KOMENTAR
Kisah Untuk Ramadan

Jiwa Besar, Memaafkan

16 Mei 2021   07:14 Diperbarui: 16 Mei 2021   07:19 168 1


Di Thaif, Rasulullah saw dikejar, diusir, dilempari batu hingga berdarah. Itulah sebuah hari yang lebih menyedihkan dibandingkan perang Uhud saat pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib dicincang, hati dan jantungnya diambil. Rasulullah saw berlari dan berjalan dengan pikiran tak karuan. Tiba-tiba datanglah Jibril untuk menghibur dan memberikan bantuan.

Jibril berkata, "Wahai Muhammad saw, ini malaikat penjaga gunung telah diturunkan oleh Allah untuk melakukan apa saja yang akan engkau perintahkan." Malaikat penjaga gunung berkata, "Wahai Muhammad saw, jika kamu mau aku timpakan dua gunung ini, gunung Merah dan Abi Qubais, kepada penduduk Thaif, niscaya akan aku lakukan."

Malam Penjaga Gunung melanjutkan, "Akan aku giling mereka hingga hancur." Rasulullah saw menjawabnya, "Sesungguhnya, aku berharap Allah akan melahirkan dari keturunan mereka orang-orang yang akan memikul agama ini." Akhirnya, setelah futuh Mekah dan perang Hunian, penduduk Thaif berbondong-bondong memeluk Islam. Inilah buah memaafkan.

Imam Ahmad bin Hambal disiksa dengan sangat pedih dan kejam di era khalifah Makmun dan Mu'tashim. Siksaan yang membuat tubuhnya melemah. Siksaan dengan cambukan di tengah padang yang terik walaupun tengah berpuasa. Siksaan yang membuat cambuknya hancur dan sang algojo  kelelahan.

Disaat seperti itu, beliau masih mendoakan kebaikan bagi para khalifah. Berkat keteguhannya akidah umat Islam terjaga. Tidak ada pertumpahan darah dan perpecahan. Hingga akhirnya, diangkatlah khalifah baru yang mengikuti manhaj Ahlus sunnah wal jamaah. Jiwa besar selalu memohonkan kebaikan bagi para yang memusuhinya.

Muhammad Faraghli seorang pemimpin sukarelawan rakyat Mesir untuk melawan kekejaman Yahudi Israel atas rakyat Palestina di tahun 1948. Dia pun memimpin penyerbuan ke terusan Suez yang dikuasai penjajahan Inggris. Hingga akhirnya Inggris hengkang dari Mesir. Apa yang didapatkan dari seluruh perjuangannya?

Presiden Mesir Gamal Abdul Naser menyeretnya ke penjara, menyiksa dan menghukumnya di tiang gantungan. Saat berada di tiang gantungan dia berkata, "Ya Allah, ampuni dosaku dan dosa-dosa seluruh orang yang pernah memperlakukanku dengan perlakuan buruk." Jiwa yang besar tidak mau membalas dendam untuk kepentingannya sendiri.

KEMBALI KE ARTIKEL