Lesterina Purba
Lesterina Purba Guru

Hidup hanya sebentar perbanyaklah kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan

[Fiksi] Kado Lebaran Aini

23 Mei 2020   05:50 Diperbarui: 23 Mei 2020   06:07 15 14 6

"Bunda, lihat bulannya indah kecil sebagaian tertutup hitam ditaburi bintang," Aini setelah sahur duduk di teras depan rumah. Menikmati indahnya bulan sabit. Mengharapkan kepulangan ayah tercinta yang sudah beberapa bulan tidak bisa pulang karena wabah yang melanda negeri tercinta. 

"Itulah pertanda bulan puasa berakhir anakku, hari kemenangan buat kita  yang menunaikan ibadah puasanya." Bunda menjelaskan pada Aini arti dari bulan sabit pada bulan Ramadhan. Aini seorang anak yang cantik dan pintar seusia dia berumur sepuluh tahun.

Ayah Aini seorang dokter di rumah sakit tidak begitu jauh dari rumah tempat tinggal mereka. Tapi semenjak virus Corona menyebar sang ayah tidak bisa pulang ke rumah. Hanya bisa di luar pagar. Setiap kali Aini ingin berlari dan memeluk ayahnya jika datang ke rumah mengambil sesuatu. Hanya linangan air mata, ayah Aini melarang mereka mendekat. Aini selalu menangis bila sang ayah mampir hingga sang Bunda merasa sedih. 

"Bunda, apakah ayah lebaran pulang? Bunda bilang Bila Aini rajin puasa, ayah bisa pulang lebaran ini.

"Seiring doa dan puasamu Putriku, ayahmu pasti bisa pulang. " Bunda berusaha menenangkan Aini hampir saja anak-anak matanya keluar. Bunda Riami berusaha menahan air matanya.

"Kata Bunda, jika Aini puasa penuh dan tidak bolong serta selalu berdoa pasti ayah bisa berkumpul lagi dengan kita lebaran ini, " Aini mulai menangis tak berapa lama tangisnya tambah kencang mulai sesunggukan. 

Kerinduan yang mendalam, tak ada jembatan yang kokoh agar bisa berpelukan dengan ayahnya. Hanya jurang yang menganga terhampar, entah sampai kapan bisa dijembatani agar bisa dilewati.

"Putriku Aini, tiada doa yang tidak didengar Allah, ada yang segera diberikan dan ada yang entah berapa lama lagi di berikan. Tetaplah berdoa dan berusaha, berharap Allah pasti memberikan permintaan kita asal kita yakin dan percaya. Bunda Riami berusaha tetap tegar menenangkan Aini putri semata wayangnya.

"Aini kangen ayah, Aini tidak perlu baju baru, sepatu baru, mukena baru, asal ayah bisa pulang merayakan lebaran bersama. Kado lebaran Aini hanya ayah saja Bunda," Aini masih sesunggukan mengarahkan kepulangan sang ayah.

"Cup ... Cup ... Cup... Putriku, kita hanya bisa berdoa dan berharap Tuhan yang menentukan.

" Bunda, kan ayah bisa pulang walaupun tidak berpelukan asal bisa bersama merayakan lebaran dan ayah bisa memakai baju anti virus itu agar kita tidak kena." Aini masih penuh harap, memberikan ide pada sang bunda.
"Nanti coba Bunda hubungi ayah ya, apakah bisa seperti itu pulang ke rumah," Bunda masih memeluk Aini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2