KOMENTAR
Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Meneladani Kesederhanaan Khalifah Ali bin Abi Thalib

3 Mei 2021   15:07 Diperbarui: 3 Mei 2021   15:16 1143 8

Buku-buku sejarah membawa kita mengenal para sahabat nabi. Mereka adalah para pemuka yang hidup sezaman dengan Nabi Muihammad SAW. Satu diantara sahabat nabi itu adalah Ali bin Abi Thalib.

Ali adalah putra paman nabi yang bernama Abi Thalib. Sang paman begitu besar jasanya bagi perkembangan dakwah serta ajaran yang dibawa nabi yaitu Islam. Abu Thalib adalah seorang pemuka Suku Quraisy yang disegani dan dihormati. Abu Thaliblah yang melindungi dan membela nabi. Kedudukannya yang tinggi dan keberaniannya yang luar biasa dipersembahkan untuk melindungi perkembangan Islam.

Dikisahkan pemuda Ali bermaksud mengakhiri masa lajangnya. Ia pun telah memiliki wanita pujaan yang ingin dijadikan istri. Namun, ia tidak memiliki keberanian untuk melamar sang pujaan hati. Ia merasa malu karena wanita itu tak lain Siti Fatimah, putri kinasih Rasulallah SAW.

Nabi yang mulia mengetahui keadaan ini. Nabi pun memanggil pemuda Ali untuk menghadapnya. Sang pemuda teramat malu. Ia duduk di hadapan nabi dengan kepala merunduk menghadap tanah. "Hai Ali, sedari tadi engkau merunduk saja. Sepertinya ada burung bertengger di kepalamu", kata Rasulallah menggoda. Ali hanya tersenyum tersipu malu.

Ali pun mengutarakan keinginannya untuk memperistri Fathimah. Rasul menerima pinangan Ali yang juga sepupunya itu. Hari pernikahan pun disepakati. Nabi bertanya pada Ali perihal mas kawin yang akan ia bawa.

"Mas kawin berupa apa yang akan kau bawa di hari pernikahanmu?" tanya nabi.

"Aku memilki baju besi, pedang, dan unta" jawab Ali

Selanjutnya nabi memberi nasihat bahwa pedang begitu diperlukan oleh Ali dalam perjuangan membela Islam. Begitu pun dengan unta. Hewan itu diperlukan untuk membantu Ali mengambil air bagi keluarganya. Akhirnya nabi hanya meminta baju besi sebagai mas kawin untuk diberikan pada putrinya.

Pernikahan agung itu pun terlaksana. Siti Fathimah Az Zahra, putri nabi yang mulia, dipersunting Ali bin Abi Thalib. Pasangan suami istri ini hidup dengan bahagia meski jauh dari keberlimpahan harta. Mereka tinggal di pondok sederhana, tak jauh dari kediaman nabi.

Keluarga Ali dikaruniai dua anak lelaki yaitu Al Hasan dan Al Husain. Kedua anak ini tumbuh sebagai anak yang tampan dan sehat. Rasulallah begitu mencintai keduanya. Rasul sering berjalan merangkak dan di punggunnya duduk Al Hasan dan Al Husain.

"Lihatlah, betapa gagah dua penunggang kuda ini", kata Rasulallah. Sahabat Abu Bakar Shidiq yang menyaksikan peristiwa ini mengangguk disertai senyuman.

Pada suatu hari, Al Hasan dan Al Husain menderita sakit. Sayidina Ali dan istrinya bernazar bila kedua putra mereka sembuh, mereka akan puasa selama tiga hari. Atas perkenan Allah, mereka sembuh. Dan nazar pun dilaksanakan oleh keduanya.

Tak banyak makanan yang mereka miliki. Mereka hanya memiliki sepotong roti sebagai bekal berbuka. Saat hendak berbuka puasa pada hari pertama, pintu rumah mereka diketuk oleh seorang perempuan miskin. Ia memohon untuk diberi makanan. Roti itu pun diberikan oleh Siti Fathimah. Hari itu mereka tidak berbuka, karena ketiadaan makanan.

Hal yang sama terjadi pada hari kedua. Sesaat menjelang berbuka, pintu rumah mereka diketuk seseorang. Di balik pintu berdiri anak yatim yang kelaparan. Maka makanan untuk berbuka pun diberikan. Malam itu Sayidina Ali dan istrinya tidur dengan perut lapar.

Di hari ketiga saat melaksanakan nazar, pintu rumah mereka diketuk lagi. Menjelang berbuka itu, seorang tawanan meminta bantuan juga. Maka seperti dua hari sebelumnya, makanan untuk berbuka pun diserahkan. Sayidan Ali dan istrinya berpuasa nazar tanpa sempat menikmati hidangan berbuka.

***

Begitu agung hikmah yang kita petik dari kisah di atas. Sayidina Ali dikenal sebagai khalifah keempat. Satu kedudukan yang demikian tinggi. Kedudukan khalifah kurang lebih sama dengan kepala negara dan panglima di masa kini. Meski demikian, Khalifah Ali dan keluarganya hidup dengan sangat sederhana. Kesan gaya hidup yang mewah dan gemar berpoya-poya sangat jauh darinya.

Kesederhanaan Khalifah Ali telah dikenal secara luas. Fragmen kehidupan mereka di atas menggambarkan kesederhanaan yang luar biasa. Dalam lanjutan kisah itu, disebutkan bila gandum yang mereka olah menjadi roti itu berasal dari upah yang di berikan oleh seorang Yahudi. Sebelumnya, Ali berkhidmat bekerja seharian pada keluarga Yahudi tersebut.

Pelajaran yang kita petik berikutnya, tak ada alasan bagi kita untuk tidak berderma. Memberi bantuan kepada orang yang kesusahan sangat dianjurkan, bahkan mendekati wajib hukumnya. Keluarga Imam Ali bahkan "menggadaikan" keselamatan jiwa mereka demi menolong orang lain yang kesusahan.

Berkat kedermawanannya, Imam Ali mendapat gelar "Imamul Masakin", pemimpinnya orang miskin. Dari kisah hidup Sahabat Ali, kita memetik mutiara hidup yang berkilau. Mari kita mengamalkan kesederhanaan dan kedermawanan dari keluarga agung itu.

KEMBALI KE ARTIKEL