk menjaga hati, pandangan, dan perilaku buruk sekalipun. Dengan niat yang tulus, kita bisa bertaubat supaya tidak mengulangi segala kesalahan yang sama. Jadikan ramadan sebagai permulaan karena tak pernah ada kata 'terlambat' selama nyawa masih dikandung badan.


2. Buat skala prioritas untuk beribadah
Sibuk dengan urusan dunia boleh saja, tapi alangkah baik ketika waktu diperbanyak untuk mengingat kehidupan di akhirat nanti. Untuk mempersiapkan bekalnya, kita harus istiqomah dalam beribadah seperti salat, mengaji, ikut kajian keagamaan, bersedekah, dan berbagi ilmu sehingga waktu kita selama Ramadan terasa lebih berfaedah. Ingatlah bahwa segala kebaikan sekecil apapun yang dilakukan selama Ramadan akan mendapat pahala yang berlipat ganda.


3. Jaga kesehatan
Saat berpuasa kadang kita terlalu abai terhadap kesehatan. Pola istirahat terganggu, pola olahraga tidak teratur, dan pola makan pun tak mampu dikontrol. Sudah sewajarnya, kita kurangi begadang. Cerdas dalam memilih makanan yang dikonsumsi saat sahur dan buka puasa. Tak lupa, lakukan olahraga ringan supaya kesehatan tetap terjaga.


4. Di rumah saja dan ikuti panduan ibadah yang tepat
Demi mencegah penyebaran virus Corona, ada baiknya kita melaksanakan ibadah Ramadan di rumah saja. Kementerian Agama telah memberi panduan untuk beribadah di tengah pandemi wabah Covid-19. Jika kita sudah niat, membuat skala prioritas untuk beribadah, dan jaga kesehatan maka segala aktivitas selama di rumah bisa dilakukan dengan ikhlas.

Panduan Beribadah di Rumah dari Kementerian Agama| Dok Kemenag
Panduan Beribadah di Rumah dari Kementerian Agama| Dok Kemenag
     

     Kita pasti akan merindukan Ramadan tahun sebelumnya. Harapan yang sama pasti diungkap oleh semua muslim agar cobaan saat Ramadan tahun ini menghilang supaya kita bisa beribadah dengan tenang. Semoga saja Ramadan tahun ini terasa damai dan kita terus berpegang teguh pada cahaya agama demi menerangi hati yang penuh harap agar pandemi Corona cepat berlalu.


Banyakkan amal hari-harinya
Pahala datang berlipat ganda
Berlomba-lomba untuk ibadah
Dunia bahagia surga nantinya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun