Awaluddin Rao
Awaluddin Rao Mahasiswa

Berislam Bergembira

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Kembali ke Fitrah (Refleksi Idul Fitri)

13 Mei 2021   10:11 Diperbarui: 18 Mei 2021   03:32 451 2 0
Lihat foto
Kembali ke Fitrah (Refleksi Idul Fitri)
Bersama "Umak" Merayakan Kemenangan dari Jarak Jauh

Gema kalimat takbir  berkumandang di seluruh penjuru dunia dan menggemparkan makhluk langit. Mulai ditengah tengah hingar bingar-nya perkotaan ia dikumandangkan, hingga di sudut sudut desa pun ia juga terdengar. Alunan suara itu tak hanya terdengar oleh mereka yang hadir Sholat Ied. Sayup sayup suara itu juga ditiup angin, merasuk ke berbagai jendela rumah sakit, hingga terdengar oleh mereka yang terbaring lemah disana. Hari ini banyak yang tersenyum bahagia, tapi tak sedikit juga yang tertunduk lesu.

Berdirilah sang khatib di atas mimbar nan gagah itu. Di depannya ada saja jama'ah yang menangis. Ada yang disebabkan sedih berpisah dengan Ramadhan, ada yang air matanya keluar karena anak dan keluarga tak dapat pulang dan berkumpul seperti biasa, ada juga yang karena tak punya keluarga. Dimana mana terlihat yang sedang sibuk Video call dengan keluarga dan temannya. Tapi ada pula yang terlihat termenung, anak yang tak lagi berayah dan tak punya rumah. Kemaren ia puasa, hari ini puasa, besok dan lusa juga puasa. Bukan karena keinginannya, melainkan karena makanan tak ada. Hari ini banyak yang tertawa, tapi tak sedikit juga cucuran air mata.

Apa sebenarnya makna Idul Fitri ini?

Ramadhan yang baru saja kita tinggalkan itu adalah Bulan Latihan. Dia datang untuk melatih kita, yang bertujuan agar kita Bersyukur dan Bertaqwa.   Kita sering mendadak alim saat Ramadhan tiba. Mendadak jadi dermawan, mendadak jadi Ahlul Qur'an, dsb. Setelah Ramadhan pergi, kita tak ubahnya sebagaimana kita yang dijumpai sebelum Ramadhan tiba. Padahal pertempuran melawan hawa nafsu itu baru saja di mulai saat Idul fitri tiba. itulah kenapa hari ini dimaknai sebagai kembali ke Fitrah, Kembali ke kesucian kita.

Pertanyannya, Apa sebenarnya fitrah manusia itu? terlihat penting sekali sehingga kita dimintai kembali ke fitrah itu.

Kembali ke fitrah bukan berarti dosa dosa kita yang amat banyak itu terampuni, walaupun tentu kita berkeyakinan dan mengharapkan itu semua pada hari ini. Kembali ke fitrah bermakna kembali ke titik nol, titik nol itu adalah manusia memiliki kerinduan terhadap "Nilai nilai Rabbaniyah". Kerinduan terhadap nilai nilai Ketuhanan itu bukan tanpa sebab, itulah sifat asli manusia. 

Fitrah itu difungsikan untuk menjadi Wakil Tuhan (Khalifah) di muka bumi ini. Kembali ke Fitrah artinya kembali ke awal sebagaimana dijadikannya kita, yaitu makhluk yang condong kepada kebaikan, kepada nilai nilai kebenaran, yang betapa pun jahatnya perilaku kita, jauh di lubuk hati yang paling dalam kita tetap merindukan Nilai nilai Robbaniyah tadi. Dengan itu, barulah terimplementasikannya apa yang kita sebut dengan meneladani sifat sifat Tuhan, yang harus kita lakukan semampunya.

Maka apabila kita berbicara makna Idul fitri, betapa ia tak sesederhana makan kue, membeli baju baru atau barangkali rumah dengan warna cat yang baru. Jauh dan lebih dalam dari itu semua. Kita diminta untuk membuang berbagai hal dari diri yang bukan bagian dari fitrah kita sebagai seorang manusia.

Dengan demikian, penting untuk merenungkannya hari ini. Cobalah tanya diri kita, Sudah berbedakah kita dengan binatang? Apakah berbeda cara bekerja kita dengan kerbau di sawah? atau cara berpikir kita sama seperti monyet yang sedang memilih kelapa? atau jangan jangan nurani kita dikalahkan oleh binatang binatang buas yang bahkan tidak mau memakan spesies sejenis dengannya. 

Bersama segenap kerinduan, Saya ucapkan: Kawan, Selamat Kembali ke Fitrah
-Awaluddin Rao

VIDEO PILIHAN