Rizky Hadi
Rizky Hadi Lainnya

Selalu senang menulis cerita.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Di Balik Sederhananya Sebuah Surau

30 April 2021   10:30 Diperbarui: 30 April 2021   10:34 394 3 0
Lihat foto
Di Balik Sederhananya Sebuah Surau
drawn by Ali Muhsen

Namanya Cangkring Ireng. Nama yang unik memang. Tapi itulah biasanya orang-orang menjuluki surau ini. Ini bukan surau-surau yang biasa kalian lihat. Dengan ornamen-ornamen khas di setiap sisi dindingnya, mimbar gagah di samping imaman, cat yang bagus, juga tiang-tiang keramik. Bukan. Surau ini sederhana.

Hanya ada kipas yang berderit di salah satu sisi dindingnya, catnya yang berwarna putih sudah mulai memudar. Toa yang biasanya terdengar kencang juga melirik rendah. Namun, surau ini sangat menyenangkan.

Banyak anak-anak berkeliaran di setiap sorenya. Bermain, lari kejar-kejaran, atau sekedar duduk-duduk santai. Para pemuda yang mengurusi surau ini juga santun. Setiap dua kali sehari disapu supaya tetap terjaga kebersihannya.

Pada saat bulan Ramadhan kali ini, kegiatan di surau tersebut cukup padat, khususnya pada malam hari. Maklum, di siang sampai sore, pengurusnya sedang bekerja. Setelah salat taraweh dilaksanakan, beberapa pemuda di lingkungan sekitar tak lekas pulang.mereka ikut mengaji kitab di surau tersebut. Cukup ramai.

Surau ini memang sederhana. Surau yang dibalut dengan pondok kecil ini, berukuran sedang yang menyambut di depan, terdapat kamar-kamar kecil di belakang, terkadang digunakan satu dua murid yang masih menempati surau tersebut. Satu kamarnya difungsikan sebagai tempat menyimpan kitab dan buku yang berbaris rapi di rak. Para pengurusnya pun tidak banyak, hanya bisa dihitung dengan jari.

Sedikit cerita, surau kecil ini pernah dalam masa jaya-jayanya pada tahun 90-an. Dahulu, seluruh pemuda di desa bahkan hingga luar desa seperti wajib mengaji di surau ini. Aura surau memancar indah. Tetapi memasuki tahun 2000 an, orang yang mengaji di sini mulai surut. Hanya beberapa pemuda setempat yang tetap menjaga aktivitas surau.

Kala matahari mulai malu-malu menampakkan diri, ketika beduk dipukul bertalu-talu, di saat itulah azan dikumandangkan. Para jemaah berduyun-duyun datang. Selepas salat magrib, tak lupa beberapa jemaah yang mayoritas para pemuda setempat, tidak pulang terlebih dahulu lantaran bersiap menerima mengaji.

Salah satu guru ngaji yang ada di surau ini ialah Kang Radi. Dia tidak mengajar anak-anak kecil, melainkan dia memberikan ilmu kepada para pemuda yang kelak akan menjadi masa depan. Tidak banyak, hanya belasan muridnya. Tetapi bukankah jika mengajar murid yang sedikit, ilmu yang akan masuk menjadi lebih mudah? Bahkan di kisaran tahun 2016 an, dia hanya mengajar 4 orang pemuda. Untungnya, dia dikaruniai kesabaran yang teramat, yang terus menjaga kehidupan surau kecil ini agar tetap aktif.

"Para pemuda ini kasihan. Mereka ingin mendalami dan fasih membaca Al-Qur'an tetapi tidak ada yang mengarahkan. Jadi, harus ada turun tangan untuk mengajari mereka," katanya ketika saya temui di rumahnya yang tak terlampau jauh dari surau.

Seperti surau-surau yang lain, di hari-hari tertentu saat bulan Ramadhan, juga mengadakan acara buka bersama. Yang sebelumnya sudah diawali dengan khataman Al-Qur'an. Tokoh dan tetua desa juga turut hadir. Yang menjadi kesukaan saya tentang surau ini ialah para pengurus dan yang senantiasa mengaji di surau ini mempunyai bacaan Al-Qur'an yang indah. Sangat bagus. Telinga yang mendengarkan menjadi kerasan.

Itulah secuil kehidupan di surau yang biasa orang memanggilnya dengan Cangkring Ireng. Sebuah surau sederhana dengan detail-detail yang sederhana pula. Bagi saya, surau ini menebarkan beberapa pelajaran yang kelak akan berguna. Juga jangan lupakan para murid yang mengaji di surau tersebut. Beautiful. Salam hangat and happy fasting.

VIDEO PILIHAN