Kartika Kariono
Kartika Kariono Pengacara

Mengalir mengikuti kata hati dan buah pikiran

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Cintai Dulu Masjid di Dekatmu

20 Mei 2018   06:58 Diperbarui: 20 Mei 2018   12:50 1482 5 5
Lihat foto
Cintai Dulu Masjid di Dekatmu
Pandangan pagi ini, main bola asyik di lapangan masjid (Dok.Pribadi)

Saya pernah berkeinginan jelajah masjid bersejarah dan masjid keren di Palembang bersama Davie, putra saya. Seperti Masjid Agung, Masjid Ki Merogan di Kertapati, Masjid Lawang Kidul dengan berbagai cerita kesejarahannya hingga tentang kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam.

Sampai Masjid Cheng Ho di Jakabaring, dia malah menertawakan saya. "Ke Masjid itu untuk Ibadah Nda, bukan buat selfie".

Ha-ha iya juga sih, saya memang seru jika mengunjungi masjid yang jarang saya datangi, seperti masjid H. Bajumi Wahab di Desa Tanjung Sejaro yang setiap tahun dikunjungi, salah satu masjid yang instagramable di mana memang wujud estetika sangat dikedepankan.

Pembangunannya "penuh drama" karena sang arsitek beberapa kali bongkar pasang, menuruti kemauan keluarga yang memang pecinta photografi.
Pertanyaan generik saya tiap tahun berkunjung ke sana "Udah berbuah belum kurmanya?". He he..norak ya. Kan jarang yang tanam pohon kurma.

Banyak yang telah menceritakan keindahannya, bagai oase di tepi jalan lintas sumatra. Cukup searching dengan berbagai aplikasi pencari. Sejak ditegur Davie soal selfi di tempat ibadah, saya jadinya tidak menyimpan foto terakhir. Ya..gitu deh kalo malaikat lagi nempel di dia.

"Makmurkan dulu masjid paling dekat denganmu, baru eksplor masjid lain".

Eh...statement terakhir tersirat deh. Memang dia masih aktif di dua masjid. Mudah-mudahan sampe tua ya. Satu di TPA nya, di Masjid Nurul Iman, berjarak sekitar 800 meter dari rumah . Aktifitas dia  mengaji 3 kali seminggu dan shalat jumat, dimana saat ini dia telah mendapat tugas mengaji ayat-ayat pendek.

Eh..jangan dikira mengaji seperti Qori yang keren atau seperti hafidz cilik dengan gaya ngaji yahud gitu. Dia mengaji biasa aja, yang penting gak gagal paham tajwid. Dimana tiap minggu emaknya selalu dapat catatan dari ustadzahnya baik hafalan atau kelakuan. (Hadew.. ustadzah kok suka pura-pura lupa, itu bocah anak siapa, emaknya masa kecilnya gimana apalagi anak laki-lakinya).

Ehmm...itu akan saya ceritakan bagaimana keseruan saya di masa kecil menjalani puasa di masa kecil (sebagian yang saya ingat). Sedangkan untuk shalat berjamaah seperti Magrib dan Isya , juga terkadang subuh ia melaksanakannya di masjid yang tinggal menyebrang jalan dari rumah. Masjid Nurus Shalihin.

Banyak pembelajaran penting dari masjid ini bagi keluarga kami , dimana Ayah saya telah tinggal di sini sejak tahun 1952 dan Ibu saya sejak tahun 1963. Sehingga sejarah berdirinya masjid sangat diketahui oleh mereka.

Awal masjid ini sebuah mushallah dengan bangunan kayu, berbentuk panggung sekitar tahun 1969-an. Didirikan oleh Bapak Shalihin, yang kami panggil dengan sebutan Abah Yan (Karena Anak pertamanya bernama Sofyan). Beliau bersuku Palembang asli, pindahan dari daerah Tangga Buntung.
Dan dia bukan dari kalangan berpunya,juga tidak berasal dari kalangan alim ulama.

Tanah yang dimilikinya pun tak luas, hanya pas-pasan tetapi dengan ikhlas ia mewakafkan sebagian hartanya untuk membangun rumah ibadah.

Kata almarhum Mbahku, saat itu kampung kami mayoritas suku jawa yang umumnya menganut Kejawen Sapto Darmo (di KTP tertera Islam) dan Etnis Hakka yang menganut Kong Hu Chu (Di KTP tertera Budha).

Sejak awal pendiriannya semangatnya adalah gotong royong, swadana dan swadaya dalam pendiriannya. Tanah tempat berdiri menjadi tanah wakaf.

Cukup lama statusnya sebagai mushallah, sehingga untuk melaksanakan shalat Jumat penduduk kampung kami ke Masjid Darussaid yang berada sekitar 700 meter dari kampung di Jalan Kenten Raya atau secara resmi bernama Jalan Muchtar Prabu Mangkunegara, masjid yang dibangun oleh keluarga berpunya di daerah kami.

Beberapa kali musala dipugar hingga menjadi bangunan permanen, dengan tetap upaya swadana dan swadaya. Jika dulu, semasa menjadi peringatan hari besar Islam dilakukan dengan urunan. membawa potluck masing-masing dari rumah. Untuk dinikmati bersama.

Kampung saya kedaulatan pangannya masih berjaya di era 80-an akhir, jika penganan dari singkong hanya tinggal cabut dari kebun, bahkan ada variasi kacang tanah, kedele dan jagung.

Pun bancaan semacam sedekah bumi diselenggarakan di mushallah kami, jika beruntung maka ayam panggang yang dicubit-cubit untuk dibagi sekampung itu akan kami nikmati dengan sukacita.

Mungkin karena saya masih kecil, sehingga belum pernah terdengar orang yang menunjuk hidung kami sambil berteriak bid'ah. Baik yang memang ibadahnya yahud atau sekedar datang untuk ukut bancaan tidak akan dipermasalahkan, yang penting kebersamaan.

Kajian rutin mingguan mulai diadakan untuk memperdalam pemahaman fiqh di awal 90-an. Sekitar awal 2000-an, mulai terasa kebutuhan akan peningkatan status mushallah menjadi masjid.

Bukan persoalan gerah atau gengsi dengan umpatan orang luar kampung kami yang selalu geleng-geleng kepala membandingkan pembangunan megahnya gereja di sebelah rumah kami dengan mushallah kami yang kecil.

Bagi kami ini hanya soal kebutuhan seiring dengan pertumbuhan populasi kami yang semakin meningkat. Awalnya tetap niat swadaya dan swadana.
Tetapi berdasarkan musyawarah para sepuh, pembangunan masjid pun menerima sumbangan baik perorangan maupun institusi.

Awalnya juga untuk menghindari fitnah, maka setiap minggu jumlah pemasukan dan pengeluaran dilaporkan secara detail dengan di print besar ukuran A0 dan ditempel di 3 titik. Rumah kami (saat itu ada kios kecil, gerbang kampung, dan dinding masjid.

Ada cerita seru di baliknya. Ketika permata, yang merupakan persatuan pemuda gereja di sebelah rumah saya membaca jumlah sumbangan dari institusi mereka.

Bahkan ada yang mengungkapkan merasa malu dengan jumlahnya, dan sangat menghargai ketika kami merasa tidak merasa ternoda menerima sumbangan dari mereka.

Saya tahu beberapa permata  mencari bantuan kepada keluarga besar mereka, terutama yang Muslim untuk membantu pembangunan masjid kami hingga usai.

Banyak nama Hamba Allah ( beberapa penyumbang beda agama tetapi memohon tidak disebutkan ada rasa kuatir akan ada ketersinggungan).
Proyek nekad ini pun berjalan cukup baik, nekad karena beberapa depot bangunan bersedia memberi hutang demi kelancaran pembangunan, tidak ada jaminan apapun memastikan bahwa akan ada dana untuk membayar) tetapi dengan bantuan tangan-tangan orang banyak. Tangan Maha Kuasa memperlancar semuanya hingga diresmikan.

"Memakmurkan masjid itu lebih berat ketimbang membangunnya" itu ucapan ustad kepada kami.

Benar saja, banyak sekali alasan bagi saya untuk jarang ke masjid. Dimulai dari rutinitas di luar ketika majelis taklim hingga alasan perempuan tidak berkewajiban shalat berjamaah di masjid.

Saat ini seringkali ada yang bertanya "Kok masjidnya dipakai untuk kampanye?" ada pertanyaan mengenai hal ini.

Kampung kami adalah jalan alternatif menghindari kemacetan jalan raya kenten sehinga sering dilewati. Pertanyaan ini muncul karena memang ada calon yang menggunakan lapangan masjid kami untuk kampanye dan juga imcumbent yang safari subuh.

Kampung saya bukan kantong suara partai tertentu, jadi saya hanya bisa jawab senyum. Masjid kami yang berada dekat dengan beberapa rumah ibadah seperti kelenteng dan gereja, bahkan telah ada rencana pembangunan vihara.

Sehingga terkadang sering sakit telinga juga jika ada yang mengungkit-ungkitnya. Memang tidak pernah ada perjanjian, mubaligh yang datang ke masjid kami untuk ceramah menyerempet persoalan itu sepertinya tidak diundang lagi, atau setidaknya tidak akan menyinggung lagi. soal mengapa bisa begitu, he he jangan tanya saya. Soal keputusan mengundang siapa dalam acara tertentu kan bukan kompetensi saya. Ada pengurus masjid yang mengurus itu.

Warga kampung kami juga banyak kalangan yang ekonomi yang kurang sejahtera, seringkali (apalagi menjelang lebaran) mendapat santunan dari 2 gereja yang berada di kampung kami. Itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

Sempat beberapa tahun lalu ada ormas Islam yang ikut datang membawa sembako dengan nada berapi-api menyatakan membantu kaum dhuafa di kampung kami, pantang menerima dari jemaah aliran lain.

Semoga ketika mereka tahun ini hadir lagi, memang niat ikhlas membantu, bukan sibuk bandingkan soal bantuan dengan institusi lain.
Lah .. kok curcol panjang.

Entahlah setiap ada pemberitaan teroris ada rasa tetakutan mengoyak kebersamaan di kampung kami. Semoga namanya Masjidnya "Cahaya Orang-Orang Saleh" benar-benar terpatri. Bahwa kesalehan itu dalam makna keikhlasan berserah pada sang kuasa, mencari kebenaran sejati. Bukan mencari-cari pembenaran.

Dokumentasi KOMPAL
Dokumentasi KOMPAL

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN