Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Penulis

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Cerpen | Undangan Bukber Seorang Kerabat

19 Mei 2018   22:39 Diperbarui: 19 Mei 2018   23:09 1232 1 0
Lihat foto
Cerpen | Undangan Bukber Seorang Kerabat
hidangan rumah makan padang

Punya banyak teman selalu ada gunanya. Saling bantu, saling ingatkan, dan terlebih pada saat Ramadan saling traktir sekadar kolak dan es buah untuk berbuka. Begitu kata-kata yang diucapkan Indarwin sebelum mengajakku untuk buka bersama.

Kami teman akrab sejak pindah dari seberang pulau. Pernah satu rumah kontrakan, dan satu kantor pula meski beda bagian. Maka betapa senangku mendapatkan undangan itu, berarti buka puasa hari ketiga gratis, alias tidak perlu keluar uang. Sebagai bujangan, undangan seperti itu sangat berarti.

Ia datang ke ruangan setelah sholat Dhuhur berjamaah di masjid kantor. Seperti di seberang pulau dulu, kami selalu beda bagian. Namun sebuah kebetulan dapat pindah bersama-sama ke kota yang sama.

"Punya uang kamu?" tanyaku memastikan ia tidak main-main."Kalau cuma berbuka kolak dan es buah biarlah masing-masing saja di kamar kost. . .!"

"Jangan khawatir. Bulan muda begini dompet masih tebal," jawabnya sambil memperlihatkan dompet dan isinya. Ya, ajakannya cukup  meyakinkan. Indarwin memang terkenal tajir diantara kami, obyekannya banyak.

"Undangan untuk berapa orang nih?"

"Empat atau lima orang teman saja. Kebetulan ada rezeki, sedikit beramal untuk para dhuafa 'kan banyak pahalanya. . . .hehehe!"

Gaya bercandanya keterlaluan, tapi ini soal undangan buka bersama. Jadi tak perlu dipermasalahkan. Ia bilang akan menunggu di depan rumah makan padang dekat masjid raya di pusat kota. ya, siapa yang tak tahu rumah makan favorit itu.

"Rumah Makan Padang Salero?" tanyaku spontan sambil membayangkan aneka masakan berlemak serta es campur komplit yang bakal meredakan rasa lapar dan dahaga seharian.

"Kutunggu di depan rumah makan itu. . .!" ucap Indarwin seraya menyebut beberapa nama beberapa teman kami beda bagian yang telah diundangnya dan menyanggupi. "Kita berlima. Aku dengan anak dan isteri, Cukup dua meja, 'kan?"

Singkat cerita, setelah naik angkutan umur tiga kali ganti sampailah aku di rumah makan yang dimaksud Indarwin. Agak kecewa juga di depan rumah makin tidak ada siapa-siapa. Namun beberapa menit berdiri di sana tibat-tiba Indarwin keluar. Hampir saja keluar makianku, namun sekuat tenaga kutahan. Aku tak ingin nilai puasaku hilang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4