KOMENTAR
Kisah Untuk Ramadan

Selamat Lebaran bagi Polri dari Kami di Labuan Bajo

24 Mei 2021   20:15 Diperbarui: 24 Mei 2021   20:40 560 2

Manggarai Barat, Komodo Lawyers Club,-Ucapan itu untuk yang merayakannya, Karena kita berada dalam kebersaman di dalam bingkai Pancasila NKRI, maka sukacita lebaran itu bermakna positif bagi seluruh insan bangsa, termasuk kami warga penghuni Labuan Bajo, kawasan pariwisata super premium ini dengan ikon utama biawak Komodo itu.

Mengapa ucapan untuk Polri? Karena kami punya cerita kehadiran institusi ini di sini.

Tulisan ini hanyalah narasi tentang apa yang kami alami di kawasan ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini. Selain itu kiranya sebagai dorongan agar institusi ini bersih dalam proses penegakkan hukum.

Dan ini yang penting, bahwa pelayanan penegakkan hukum itu benar-benar pakai hati, bertujuan demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana sila kelima dari Pancasila itu.

Cerita itu sebagai berikut.

Teman kami di Labuan Bajo bernama Charles, suatu malam bulan lalu ia mengunjungi saya dan Pa Asis Deornay di kantor KLC (Komodo Lawyers Club) Labuan Bajo di Jl.Lamber Kape.

Saya sekjend dan Pa Asis Deornay ketuanya, Kami ngobrol tentang Labuan Bajo kawasan obyek wisata super premium bla bla bla.

Di akir obrolan ia sharing pengalamannya dengan seorang teman dari Jakarta yang sudah dua bulan berada di sini, Ia lanjut bercerita.

Suatu ketika saya diajak makan malam ke Marina bay di kawasan pantai oleh seorang sahabat di Labuan Bajo. Ia berasal dari Jakarta. Ia sekeluarga sudah 2(dua) bulan tinggal di sini.

Mengetahui rumah asalnya di Bintaro Jakarta, saya pastikan teman ini bukan dari desa, Itu kawasan elit yang sebagian besar dihuni oleh orang penting di ibukota.

Kami bertiga, Saya pergi ke kasir untuk pesan tiga porsi. Yah,..sebagai orang Manggarai, begitulah saya bersikap sebagai tuan rumah.

Teman ini bilang, 'pesan 6(enam), 3 (tiga)nya dibungkus.

Dalam bahasa komunikasi yang sopan, itu artinya teman Jakarta ini nanti yang bayar bill.

Saya feeling begitu, Saya juga menduga bahwa 3 bungkus itu rupanya mau dibawa pulang untuk istri dan anaknya di rumah.

Waktu itu sekitar jam 20.00 malam. Situasi di dalam resto Marina Bay tidak begitu ramai, tapi kendaraan di jalan raya masih lalulalang di luar.

Pelayan antar makanan ke meja kami, Teman Jakarta merogoh dompetnya dan bayar.

Sebelum kami makan, teman ini bilang kepada saya, 'sebentar... '. Ia mengambil 3 kotak bungkusan itu, berjalan pergi ke luar ruang makan. Saya melihat saja, Saya pikir mungkin di luar itu sudah ada suruhan dari rumahnya untuk bawa makanan itu ke Istri dan anaknya.

Ternyata dugaan saya meleset, Ada apa? Di luar sana ada seorang bapak paruh baya sedang duduk di samping tong sampah, rupanya ia sudah selesai mengais isi tong sampah itu.

Ia beristirahat, Teman ini menghampirinya, ngobrol sejenak, lalu ia menyerahkan 3 bungkus nasi itu kepadanya dengan gesture sopan, bungkuk.

Tukang sampah itu menerimanya, Mereka berpelukan, tidak hanya itu, teman Jakarta ini menggandeng tangannya, antar bapak itu menyebrangi jalan.

Lalu teman ini ini balik ke meja, Kami lanjutkan santap malam. Ia biasa-biasa saja, cool, tidak ada expresi bahwa ia telah melakukan sesuatu. Penampilannya sejuk. Bahan obrolan kami malam itu biasa-biasa saja.

Saya mencoba menjelaskan budaya Manggarai yang unik, dan tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi di kawasan ini. Tapi terus terang, saya jadi grogi.

Kenapa? Apa yang diperbuat teman ini barusan terhadap bapak tukang sampah tadi ibarat seberkas pukulan sinar memancar ke hati saya yang selama ini melihat 'bapak tukang sampah' di emperan pertokoan dengan sebelah mata.

Sinar itu bernama kasih sayang, Teman ini tampak tahu betul bahwa tukang sampah itu adalah sesama manusia yang mempunyai hati yang membutuhkan kasih sayang.

Teman ini memiliki sinar itu dan ia berbagi. Pintu hati saya serasa di-doorr, terbuka. Saya melihat sebuah dunia baru, dunia super di kawasan pariwisata super premium.
"Oih.... terharu saya mendengarnya pak"
"Saya juga. Saya disadari bahwa kita manusia ini sesungguhnya sama di hadapan Tuhan Sang Maha Kasih Sayang itu. Hanya bedanya adalah tugas profesi masing-masing, Beda nasib saja.

Jika kita berpikir positif, hati kita akan terbuka untuk menyadari hal-hal kecil tetapi powerfull dan nyaman hidup dalam kebersamaan. Pasti maju. Karena sesama mendoakan kita.

Teman itu berkata begitu Pa Jon dan Pa Asis "
"Luar biasa. Saya setuju banget!"
"Ada cerita lagi. Teman itu share malam itu saat awal ia bekerja di Labuan Bajo"
"Ah ya .. tentang apa?"
"Teman ini dipercayakan sebagai Kepala di sebuah instansi publik.

Ia orangnya disiplin, Jam 7-8 pagi ia masuk kantor, Ia melihat seorang bapak tua, dari desa tampangnya, sedang duduk di bangku tempat tunggu di halaman kantor.

Banyak juga orang duduk di situ. Jam 10.00 Ia keluar ruangan, tugas keluar kantor, Ia melihat bapak tadi masih duduk di situ. Yang lainnya wajah baru.

Ketika ia balik sekitar jam 13.00, bapak itu masih terlihat duduk di situ, Temannya di ruang tunggu itu wajah baru lagi, Lalu ia menghampiri bapak yang satu itu, tanya.

Ternyata bapak itu sedang memenuhi janji panggilan stafnya untuk sebuah urusan, Janji bertemu jam 08.00 pagi. Bapak itu bilang bahwa ia dipesan suruh tunggu.

Teman Kepala ini jatuh iba. Ia dikritik dalam diam, Dari bahan ini ia lalu melakukan briefing ke seluruh staf bahwa tugas kita ini adalah melayani rakyat tanpa pandang bulu, kaya miskin, dan doa orang-orang seperti itulah yang membuat kita ini maju dan tetap utuh berbangsa.

Merekalah orang utama yang harus kita layani di insitusi publik ini, dan ini tidak enak saya ceritakan ya Pa Jon. Ia tidak cerita bagian ini ke saya, Yaitu saya menduga saja bahwa Teman ini belikan makanan siang dan kasi sangu untuk bapak itu!".

"Hah.... terharu saya mendengarnya".

Berikut ini saya amat terkejut campur kagum. Ia bilang kepada saya:
"Pa Jon mau tahu siapa teman yang saya ceritakan ini?".
"Iya..maulah ! ".
"Dia itu Kapolres Manggarai Barat saat ini, Pak Bambang, lengkapnya AKBP Bambang Hari Wibowo, S.I.K., M.Si.".

Waktu halal bihalal Idhul Fitri baru-baru ini kami pengurus inti KLC memberanikan diri pergi ke rumahnya, Kami disambut ramah.

Saat itu ada juga Romo vikjen (vikaris jendral) Manggarai Barat, Keuskupan Ruteng, Juga ada beberapa rohaniwan, Ngobrol santai.

Ibu keluarga menghidangkan kami santapan malam. Yang lebih dari itu adalah obrolan sejuk.

Kami melihat harapan yang akan menjadi nyata bahwa kawasan obyek pariwisata super premium ini akan terwujud kesuperannya karena dihuni oleh manusia yang berkualitas super pula.

Pak kapolres juga bersedia ketika Pa Asis memintanya untuk berkenan menjadi dewan penasihat Komodo Lawyers Club (KLC) Labuan Bajo. Peranan kepribadiannya amat dibutuhkan dalam penegakan hukum di kawasan ini sehingga kehidupan dalam kebersamaan tetap utuh dalam bingkai Pancasila.

Dan masih hangat, "Selamat menikmati sukacita Lebaran bagi seluruh insan Polri yang merayakannya di Kabupaten Manggarai Barat, NTT dan seluruh Indonesia.

Rakyat Indonesia ada bersama POLRI dalam menjaga keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila ini.

Di saat negara ini tercemar oleh perlakuan kelompok manusia yang tidak paksi hati dan yang main hakim sendiri, rakyat Indonesia standby your side dalam melakukan penegakkan hukum di negara ini.

Labuan Bajo, 21 Mei 2021

Penulis : Jon Kadis,SH
Sekjen KLC Labuan Bajo

Editor : Pedi PatySelamat Lebaran bagi POLRI dari KLC di Labuan Bajo

KEMBALI KE ARTIKEL