Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Sekretaris

https://www.youtube.com/channel/UC23hqkOw50KW12-6OHvnbQA

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

6 Hal yang Perlu Dimiliki untuk Bisa Hidup Bersama

30 September 2020   07:08 Diperbarui: 1 Oktober 2020   02:57 489 27 5
Lihat foto
6 Hal yang Perlu Dimiliki untuk Bisa Hidup Bersama
ilustrasi hidup bersama dalam komunitas. (sumber: pixabay.com/geralt)

Dalam hidup kolektif, ada begitu banyak nilai yang dianut dan dipahami oleh setiap anggota komunitas. Salah satu nilai dan bersifat universal adalah bahwa untuk bisa hidup bersama dibutuhkan adanya rasa saling percaya.

Rasa saling percaya dalam hal ini, bukan dalam artian kepercayaan atas dasar "kebenaran" dan "pembenaran" absolut, dalam prinsip kolektivisme, yang memberangus sama sekali pengakuan atas hak-hak pibadi dengan alasan demi kepentingan umum.

Sudah pasti, bukan juga dalam artian individualistik yang liberal, sebab tidak mungkin ada rasa saling percaya dalam sebuah kumpulan orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Kalau bukan itu, dan bukan ini, barangkali ulasan ini bisa juga dianggap sebagai sesuatu yang bukan-bukan, bukan? Mungkin saja. Tapi mari kita longok sejenak.

Lalu, apa yang perlu kita miliki untuk bisa hidup bersama dalam berkomunitas, yang membutuhkan rasa saling percaya? Berikut ini beberapa ulasannya.

1. Pentingnya Kebiasaan Kritis

Rasa saling percaya dalam hidup berkomunitas dapat dibentuk dalam sikap kritis dan kebiasaan memverifikasi segala pemberitaan, gejala dan fenomena yang kita terima, hingga tersimpul menjadi suatu fakta.

Saya tidak pernah bosan mengingatkan sebuah pesan kepada diri saya sendiri, oleh sebab suatu gejala yang juga tidak kunjung mereda, bahkan makin menggejala terutama setiap menjelang perhelatan suatu agenda politik, apa itu?

"Sangat riskannya pikiran kita disesatkan oleh orang-orang yang seharusnya ikut bertangung jawab membawa pencerahan, tetapi secara jahat justru terlihat memakai perannya untuk memaksakan pemikirannya menjadi sebuah kebenaran yang harus kita yakini adanya!"

Tidak jarang kita melihat berbagai media diisi oleh tokoh-tokoh, dari berbagai kalangan, baik elit politik, akademisi, praktisi, pengamat, bahkan ilmuwan dan peneliti yang seharusnya objektif secara metodologis.

Atau bahkan juga kaum agamawan yang seharusnya menjadi panduan religi, tidak sedikit yang menampilkan pendapat secara membabi buta, yang jauh dari akal sehat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5