Pringadi Abdi Surya
Pringadi Abdi Surya Penulis

Lahir di Palembang. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Instagram @pringadisurya. Catatan pribadi http://catatanpringadi.com Instagramnya @pringadisurya dan Twitter @pringadi_as

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

5 Hikmah Ramadan di Masa Pandemi

14 April 2021   11:05 Diperbarui: 14 April 2021   11:09 358 11 4
Lihat foto
5 Hikmah Ramadan di Masa Pandemi
Sumber: Profesi UNM

Setahun lebih sudah pandemi berjalan. Di situlah aku menyadari bahwa pandemi ini tidak pernah memilih korban. Siapa saja yang lengah bisa terkena. Aku pun jadi menyadari betapa dekatnya manusia dengan kematian.

Ya, hal yang paling jauh adalah masa lalu. Hal yang paling dekat adalah kematian. Dengan menyadari itu, dikatakan bahwa mengingat mati adalah salah satu cara melembutkan hati. Dengan mengingat mati, akan menghancurkan ketamakan terhadap duniawi. Kemarin, salah satu rekan kerjaku berpulang lebih dulu. Covid-19 merenggut senyumnya dari mata kami semua.

Dalam doaku belakangan, rasa takut akan kematian itu ada, dan berharap bisa disampaikan ke bulan Ramadan. Aku sangat ingin mengubah diri menjadi manusia yang lebih baik pada Ramadan kali ini. Aku merasa Ramadan tahun lalu aku gagal, terbukti dengan apa yang terjadi sebelas bulan kemudian, aku tidak begitu banyak berubah. Dari pelajaran itu, ada beberapa hal yang ingin sekali kulakukan pada Ramadan tahun ini.

Pertama, tentu saja memperbanyak ibadah. Tahun lalu, ibadahku terasa sangat kurang. Tahun ini, kutargetkan harus bisa tilawah hingga khatam 30 juz. Selain itu, tidak ada salat wajib yang lalai dikerjakan. Salat tarawih pun kalau bisa setiap malam (meski dari rumah). Waktu yang sudah diberi oleh Allah harus kupergunakan sebaik mungkin sesuai tujuan penciptaan. Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Kedua, memperbanyak quality time bersama keluarga. Aku menyadari sebagai lelaki keegoisan itu nyata. Bekerja dari rumah malah jadi mengabaikan keluarga. Dekat di mata, jauh di hati. Pada satu titik, tidak ada yang lebih berharga dari keluarga. Tahun lalu, pikiran itu belum bisa diatur sedemikian rupa sehingga banyak riweh sana-sini, tidak jelas. Ramadan kali ini, memperbanyak aktivitas bersama keluarga harus dilakukan. Seperti salat berjamaah. Nonton bareng. Bacain buku cerita. Main petak umpet. Apa pun.

Ketiga, perbanyak muamalah, jauhi dosa-dosa sederhana. Media sosial bikin tergoda buat julid. Misalnya ada seorang artis hijrah yang menceritakan Raja Arab baru-baru ini. Informasi yang dia beri keliru. Mau nimbrung, eh harus tahan diri. Lihat kelucuan-kelucuan republik di ini yang tak ada habisnya juga harus menahan diri. Godaan pasang backlink di blog, eh ternyata terafiliasi dengan situs judi... Huff. Sebaliknya, muamalah harus diperbanyak. Silaturahmi dengan tetangga. Infak dan sedekah.

Baru-baru ini kubaca sedekah terbaik dalam bentuk makanan dan pada hari Jumat. Kayaknya, mau mencoba belajar bersedekah makanan buat berbuka gitu. Semoga rejekinya ada. Apalagi di bulan Ramadan, pahala dilipatgandakan. "Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan." Kemudian Rasulullah menjelaskan: "Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya." (HR. Muslim no.1955)

Keempat, menjaga kesehatan tubuh. Buat sebagian orang, puasa bukan mengistirahatkan kinerja pencernaan, malah membebaninya dengan makanan-makanan tidak sehat. Aku berkomitmen ingin menjaga kesehatan tubuh karena setahun ini gagal lagi. Padahal sempat hampir berhasil tatkala menjaga pola makan yang berefek pada penurunan berat badan dari 96 kg menjadi 82 kg dalam 6 bulan. Namun, 6 bulan berikutnya alamakjang. Sekarang kembali ke 90 kg. Karena itu, puasa kali ini sekalian buat jadi momentum menjaga kesehatan tubuh dengan pola makan yang benar dan didukung dengan berolahraga yang teratur.

Kelima, meningkatkan kreativitas. Tanpa kusadari, aku sudah lama tidak rutin menulis. Kemampuanku menurun drastis. Ramadan ini juga kujadikan momentum untuk merutinkan kerja kreativitas. Salah satunya menulis... yang salah satu kiatnya adalah dengan mengikuti Samber THR di Kompasiana. Semoga saja konsistensi dalam sebulan ke depan bisa kujalani. Mana tahu kan... emas murni itu jatuh ke tangan. Aamin.

Kira-kira kelima hal itulah yang menjadi pembelajaran utama dari tahun lalu yang harus kulakukan dengan komitmen pada Ramadan kali ini. Doakan ya, teman-teman!

VIDEO PILIHAN