Theresia Sumiyati
Theresia Sumiyati Guru

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak laki-laki. Senang membaca, menulis, dan bermain musik. Hidup terasa lebih indah dengan adanya bacaan, tulisan, dan musik.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Suara dari Langgar

5 Mei 2021   05:58 Diperbarui: 5 Mei 2021   06:00 103 7 2

Namanya Pak Bakin. Saya memanggilnya dengan Pak De Bakin. Demikian juga orang-orang di kampungku. Beliau memang lebih tua dari kami. Sehingga panggilan Pak De itu lebih pas.

Anak-anaknya sudah menikah semua. Mereka telah memiliki keluarga masing-masing. Bahkan salah satu cucunya juga sudah berkeluarga sejak  6 bulan yang lalu. Sebentar lagi Pak De Bakin akan menyandang gelar baru yaitu "Mbah Buyut". Dalam beberapa bulan ini cucunya akan melahirkan anak pertama.

Di usianya yang tak muda lagi beliau masih tetap beraktivitas. Tubuhnya tampak selalu fit. Tak pernah terdengar Pak De Bakin sakit. Setiap hari selalu terlihat di jalan dengan sepeda motornya. Beliau menawarkan jasa ojek kepada siapa saja yang membutuhkan. Untuk semua yang dilakukan itu Pak De Bakin mendapat imbalan yang cukup untuk hidup berdua dengan istrinya.

Dulu saat sebelum pandemi, beliau mempunyai banyak pelanggan. Orang-orang yang bekerja di kantor dan tidak bisa membawa kendaraan sendiri sering diantar dan dijemput oleh beliau. Ada juga beberapa anak sekolah yang menikmati jasanya. Para orangtua merasa lebih aman untuk melepas anaknya pergi ke sekolah bersama Pak De Bakin, karena beliau sangat bertanggung jawab. Dengan adanya pembelajaran jarak jauh bagi anak-anak dan WFH bagi para karyawan, otomatis pengguna jasanya menurun. Hanya beberapa saja yang masih menggunakan jasanya. Akan tetapi Pak De Bakin tetap bersemangat menjalani hidupnya. Tak pernah ada wajah murung dalam dirinya, selalu bersemangat dan ceria. Senyum tetap menghiasi bibirnya saat bertemu dan menyapa orang lain. Apa pun yang terjadi, beliau selalu bersyukur. Mungkin itulah yang membuat Pak De Bakin selalu tampil prima, bahkan lebih muda dari umur yang sebenarnya.

Pada bulan Ramadan ini peran Pak De bertambah. Pada malam hari menjelang sahur, beliau akan membangunkan warga untuk melakukan sahur. Suaranya lantang terdengar dari pengeras suara yang ada di langgar. Ini dilakukan hampir setiap malam di bulan puasa. Sejak adanya larangan berkumpul memang tak ada para remaja yang berkeliling kampung membangunkan orang sahur. Maka beliau mengambil alih tugas ini. Begitu juga saat mendekati imsak, suaranya kembali menggema untuk mengingatkan para warga bahwa waktu sahur akan segera berakhir. Beliau ulang beberapa kali agar semua warga bisa mendengar.  Pak De Bakin melakukannya dengan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan. Beliau tulus ingin membantu warga agar bisa melaksanakan sahur tepat waktu, tidak terlambat. Setelah itu selesailah tugasnya.

Pagi menjelang, Pak De Bakin beralih ke tugas hariannya sebagai tukang ojek. Mencari rezeki demi berlangsungnya hidup bersama istri tercinta. Masa tua yang indah beliau nikmati dengan penuh suka cita. Beribadah dan bekerja masih bisa dilakukan dengan baik setiap hari. Keseimbangan fisik dan mental membuat kehidupan Pak De Bakin begitu bahagia. Mengalir tenang bagai aliran Sungai Batanghari yang tak pernah berhenti. Hidup sederhana dengan kebahagiaan yang istimewa. Kuncinya adalah bersyukur, bersyukur, dan bersyukur.

VIDEO PILIHAN