Divanda Sekar Rahayu Ningtyas
Divanda Sekar Rahayu Ningtyas Mahasiswa

I'm so here for this

Selanjutnya

Tutup

Sehat dan Gaya

Multitasking, Keren atau Justru Berbahaya?

24 Mei 2021   22:15 Diperbarui: 24 Mei 2021   22:45 440 1 0

Pernahkah Anda melakukan dua hingga beberapa hal secara bersamaan dalam satu waktu? Seperti saat pagi hari harus memasak dan menyiapkan sarapan. Namun di sisi lain, Anda belum menyapu lantai dan cucian terlihat menumpuk, sehingga Anda memutuskan untuk mengerjakannya secara bersamaan. Atau mungkin saat Anda sedang menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen, tiba-tiba ada panggilan masuk dari seseorang yang penting, sehingga Anda harus menjawab panggilan tersebut sembari tetap mengerjakan tugas.

Secara harfiah, multitasking adalah menjalankan tugas ganda, atau menjalankan lebih dari satu aktivitas dalam waktu yang sama. Terkadang, keterbatasan waktu yang dimiliki dan perasaan ingin sesegera mungkin menyelesaikan suatu pekerjaan, membuat seseorang sengaja untuk melakukan dua hingga beberapa aktivitas secara berbarengan.

Mungkin Anda berpikir bahwa multitasking dapat menghemat waktu. Bahkan bagi sebagian orang juga menganggap bahwa seseorang yang dapat melakukan multitasking adalah seseorang yang keren karena tidak semua orang dapat melakukan hal ini. Nah, apakah multitasking ini benar-benar efektif ataukah justru ada dampak negatif dibaliknya?

 Sekelompok peneliti dari Institute of  Psychiatry University of London menyatakan bahwa melakukan multitasking dapat menurunkan tingkat Intelligence Quotient (IQ) sebanyak 10 poin. Saat Anda sedang melakukan multitasking, otak akan bekerja lebih kuat untuk fokus dan berkonsentrasi dalam dua hal atau lebih agar dapat menyelesaikan aktivitas tersebut dengan baik. Padahal, otak umumnya hanya dapat fokus pada satu hal dalam satu waktu.

Multitasking dapat memicu kelelahan pada otak. Ketika otak sudah mulai lelah bekerja, kemampuan untuk fokus dalam menjalani berbagai pekerjaan atau aktivitas tentunya akan menurun. Hal inilah yang mungkin akan menyebabkan banyak terjadi kesalahan saat melakukan dua hal atau lebih secara bersamaan. Sehingga bukannya efektif, yang terjadi adalah Anda mungkin harus mengulang beberapa hal karena kesalahan akibat kurangnya konsentrasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh University of Sussex, kondisi otak seseorang yang terbiasa melakukan multitasking cenderung kekurangan kandungan anterior cingulated cortex, yang bertanggung jawab terhadap emosi. Sehingga seorang multitasker akan cenderung mudah untuk terpicu stress dan ketidakstabilan emosi dalam diri.

Melakukan dua hal secara bersamaan juga berisiko mengganggu dan menurunkan daya ingat. Sebuah penelitian menyatakan bahwa multitasking dapat menyebabkan gangguan ingatan, baik ingatan jangka pendek terkait pekerjaan maupun kemampuan untuk menyimpan dan mengingat informasi untuk jangka waktu panjang.

Multitasking juga dapat menimbulkan bahaya dan memunculkan risiko terjadinya kecelakaan. Saat fokus otak terpecah, konsentrasi terhadap aktivitas akan menurun, sehingga kita kadang tidak memperhatikan keadaan sekitar. Misalnya saat Anda berkendara sambil menjawab panggilan di ponsel. Tentunya akan sangat berbahaya bagi pengendara lain dan juga bagi Anda sendiri jika terjadi kecelakaan yang ditimbulkan karena ketidak fokusan ketika berkendara.

Multitasking bisa saja dilakukan. Namun mengingat dampak berbahaya yang dapat ditimbulkan, akan lebih baik bila Anda menerapkan skala prioritas dalam segala aktivitas. Mana hal yang harus dilakukan terlebih dahulu dan mana yang bisa dilakukan kemudian. Sehingga Anda akan lebih fokus dan terorganisir dalam melakukan suatu aktivitas.

VIDEO PILIHAN