Teguh Hariawan
Teguh Hariawan Guru

Guru Fisika Pecinta Sejarah. Blusuker dan menulis yang di Blusuki "Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang " : (Nancy K Florida)

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Arca Wisnu Naik Garuda, Benarkah Asalnya dari Belahan?

3 Juli 2017   10:30 Diperbarui: 3 Juli 2017   21:18 2170 9 6
Arca Wisnu Naik Garuda, Benarkah Asalnya dari Belahan?
dok.pribadi


"Arca Wisnu naik garuda menggambarkan cerita Garudeya, yang menceritakan asal mula Garuda menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Diperkirakan arca ini berasal dari relung utama Percandian Belahan dan diduga sebagai arca perwujudan Raja Airlangga" ...dst

Begitulah informasi singkat yang tertulis di papan data di samping Arca Wisnu Naik Garuda, koleksi Museum Majapahit, Trowulan (Pusat Informasi Majapahit), Mojokerto. Bernomor inventaris 405. Sepertinya tidak ada masalah dengan papan informasi ini. Tentunya pengunjung museum, apalagi para pelajar sekolah dasar sampai tingkat menengah, yang akhir-akhir sedang giat literasi dan menulis laporan kunjungan, akan mencatat persis seperti yang tertera di di papan data tersebut. Tentunya "ilmu" yang mereka peroleh tentang Arca Wisnu naik Garuda itu akan tertanam dan tersimpan sebagai memori. Apalagi di belakang arca ada banner besar foto Patirthan Belahan, makin yakinlah mereka (kita) akan keberadaan arca tersebut di Belahan.

dok.pribadi
dok.pribadi

Bagi pelajar pecinta sejarah, pemerhati budaya, blusuker atau apapun istilahnya, yang sudah mendapat informasi awal tentang Arca Wisnu Naik Garuda, suatu saat pasti akan penasaran di mana Belahan itu. JIka sudah menemukan, tentunya mereka akan mencocokkan, di mana relung utama tempat asal Arca Wisnu Naik Garuda itu. Nah. di sinilah permasalahannya.

dok.pribadi
dok.pribadi

Arca Wisnu di Museum Majapahit | dok.pribadi
Arca Wisnu di Museum Majapahit | dok.pribadi

N. J. Krom
Pendapat yang dianut sampai saat ini bahwa Arca Wisnu Naik Garuda berasal dari Candi Belahan (Patirthan Belahan) atau masyarakat menyebutnya Candi Sumber Tetek (karena ada arca yang mengeluarkan air dari payudaranya) bermula dari gagasan N. J. Krom (1923). Bahkan lebih jauh Krom mengganggap Patirthan Belahan adalah bangunan peringatan yang diabdikan untuk Raja Airlangga setelah raja itu wafat, demikian ungkap Agus Aris Munandar, profesor arkeologi dari Universitas Indonesia. Namun, pendapat Krom tersebut ditentang oleh Th. A. Resink (1968), yang menyimpulkan Belahan bukan dari zaman Airlangga, bahkan sangat mungkin dari zaman Sindok (929-947M), karena di dekat Candi Belahan ditemukan Prasasti Cungrang.

Patirthan Belahan, di tengah aalah relung dangkalnya | dok.pribadi
Patirthan Belahan, di tengah aalah relung dangkalnya | dok.pribadi
Boechari, seorang pakar arkeologi senior, sangat sependapat dengan Resink. Beliau mengatakan bahwa jika memang Arca Wisnu Naik Garuda bersal dari Belahan, tentunya arca tersebut akan menempati lapik yang sesuai dengan ukuran relungnya. Kenyataannya, relung tengah (utama) di Patirthan Belahan hanyalah relung dangkal yang relatif sempit. Jika Arca Wisnu diletakkan di sana, tentunya tidak akan sesuai dengan ukurannya. Kesimpulannya, Arca Wisnu haruslah berasal dari tempat lain bukan dari Belahan. 

Bisa jadi, relung dangkal itu sebenarnya adalah tempat arca kecil yang sebenarnya adalah prasasti/sengkalan yang menandakan saat pembangunan Belahan terjadi Gerhana Bulan. Saat ini, arca sengkalan ini teronggok di sisi depan kanan candi utama Belahan, bersama sebuah lingga dan fragmen arca.

Mengukur | dok.pribadi
Mengukur | dok.pribadi

dok.pribadi
dok.pribadi
Hindari Kontroversi
Karena ini menyangkut pendapat yang masih kontroversial (hal yang biasa dalam ilmu pengetahuan), seyogyanya, pihak Museum Majapahit berhati-hati dalam memberikan informasi kepada khalayak terutama guru, apalagi pelajar. Karena begitu informasi itu tersampaikan, maka akan jadi memori yang tersimpan di otak sepanjang jaman sampai ada informasi berikutnya yang "membenarkannya atau menolaknya".

Jadi sebaiknya, di papan informasi, tidak perlu dituliskan asal usul Arca Wisnu Naik Garuda (yang masih kontroversi), termasuk banner besar yang mewakili bangunan Patirthan Belahan, karena itu akan makin meyakinkan pengunjung (pembaca) bahwa Arca Wisnu Naik Garuda benar-benar berasal dari Belahan. Agaknya ke depan memang perlu dirunut kembali di catatan-catatan Belanda tentang asal usul arca yang sekarang tersebar di berbagai museum. kadang memang tidak jelas asal-usulnya.