Hety A. Nurcahyarini
Hety A. Nurcahyarini Relawan

NGO officer who loves weekend and vegetables

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Puasa: Children See, Children Do

2 Mei 2021   21:03 Diperbarui: 2 Mei 2021   21:06 463 3 0
Lihat foto
Puasa: Children See, Children Do
Olah pribadi Canva.com

Setiap orang dewasa yang memeluk agama Islam dan saat ini menjalankan ibadah puasa pasti punya pengalamannya masing-masing saat dulu pertama kali mencoba berpuasa. Bapak ibunya pasti juga punya peran besar dalam mencoba segala upaya. Ada yang diiming-imingi hadiah, ada yang cukup diberi semangat, bahkan ada yang dipermudah dengan boleh berbuka kalau udah enggak kuat. Bagaimana dengan kamu?

Dulu, awalnya, mama saya membolehkan saya berpuasa dengan metode tiga kali makan, yaitu sahur, makan siang (dengan patokan adzan dzuhur), dan buka puasa. Juga, diselang-seling untuk melatih ketahanan, sehari puasa full, hari berikutnya puasa dengan tiga kali makan, begitu seterusnya sampai enggak sadar, tiba-tiba sudah bisa puasa full layaknya orang dewasa. Tapi, pertemanan juga mempengaruhi saya dalam berlatih puasa. Ada rasa gengsi, saat tiba-tiba teman saya memuji Buku Kegiatan Ramadan saya yang tercentang full di bagian puasa Ramadan. Teman saya bertanya, "Kamu hebat ya, sudah bisa puasa full." Dengan polos, saya menjawab, "Enggak kok, ini kadang-kadang aku puasa tapi pas adzan dzuhur makan, lalu lanjut puasa." Teman saya sontak berkata, "Itu namanya bukan puasa kaliiiii. Puasa itu makannya sahur dan buka puasa aja." Jadi, berarti saya puasanya nggak terhitung 30 hari dong, batin saya. Sejak saat itu, ucapan teman saya seperti jadi motivasi biar saya kuat puasa full seharian. Saya kuat-kuatin karena saya terlanjur malu. 

Seingat saya, bagian yang paling menantang adalah menahan rasa haus. Saya terlalu banyak bermain bersama teman-teman. Jadilah, di siang hari, saya seperti kehabisan baterai. Lemas. Kalau sudah begitu, mama hanya mengingatkan saya untuk enggak banyak bermain di luar (lari-lari ke sana-ke mari) bersama teman-teman. Apalagi, saat matahari sedang terik-teriknya. Selain itu, mama juga mengingatkan saya untuk semangat sahur dan makan yang banyak. 

Kini, setelah dewasa, saya jadi bersyukur dulu ada orang terdekat yang mengajari saya berpuasa. Berikut beberapa catatan berdasarkan pengalaman personal saya saat akan mengajarkan anak-anak berpuasa. 

Berikan dasar informasi mengapa harus puasa

Informasi ini penting sebagai dasar untuk membangun sebuah kebiasaan pada anak-anak, terutama dasar agama, ya. Dulu, saya mendapatkan pengetahuan agama dari sekolah lewat pelajaran agama, Taman Pendidikan Alquran (TPA) di dekat rumah, dan majalah Aku Anak Soleh yang dibelikan mama. Walaupun tingkat pengetahuan agama di keluarga saya biasa-biasa saja, paling enggak tiga sumber tersebut membantu saya untuk mengenal ibadah-ibadah dalam agama. 

Bangun kebiasaan di keluarga

'Children see, children do'. Anak adalah peniru orang dewasa yang sangat mahir. Saat anak-anak melihat orang dewasa di sekelilingnya berpuasa, anak akan termotivasi untuk ikut berpuasa juga, walaupun mungkin belum sempurna dan masih dalam rangka belajar. Anak bisa diajak saat anggota keluarga sedang sahur atau berbuka puasa. Sehingga, ini bisa menjadi sebuah kebiasaan baru bagi anak untuk memahami bahwa ayah, ibu, dan saudaranya sedang berpuasa.

Ajak anak melihat lingkungan di luar rumah

Saat kebiasaan di tengah keluarga sudah terbangun, ajak anak untuk melihat sekelilingnya, misal di lingkungan rumah di mana ada salat tarawih di masjid, pengumpulan zakat fitrah, kegiatan takbiran, kegiatan buka puasa bersama, pengajian, dan sebagainya. Harapannya, anak-anak jadi tahu bahwa yang berpuasa tidak hanya dia dan keluarganya saja, tapi juga orang lain. Dulu, orang tua saya membebaskan saya untuk ikut berbagai kegiatan yang diinisiasi oleh remaja masjid di sekitar rumah. Dari sana, saya jadi punya banyak teman baru yang memotivasi saya untuk belajar berpuasa.

VIDEO PILIHAN