Manda Gloria
Manda Gloria Petani

"Menulislah! Untuk perubahan."

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan

Jejak Raya di Tengah Pandemi Corona

13 Juni 2020   08:18 Diperbarui: 13 Juni 2020   08:24 10 2 1
Lihat foto
Jejak Raya di Tengah Pandemi Corona
20200613-080113-5ee42a77097f362e69044bf2.jpg

Oleh: Kunthi Mandasari

Tak terasa hari raya idulfitri telah berlalu. Namun lonjakan penderita virus Corona justru semakin meningkat. Kasus Corona di RI bertambah sebanyak 979 kasus pada hari ini. Sehingga total pada 11 Juni, jumlah kasus Corona di Indonesia ada sebanyak 35.295 kasus (m.detik.com, 11/06/2020).

Hal ini tentu mengingatkan pada sejumlah kebijakan yang melonggarkan PSBB. Mulai dari penggunaan istilah mudik dan pulang kampung yang membuat bingung. Kembali beroperasinya moda transportasi yang membuat bandara penuh sesak dengan mengabaikan pysical distancing, hingga menjadi trending. Pusat perbelanjaan kembali dibuka dan ramai-ramai didatangi pengunjung. Dengan alasan beragam, mulai dari berbelanja baju baru, gadget baru dan aneka keperluan yang sebenarnya tidak mendesak dengan banyak pelanggaran protokol kesehatan.

Sedangkan tempat ibadah harus ditutup rapat karena takut menjadi tempat penularan wabah. Padahal masjid merupakan salah tempat istimewa. Masjid adalah tempat terbaik yang ditinggikan kalimat tauhid di dalamnya dan merupakan tempat ditunaikan kewajiban yang paling agung setelah dua syahadat. Lagi dan lagi kaum muslim harus mengerti. 

Padahal diluar sana banyak orang yang berusaha patuh di rumah saja agar Corona segera berlalu, bahkan para petugas medis yang kini berjuang pun harus bergelut dengan kematian yang siap mengancam. Sedangkan mereka juga ingin merasakan hal yang sama, yaitu berpuasa dengan normal dan lebaran bersama keluarga. Namun ketika wabah belum berakhir, mungkinkah keinginan sederhana ini bisa terwujud?

Rasa empati seolah telah mati tergerus oleh ketamakan diri. Ketika nafsu dijadikan pemimpin dalam mengambil keputusan, akan selalu melahirkan berbagai kerusakan. Karena manusia memiliki sifat tamak yang tak ingin terkalahkan dan selalu merasa kurang. 

Oleh karenanya butuh panduan agar selamat baik di dunia maupun di akhirat. Panduan itu berupa syariat Islam yang tertuang dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur'an. Ramadhan juga menjadi momentum untuk mengamalkan isi Al-Quran.

Esensi bulan Ramadhan sendiri ialah melatih kesabaran dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Ketika hal ini mampu dilakukan lebaran menjadi momen untuk merayakan kemenangan. Menang karena mampu menundukkan hawa nafsu di bawah syariat Islam. 

Ketakwaan seharusnya senantiasa terjaga. Meskipun Ramadhan telah berakhir, ketakwaan semestinya menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya dalam skala individu, tetapi juga dalam skala masyarakat dan negara yang tercermin dari kebijakannya. Hanya mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw., yaitu sesuai dengan Al-Qur'an dan as-sunnah

Lantas sudahkah kita menjadikan Al-Qur'an dan as-sunnah sebagai panduan hingga menghasilkan ketakwaan? Sehingga lebaran bisa menjadi momen kemenangan. Atau justru sebaliknya, menjadi orang yang merugi karena bulan ampunan telah pergi namun dosa masih menggunung tinggi. Tau kah kalian, dosa apakah itu? Yaitu menerapkan hukum selain hukum Allah Swt.

Sayangnya, momentum bulan Ramadhan dan hari lebaran bagi sebagian besar orang hanya dimaknai sebagai rutinitas belaka. Tanpa ada esensi yang bisa diambil darinya. Tak heran, ketika memasuki sepuluh hari terakhir justru disibukkan dengan agenda berbelanja. Meskipun dalam kondisi wabah Corona. Hasilnya, kurva yang seharusnya segera melandai kini melonjak lagi. Hal ini seharusnya menjadi bahan instrospeksi diri. Jika kita tidak segera berbenah, lantas mau kapan lagi? Wallahu'alam bishshawab.[]