Aris Heru Utomo
Aris Heru Utomo Diplomat

Pemerhati hubungan internasional dan penyuka sepakbola. Menulis lewat blog sejak 2006 dan akan terus menulis untuk mencoba mengikat makna, melawan lupa, dan berbagi inspirasi lewat tulisan. Pendiri dan Ketua Komunitas Blogger Bekasi serta deklarator dan pendiri Komunitas Blogger ASEAN. Blog personal: http://arisheruutomo.com. Twitter: @arisheruutomo

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Artikel Utama

Tradisi Bermaafan yang Bergeser

14 April 2021   06:00 Diperbarui: 15 April 2021   19:16 1466 16 2
Lihat foto
Tradisi Bermaafan yang Bergeser
ilustrasi bermaafan. (sumber: shutterstock via kompas.com)

Hari pertama Ramadan 1422 H baru saja lewat, namun beberapa pesan permohonan maaf memasuki Ramadan masih saja mengalir ke WAG saya. 

Kalimat atau kata-kata yang tertulis dalam pesan yang masuk tersebut umumnya identik dengan pesan-pesan yang sudah masuk terlebih dahulu. Tidak ada kesan personal dari pesan yang dikirimkan secara daring.

Tidak ada lagi silahturahmi antar saudara, kerabat ataupun teman. Di era disrupsi dengan kemudahan teknologi informasi, ditambah pandemi covid, tidak ada lagi silahturahmi secara tatap muka seperti dulu. 

Tradisi bermaafan yang dilakukan di masa lalu di berbagai daerah dan sarat dengan kearifan lokal, kini tidak terasa keberadaannya.

Dari sejarahnya, tradisi bermaafan sudah ada sejak zaman Yunani Kuno dan di era para nabi yang dilakukan melalui tradisi berjabat tangan. 

Pada zaman Rasullulah Muhammad SAW, para sahabat nabi ketika bertemu sering berjabat tangan, dalam konteks mempererat persaudaraan atau memberikan penghormatan.

Di Indonesia sendiri, pada masa lalu, di hampir setiap daerah di Indonesia terdapat tradisi dan kearifan lokal bermaafan menjelang Ramadan. Di Aceh kita mengenal tradisi Meugang yaitu tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama orang terdekat dan juga yatim piatu. 

Masyarakat Aceh percaya bahwa kebaikan dan keberkahan yang didapatkan selama 11 bulan lalu patut disyukuri dengan cara menggelar tradisi Meugang.

Di Jawa Barat, masyarakat Sunda memiliki tradisi munggahan menyambut bulan Ramadan ini memanfaatkan. Kegiatan yang dilakukan seminggu atau dua minggu sebelum bulan puasa bertujuan untuk berkumpul bersama orang-orang terdekat seperti keluarga dan juga teman sebagai momen saling meminta maaf untuk mempersiapkan diri menuju bulan Ramadan.

Di Jakarta ada tradisi masyarakat yang disebut Nyorog. Tradisi unik ini dilakukan setiap memasuki bulan Ramadan dengan membagikan bingkisan ke anggota keluarga atau tetangga dalam rangka menyambut bulan Ramadan. 

Tradisi unik ini biasanya dilakukan orang yang lebih muda ke orang yang usianya lebih tua, tujuannya adalah untuk meminta restu kelancaran ibadah puasa selama di bulan Ramadhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN