Giri Lumakto
Giri Lumakto Guru

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Bilik Ghibah di Era Ramadan Informatika

17 Mei 2018   04:47 Diperbarui: 17 Mei 2018   04:57 1290 5 1
Lihat foto
Bilik Ghibah di Era Ramadan Informatika
Blaze Blur by Sebastian Sorensen - foto: pexels.com

Ramadhan buat orang dewasa, tiada ingin diimingi sepeda baru saat Lebaran nanti. Atau juga 'mentahnya', berupa angpau tebal. Masa kecil berpuasa dengan imbalan menjadi sunah. Kini, sebagai orang dewasa menjalankan ibadah tanpa ghibah serasa sulit. Apalagi saat bisik gunjing kau salurkan di posting sosial mediamu. Kata mudah diketik, tapi makna cela sulit hilang.

Kau tahu ghibah mengotori hati. Kau juga faham, ada norma untuk tidak mencela. Entah itu fisik, perbuatan atau perkataan kepada lain orang. Ghibah adalah mencari cela tanpa kau sampaikan maksud dan intonasinya ke penderita.

Konon, di era tanpa sosial media, ghibah diucap diobrolkan bersama temu muka. Jika tiada kawan konspirasi kau temui, pendamlah dalam hati rasa benci. Jika bercerita nanti, kau tambahi bumbu sensasional. Agar kawan bicaramu mendengarkan. Dan dulu, dulu sekali kawan ghibah di bulan puasa sulit kau temui.

Jika kabar obrolan aib sampai ke telinga si penderita. Bisa saja kau dilabrak habis. Namun bermain aman dengan curhat pada konspirator kepercayaan mesti dilakukan. Awali saja ceritamu "Eh ini rahasia kita berdua ya..." atau "Jangan bilang siapa-siapa.."

Namun kini, ghibah menjadi coreng moreng sosial media. Kau bercerita saja di linimasa. Niscaya kau temui satu atau dua teman menyukai postingmu. Lalu jika beruntung, kau temui komentar. Kau sahut komentar teman. Bumbui dengan rasa dendam. Voilaa... kau berghibah. Tanpa perlu menyakiti orang yang kau cela.

Jikapun ia tahu kau menggunjingnya. Cukup kau hapus postingmu. Mudah bukan? Tanpa konfrontasi frontal kau aman dibalik QWERTY. 

Lebih aman dan sederhana, kau bisa bergunjing dengan akun palsu. Dengan topeng-topeng di alam utopis digital. Jadilah kau siapapun dikehendikai. Dan bergunjinglah dengan ria. Seolah-olah tiap kata adalah pelepas rasa tidak suka ke si dia. 

Beruntunglah kau tidak mungkin si penderita ghibahmu tahu. Karena kau bukan siapa-siapa tapi kau siapa-siapa. Hanya akunmu, kamu dan tuhan yang tahu. Mungkin juga si mbah Google. Betapa sulitnya si penderita ghibah untuk tahu dirimu yang palsu. Karena harus bertanya pada Google yang tahu segalanya. Tapi bukan akunmu.

Hei kawan. Mungkin ucapmu menolak mencela di belakang orang. Tapi coba kau tahan  jari-jarimu untuk tidak ghibah di bulan puasa. Jari-jarimu hanya mengetik kata sesuai apa yang kau ingin. Dengan amarahmu. Dengan kebencianmu. Hatimu berteriak menolak. Akalmu berkata ini salah. Tapi emosimu memandu kedengkian di linimasa.

Dalih rasa aman bergunjing di sosmed menjadi alasanmu. Walau esensi kekotoran hati tetaplah sama. Karena bahasa kebencian adalah bahasa universal, baik itu di sosial media. Tiap makna menyuburkan dengki yang kau tanam.

Di bulan suci ala era informatika, kau gembok jemarimu. Gatal rasanya ingin bergunjing di linimasa. Karena dulu bergunjing di belakang seseorang. Kini menggunjing dibuat bilik rahasia berupa akun sosial media. Kau bisa jadi apa saja dan siapa saja. Sindiran bahkan caci maki mudah saja kau ketik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN