Budi Susilo
Budi Susilo Wiraswasta

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Masjid Favorit tanpa Kubah

30 April 2021   05:59 Diperbarui: 30 April 2021   06:08 575 31 11
Lihat foto
Masjid Favorit tanpa Kubah
Masjid Sunda Kelapa di Menteng, Jakarta Pusat.(KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Pada setiap batas waktu kehidupan, ada saja masjid yang menjadi favorit. Nyaris setiap Salat Jumat dan wajib sebuah masjid menjadi tujuan utama.

Semasa masih kanak-kanak, masjid Jami di kota Bangkalan merupakan tujuan. Lokasinya dekat rumah. Kegiatan mengaji pun diadakan di sana. Mau tidak mau masjid yang berdiri sejak tahun 1819 itu menjadi tujuan.

Pada saat remaja, sering datang ke masjid Jenderal Soedirman, terletak di jalan Bengawan Solo (dulu, nama jalan sekarang tidak tahu). Karena ia terletak berdekatan dengan sekolah saya.

Zaman dulu keberadaan masjid tidak serapat pada masa kini. Jarak 1-2 kilometer masih dianggap dekat, meski dengan berjalan kaki dari rumah.

Mulai SMA, masjid yang dianggap favorit nyaris tidak ada. Sebetulnya banyak masjid bagus yang dapat menjadi pilihan. Bisa ke masjid Raya Bogor, masjid milik UIK, dan mesjid Agung Bogor terbengkalai selama bertahun-tahun sampai sekarang.

Sejak tahun 90-an berdiri masjid di depan rumah, dekat. Namun sejak tahun 80-an saya sudah pergi merantau, sehingga ia tidak menjadi masjid tujuan utama lagi. Tidak ada masjid yang dapat dikategorikan favorit.

Mulai sekitar tahun 2000-an, barulah salah satu masjid di Jakarta menjadi tujuan favorit, meski bukan masjid yang terlalu sering dikunjungi.

Masjid tanpa kubah yang dibangun pada tahun 1960-an terletak tidak jauh dari tempat bekerja dan tempat tinggal. Arsitekturnya berbeda dengan wajah masjid ala Timur Tengah pada umumnya. Atapnya berbentuk perahu, yang menyimbolkan kegiatan perdagangan saudagar muslim di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ya. Bangunan yang terletak di kawasan elite Menteng Jakarta itu bernama Masjid Sunda Kelapa.

Depan pekarangan masuk masjid yang diarsiteki oleh seorang lulusan ITB itu dikenal sebagai salah satu pusat jajanan. Berbagai pilihan penganan populer ditawarkan dengan harga bersahabat. Tetapi bukan itu yang menjadi alasan utama.

Saya mengunjunginya saat Lohor atau menjelang Maghrib. Suasana adem dengan halaman luas penuh pepohonan. Setelah cukup sering mendatangi masjid yang tak memiliki beduk itu, memicu saya ikut rajin berpuasa Senin-Kamis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN