Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Karoshi, Kelelahan Kerja dan Relasi Kinerja

1 Juli 2017   03:53 Diperbarui: 1 Juli 2017   04:00 371 0 0

Kajian atas produktifitas menarik untuk dipelajari dengan seksama, terutama ketika melibatkan manusia didalamnya. 

Dengan kompleksitas yang dimilikinya, manusia memang memiliki kemampuan sekaligus keterbatasan dalam dirinya.

Sebelumnya tersiar kabar tentang kematian dokter spesialis ditanah air akibat durasi waktu kerja yang panjang selama libur lebaran tahun ini.

Meski masih dalam tahap penyeledikan terkait penyebab kematiannya, namun hal tersebut mengindikasikan batas serta limit kemampuan tubuh dalam kondisi bekerja non-stop.

Perilaku bekerja hingga batas tertingginya ini banyak dipraktekan di negeri Sakura sebagai bentuk kerelaan untuk berkontribusi bagi kemajuan perusahaan.

Bahkan kebiasaan tersebut telah menjadi budaya dari pekerja negeri matahari terbit tersebut. Karoshi adalah kelelahan kerja karena overwork.

Spirit Karoshi dekat dengan prinsip Bushido yang menjadi panduan dari nilai moral Samurai, dengan menekankan kombinasi atas kesederhanaan, kesetiaan, dan kehormatan sampai mati.

Tetapi apakah overwork selaras dengan produktifitas? Akankah kelebihan waktu kerja menjadi bukti atas kemampuan berproduksi lebih?.

Manusia dan Bukan Mesin

Mekanisasi dan otomatisasi adalah metode alternatif dalam memastikan terjaganya produktifitas secara konstan, karena kapasitas kerja mesin terjaga dari waktu ke waktu.

Sementara manusia terkait dengan faktor-faktor lain, semisal stimulus eksternal seperti budaya atau remunerasi, maupun aspek internal berkenaan dengan motivasi dan perilaku.

Dampak dari pengaruh eksternal bisa berupa orientasi serta disiplin bekerja. Di Jepang, hal tersebut adalah bagian dari kebanggaan dan menjadi prinsip individual untuk bisa berkontribusi terbaik sebagai bentuk komitmen atas loyalitas kepada perusahaan.

Menjadi pekerja terbaik, dengan produktifitas tertinggi adalah tujuan yang hendak dicapai dengan segala konsekuensi resiko yang dihadapi.

Sedangkan berkaitan dengan faktor internal, maka hal itu akan tercermin pada perilaku personal menghadapi target ataupun standart yang telah ditetapkan perusahaan.

Dengan demikian, tingkat produksi manusia kerapkali tidak konsisten sebagai akibat faktor pengaruh atas kerja yang dihasilkan.

Pada siklus produksi, maka produktifitas diukur dalam satuan jumlah produk yang dihasilkan berbanding waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikannya.

 Ukuran yang dipergunakan adalah efektif dan efisien. Dimana efektifitas menempatkan target hasil, sesuai dengan input sumberdaya yang tersedia.

Sedangkan efisiensi adalah upaya menghasilkan output dengan lebih sedikit input sumberdaya yang dipergunakan.

Sumberdaya dalam sebuah proses produksi adalah semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan menghasilkan produk, termasuk bahan baku, perangkat pendukung, dan tenaga manusia yang terlibat.

Dengan demikian, kinerja dapat dinyatakan sebagai ukuran produktifitas, atau standart kerja yang tertentu yang telah ditetapkan perusahaan.

Khususnya di Jepang, stres bekerja timbul karena individu berupaya untuk meningkatkan diri dalam performa kerja melebihi standart yang ditetapkan dalam satuan prosedur baku, namun tidak demikian dengan pekerja diberbagai negara lainnya semisal Amerika dan Eropa yang membangun kreatifitas dalam bekerja, fleksibilitas adalah kunci utamanya.

Kemungkinan atas hal itu terjadi selaras dengan corak industrinya. Jepang lekat dengan manufaktur sedangkan Amerika mulai berubah kearah sektor digital kreatif.

Bagaimana kita menilai kelelahan kerja sebagai bentuk dari indikator produktifitas? Mari kita ulas bersama:

Pertama: standar kinerja adalah satuan ukuran kerja yang ditetapkan perusahaan sesuai dengan target optimal akan estimasi pendapatan bisnis perusahaan.

Pada titik ini, efektifitas dalam pencapaian tujuan menjadi penentu, yakni memproduksi hasil sesuai dengan sumberdaya yang tersedia. Sementara efiiensi adalah target selanjutnya pasca proses produksi stabil dan berlangsung efektif.

Kedua: waktu kerja adalah durasi bekerja yang dianggap signifikan dan cukup dalam melaksanakan aktifitas fisik. 

Harus dipahami bahwa manusia pada hakikatnya aadalah mahluk sosial yang secara umum memiliki titik jenuh kelelahan (fatique) sehingga harus diseimbangkan dengan waktu istirahat dan keluarga.

Ketiga: harus menjadi catatan bagi departemen produksi dan ketenagaan dalam mencermati tingkat lembur akibat overwork.

Apakah lembur berkontrusi pada pencapaian melebihi standart yang ditetapkan? Bila tidak, maka ada konsepsi yang salah dalam aspek cara bekerja maupun terdapat kebutuhan akan tambahan sumberdaya, akibat beban kerja serta pemetaan ketenagaan yang tidak tepat.

Keempat: overwork pada prinsipnya adalah waste karena terjadi misalokasi waktu dan tenaga dari estimasi produksi yang telah ditetapkan.

Dibutuhkan pengaturan yang ketat, khususnya bila kerja tambahan atau lembur tersebut datang sebagai inisiatif pribadi dan bukan berdasarkan instruksi.

Kelima: kelelahan bekerja secara akumulatif justru akan menurunkan produktifitas, karena dampak kesehatan yang ditimbulkan. 

Ditinjau dalam sudut pandang finansial perusahaan juga akan semakin menambah pembiayaan, karena dibutuhkan extra cost biaya kesehatan karyawan.

Keenam: implikasi atas kelelahan kerja biasanya dikompensasikan kedalam aktifitas lain yang sudah pasti menghilangkan porsi kegiatan berikutnya.

Istirahat berkepanjangan diakhir pekan, dan kehilangan waktu untuk bersentuhan dengan keluarga. Di Jepang, konsekuensi dari Karoshi adalah Nomikai yakni pesta minuman beralkohol sebagai sarana relaksasi.

Kembali pada kasus diawal, maka kelelahan akibat bekerja, dapat dipandang sebagai kekalahan dalam melakukan pengelolaan serta pengaturan waktu bekerja.

Secara individual, pekerja tidak mampu menakar kapasitas dan kemampuan dirinya. Sedangkan dalam tinjauan manajemen berarti kegagalan dalam melakukan pengaturan tenaga kerja untuk mencapai tujuan perusahaan.

Dititik tersebut, maka para pihak harus melakukan introspeksi dan evaluasi terkait. Meski dengan begitu, tidak terdapat pula alasan untuk melakukan pemborosan sumberdaya dan bermalasan untuk tidak sampai pada performa kerja terbaik.

Hidup adalah soal keseimbangan (life balance), dan hal yang tidak bisa kembali diulang adalah waktu, jadi bijaksana menggunakannya sesuai tujuan hidup Anda.