Elviza Diana
Elviza Diana Freelancer

Ibu,penulis,jurnalis,dan penjelajah

Selanjutnya

Tutup

RAMADAN

Empat Langkah Memaafkan Luka Masa Lalu

22 Mei 2020   23:29 Diperbarui: 22 Mei 2020   23:24 428
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Empat Langkah Memaafkan Luka Masa Lalu
Dokumen pribadi

Luka dan masa lalu dua hal yang sulit dilupakan. Masa lalu apapun itu baik dan buruknya adalah bagian dari cerita hidup. Pun dengan luka. Tak ada gunanya menyimpan luka masa lalu, selain hanya sesak dan membawa terus luka yang membusuk.

Setiap orang punya masa lalu dan juga luka. Sudahi saja membiarkan terus luka itu menyakiti dan berpengaruh pada apa yang kita lakukan di masa ini dan esok. 

Ada 4 langkah untuk memaafkan di momentum Idul fitri. Kita berhak menang atas rasa marah,dendam dan kecewa. Memang tidak mudah untuk memaafkan masa lalu. Tapi waktu akan membantu mempercepatan proses merawat luka dan menyembuhkannya.

Berikut ada 5 langkah yang harus dilakukan agar mampu memaafkan masa lalu,diantaranya 

1. Ikhlas dan sabar

Percaya  tak ada yang sia-sia dan unfaedah dari semua perjalanan hidup yang dilalui. Semua ujian,cobaan, musibah, kesenangan, kebahagiaan dan kesedihan bagaikan kolase yang silih berganti kita hadapi. Hati yang ikhlas dan sabar menjadi obat untuk menjadikan hari seluas samudera yang mampu menelan semua bagian dari perjalanan hidup.

2. Berubah menjadi lebih baik

Tak ada balas dendam yang paling sadis selain membuat dirimu jauh lebih baik dan berharga dari siapapun yang pernah menyakitimu. Mungkin sedikit benar dengan ungkapan seperti ini. Kita akan kehabisan banyak waktu terus memperbaiki diri kita, daripada mengurusi masa lalu dan menyimpan luka. Perbaiki dirimu, karena dirimu terlalu berharga untuk disakiti, terlalu berharga untuk mendapatkan rasa sakit.

3. Lakukan banyak kebaikan

Percayalah kebaikan akan menghapus rasa sedih. Kebaikan itu menular, dan ketika kita melakukan sebuah kebaikan, kebaikan itu bukan untuk sesiapa tapi seyogyanya milik kita sendiri.  Tak perlu dicemaskan kita akan rugi melakukan kebaikan. Dan itu tidak menguntungkan, kita akan kehabisan materiiil dan moril jika mqelakukan kebaikan.Anggapan itu tidak benar. Kebaikan itu tak akan kemana-mana,dia ada selalu dalam jiwa-jiwa yang menebarkan bibit kebaikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Ramadan Bareng Pakar +Selengkapnya

Krisna Mustikarani
Krisna Mustikarani Profil

Dok, apakah tidur setelah makan sahur dapat berakibat buruk bagi tubuh? apakah alasannya? Kalau iya, berapa jeda yang diperlukan dari makan sahur untuk tidur kembali?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana
icon

Bercerita +SELENGKAPNYA

Ketemu di Ramadan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun