Taufan Satyadharma
Taufan Satyadharma Akuntan

ABNORMAL | gelandangan

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Semut-semut di Balik Selasan

20 Mei 2021   22:34 Diperbarui: 20 Mei 2021   22:39 683 7 1

Ketika hari kemenangan sudah mendekat dan orang-orang mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya, mulai dari hampers, pakaian baru, hingga sampai mempersiapkan petasan, dsb. Namun di sisi lain, apa yang nampak di Omah Selasan (kediaman Mas Mukti, Dusun Pletukan, Tempuran) seolah kontras dengan apa yang sedang menjadi hagemoni masyarakat (muslim) pada umumnya.

Ya, dulur-dulur ini memilih untuk melakukan kegiatan repetitif untuk wirid dan sholawat bersama. Keluar dari hingar bingar kemeriahan menyambut fitri menuju kesunyian di salah satu sudut bagian Dusun. Menanggalkan segala keriuhan pesta pora larangan mudik ataupun ramainya pemberitaan agresi militer oleh kelompok tertentu kepada sekelompok orang yang sedang melakukan peribadatan, untuk kembali mengenakan kesadaran akan pentingnya penegasan cinta kepada Allah Swt dan kekasihNya melalui wirid dan sholawat, karena merasa diri tidak pernah lulus untuk menjadi seorang hamba yang taat.

Tempat Selasan kali ini serasa menjadi pengasingan yang tepat, mengingatkan akan perjalanan Selasan sendiri yang banyak dilaksanakan dalam pengasingan selama awal-awal pandemi melanda. Ketika seluruh tempat di-lockdown dan mendapat pengawasan yang ketat. Mas Entong selalu menawarkan tempatnya --tentu dengan melalui banyak pertimbangan serta jauh dari tetangga--- untuk dijadikan tempat bermunajat bersama. Alhasil, kediaman Mas Entong ini lantas mendapat predikat Omah Selasan.

Tak bisa dipungkiri lagi kalau rutinan mingguan ini bisa terlaksana hingga putaran ke-75 tanpa andil tempat ini. Bahkan, bagi yang sering membersamai rutinan Selasan ini, tiap kembali ke tempat ini serasa memiliki kesakralannya tersendiri. Mampu membawa perjalanan wirid dan sholawat ke tingkat kedalaman batin yang berbeda dibandingkan tempat yang lain. Sekalipun kita mengetahui, bahwa semua tempat pada hakikatnya sama tergantung pada kesiapan batin diri sendiri.

Tempat ini memang benda mati, namun di dalam tempat mati ini tersimpan kenangan akan kesetiaan dan kesungguhan cinta  yang membuatnya mati seolah menjadi hidup. Jadi, segala bentuk rona keindahan yang terpancar dalam Selasan menjadi waskita karena cinta, termasuk segala bentuk tadabbur Selasan akan tampak tak memiliki unsur keindahan apapun bagi orang asing.

Kami mungkin hanya segerombol semut yang sedang berjuang memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as. atau mungkin juga kita adalah segeombol semut yang disuruh masuk ke dalam sarang-sarangnya agar tidak terinjak oleh bala tentara Nabi Sulaiman as. karena mereka tidak menyadari keberadaan semut.

"Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, 'Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh'." (27:19)

Kita tak lebih dari semut-semut yang bersembunyi di balik kebesaran, keriuhan, keperkasaan, kekuasaan apapun yang sedang melanda kehidupan ini. Kita hanya ingin memposisikan diri sebagaimana mestinya dan terus berusaha menciptakan kegembiraan kita sendiri. Meskipun dipandang sebagai penakut ataupun pengecut, namun setidaknya kita belajar dari kawanan semut yang berhasil membuat Nabi Sulaiman as. tersenyum.

Begitu pula dengan doa Nabi Sulaiman as. yang banyak menyadarkan kita bahwa kita tidak akan pernah bisa mensyukuri nikmat kecuali tanpa anugerah ilham yang telah diberikan oleh Tuhan. Begitupun dalam lingkaran majelis wirid dan sholawat Selasan ini, kita tidak akan pernah mampu istiqomah menggulirkannya kecuali tanpa andil qadrat atau iradat-Nya.

***

Omah Selasan, 11 Mei 2021 

VIDEO PILIHAN