Asep Rizal
Asep Rizal Full Time Blogger

baik-baik sehat selalu dan banyak rezeky,tidak punya utang lahir maupun bathin,kaya raya Jaya Abadi Selamanya.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Mudik Dilarang? Tak Mungkin Digubris Rakyat Pemudik Lho!

16 April 2021   09:28 Diperbarui: 16 April 2021   09:36 278 3 0
Lihat foto
Mudik Dilarang? Tak Mungkin Digubris Rakyat Pemudik Lho!
Dok. pribadi

Di Sudut sebuah kontrakan (rumah bedeng) di batas DKI Jakarta dan Jawa Barat seorang lelaki  berumur 38 tahunan tengah mewadahi baju-baju lusuhnya pada sebuah kardus bekas mie instan , nampak HP Android-nya  berdering ,dia buka HP-nya itu dengan secuil senyuman ,dia angkat Video Call istrinya tercinta "Hallo mamah , bapak lagi bungkus baju dulu sayang, mana si bungsu anak bapak ,sehat sayang ,,,nanti bapak berangkat naik ojek ke pintu Tol Jatibening ya sayang  setelah bapak bayar utang bekas makan ke warung langganan bapak dulu ya sayang !" Ucapnya lirih sambil matanya memandang HP Androidnya dengan rasa penuh cinta dan gelora kerinduan yang sangat dalam.

Di kejauhan sana sang istri yang tengah menyusui anak bungsunya yang masih bayi (8 bulanan) itu tersenyum,  nampak dia menatap suaminya pada HP Androidnya pula  dengan penuh rasa cinta dan kerinduan yang amat sangat dalam , dia pegang HP dengan tangan kananannya , nampak pula sang bayi yang dia susui terlihat ngemil puting susu ibunya sambil merem melek , dia mungkin tahu bapaknya yang empat bulan lalu berangkat ke Kota akan pulang ke Rumah Mereka di Kampung , ujung aisan Sang Bayi dipegang sang istri dia nampak menyusut air mata yang nampak mengembang di sudut mata kirinya , air mata kebahagiaan yang tiada tara ,karena setelah anak keduanya ( si bungsu) itu  Lahiran 4 bulan kemudian suaminya tercinta diajak temannya untuk bekerja dan berdagang  disebuah Pabrik Kerupuk di Batas DKI Jakarta dan Jawa Barat  dengan jaminan gajih yang lumayan tersebut. Sang suami sadar ketika itu bahwa untuk hanya bertahan ngasih makan anak dan istrinya di kampung mungkin tak akan cukup karena penghasilannya hanyalah pegawai tani dan buruh serabutan saja yang hanya mengandalkan bayaran yang taripnya tak menentu ketika dapat perintah orang kampung yang punya kebun dan sawah guna mengerjakan sesuatu itu misalnya.

Perang terhadap Pandemi Covid-19 pun berkobar pada saat si bungsu lahiran , sang suami banting setir dengan berat hati dia harus berangkat menyusul temannya yang dia anggap "ketika pulang temanku itu beli ladang disebelah rumahnya yang gubuk walaupun hanya beberapa meter,berarti usahanya menjanjikan juga barangkali,,! Hatinya gusar  lalu atas izin istrinya tercinta dia memutuskan untuk berangkat ke Kota dengan niatan bahwa hidupnya harus berubah ," Doakan bapak ya mah,,,5 atau 4 bulan mendatang bapak pasti pulang ,ya ,,mungkin pass hitungan Bulan Ramadhan nanti ,bapak pasti pulang doakan semua niatan nya berhasil ,,!" Kata-kata itu terus terngiang-ngiang pada telinga sang istri , nampak dia mematikan HP Android alat satu-satunya berkomunikasi di Rumahnya yang berdinding bilik ,rumah itu kecil hanya terlihat asri , design bangunannya mirip rumah zaman orang tua zaman pasundan  dulu ,hanya terpasang Kaca sebagai pentilasi.

Itulah gambaran sebuah keluarga yang Berniat akan Pulang Kampung ketika Lebaran Idul Fitry itu tiba nanti ,,,,,

Mukoddimah:

Perang terhadap virus corona (covid-19) belum berakhir , kali ini pemerintah tetap pada sikapnya yakni menganjurkan rakyat indonesia jangan sampai berkerumun, menghindari kumpulan-kumpulan massa , tetap melanjutkan kampanye pakai masker , mencuci tangan dan lainnya dan tetap pada keputusan finalnya bahwa  belajar formal tetap harus dengan tatacara  sekolah daring online dan meniadakan belajar tatap muka dengan berbagai cara dan kebiasaan yang harus lepas dari kerumunan massa besar yang aturannya harus di patenkan.

Perang terhadap penularan covid-19 hingga bulan rhomadhon 1442-H ini telah masuk ke tahun ke-2 nya , pada saat inipun pemerintah tetap melarang para pelancong kampungan untuk tidak pulang ke-kampungnya masing-masing dengan berbagai dalih dan alasan , pada intinya bahwa pemangku kebijakan (Gerakan Protokol Kesehatan)  harus wajib menerapkan  "protokol kesehatan pada berbagai moment yang aturannya kena untuk semua rakyat indonesia tanpa pengecualian". 

Disini kita lihat bahwa hal itu  tanpa harus ada protes -protesan atau demo-demoan  dan atas aturan itu maka rakyat indonesia harus tunduk pada aturan tersebut dan apabila ada sekelompok orang atau perorangan menolak aturan tersebut maka sangsi berat akan  segera diterpakan.

Menimbang-nimbang proses "memutus mata rantai penyebaran covid-19"  itu maka article ini dituangkan , menurut hemat penulis apapun sangsi yang akan diterapkan untuk lebaran Idul Fitri 1442-H tetap para urban mania yang hidup cari rezeqy-nya di kota-kota besar akan melakukan  proses pulang kampung ,mengapa demikian? Karena pulang kampung yang dimaksudkan  bukan saja ingin berlebaran Idul Fitry saja pada intinya , mereka punya alasan kuat bahwa mereka tetap harus bertemu keluarga yang ditinggalkannya.

Penulis bisa mengatakan "dia (warga yang punya niat mudik dari kota ke kampungnya) pasti sangat ingat istri atau pada suami dan tentunya mereka ingat pada anak-anaknya ,penulis katakan pula "apapun yang terjadi maka mereka harus pulang kampung dengan ribuan catatan dan alasannya masing-masing walaupun apapun bahaya atau sangsi yang akan mengintai mereka dikemudian hari  misalnya.

Phenomean pulang kampung pada lebaran Idul Fitry di indonesia itu telah melegenda dan legendanya telah dicatat pada bathin yang maha dalam (terdalam) oleh semua warga urban tanpa pengecualian  dimanapun mereka berada. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN