Budi Susilo
Budi Susilo Wiraswasta

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

[Fiksi Ramadan] Cakrawala di Balik Jendela Putih

23 Mei 2020   03:32 Diperbarui: 23 Mei 2020   03:38 81 47 17
Lihat foto
[Fiksi Ramadan] Cakrawala di Balik Jendela Putih
Gambar oleh Alfons Schler dari pixabay.com

Hilal telah tampak di cakrawala, bulan sabit muda pertama pada arah dekat matahari terbenam telah terlihat oleh saksi tersumpah dan dapat dipercaya keterangannya. Tidak sendiri, tetapi beberapa orang saksi tersumpah dan dapat dipercaya telah melihatnya di berbagai daerah.

Berarti ini hari terakhir bulan Ramadan, hari terakhir menjalankan ibadah puasa. Besok sudah dapat dipastikan adalah permulaan bulan baru,  tanggal 1 Syawal yang ditunggu-tunggu.

Seusai shalat isya, terdengar kumandang takbir  bersahut-sahutan berhambur memenuhi udara luar menyambut kemenangan. Bedug-bedug di seantero negeri dipukul bertalu-talu menandakan bahwa gelombang perayaan kegembiraan telah datang.

Gelombang kegembiraan dalam hatiku sejenak berkedip lalu meredup kemudian padam, berganti dengan ratapan dalam pikiran yang berkecamuk, bertumpuk-tumpuk dan menyampah membahanakan sumpah serapah.

Ingatanku melompat ke masa empat belas hari silam, ketika dipusingkan oleh situasi yang merontokkan kesempatan untuk mendapatkan uang lebih banyak. Uang untuk persiapan perayaan hari raya mendatang sementara uang THR belum membayang.

Bencana kesehatan yang mendunia telah menjadi pelantar kematian dan meluluh-lantakkan segala tatanan kehidupan.

Aku dirumahkan tanpa mendapat gaji apalagi THR. Keuangan perusahaan tempatku bekerja habis tak bersisa semenjak adanya himbauan physical distancing yang tidak membolehkan kerumunan.

Kerumunan orang yang merupakan mata air kehidupan bagiku. Kerumunan orang yang bergembira melepas penat dan uangnya setelah seharian sibuk mengais rejeki merupakan sumber pendapatan perusahaan tempatku bekerja.

Ya, tempat kerjaku adalah kafe dangdut di pinggiran Kalimalang. Semakin hingar-bingar orang berkerumun semakin padat pendapatan. Semakin kerumunan orang terlena dengan alunan kopi dangdut akan semakin banyak pemasukan. Kerumunan itu telah menjadi hampa.

Oleh karena itu dua minggu yang lalu aku mencoba peruntungan dengan berdagang kolang-kaling di pasar. Di tempat itulah aku meyakini sebagai tempat yang senantiasa akan dipenuhi oleh calon pembeli bahan makanan pembuka puasa. Demikian menyemutnya orang berdesakan di pasar sehingga membuat para pembeli dan pedagang sepertinya sama banyaknya.

Pasar adalah salah satu tempat yang sulit dikendalikan dalam memutus rantai penyebaran penyakit. Tetapi akan banyak dalih pembenaran sejumlah kepala orang sepasar. Juga sebanyak kepala orang yang demikian bebal dan keras kepala membatu yang masih berkerumun di luar sana serta tidak mau berdiam di rumah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2