Kesehatan Pilihan

Belajar Dari Derita Kanker Jupe

24 Juni 2017   10:33 Diperbarui: 24 Juni 2017   13:12 461 0 0

(Sumber : Opini Republika 12 juni 2017)

Julia Rahmawati Perez (Jupe) akhirnya meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker leher kandungan (kanker cerviks) yang menyerangnya, sebagai artis papan atas, kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi penggemarnya, beratnya perjuangan melawan kanker telah menggugah simpati publik terlepas kontraversi Jupe dalam kehidupan sehari-hari sebagai publik figur.

Salah satu hal yang menarik perhatian kita adalah mahalnya biaya pengobatan Jupe ini, padahal Jupe telah menggunakan Kartu Indonesia Sehat yang sering kita dengar kartu BPJS, namun ternyata biaya pengobatan kanker ini luar biasa, seorang artis sekelas Jupe pun kesulitan biaya pengobatan penyakit yang dideritanya ini, hal inilah yang mendorong beberapa koleganya (para artis dan publik figur) mengulurkan bantuan finansial untuk meringankan beban ini.

Mahalnya pengobatan Jupe dikarenakan kanker merupakan penyakit yang kronis progresif dan akhirnya jatuh ke stadium terminal. Dan pada umumnya penyakit stadium terminal memang membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, hal ini dikarenakan banyaknya komplikasi dan organ tubuh yang terkena sehingga pengobatan semakin rumit, multidisiplin, butuh perawatan lama, obat dan alat yang banyak dan tentunya berbiaya tinggi.

Namun di dalam sistem pelayanan kesehatan, BPJS kesehatan mematok biaya klaim penyakit ini dengan angka tertentu, dan pada umumnya angka tersebut jauh dari kata cukup, kondisi inilah yang bukan hanya membingungkan dokter dalam memberi pelayanan optimal ke pasien namun juga akan membebani pasien karena banyak hal yang tidak tertanggung oleh sistem BPJS seperti yang dialami oleh Jupe ini.

Dan memang BPJS kesehatan selama ini mengedepankan kendali biaya, kita bisa memahaminya karena sejak diberlakukan BPJS di awal tahun 2013, BPJS kesehatan mengalami defisit, bahkan tahun 2016 defisit BPJS menembus angka Rp. 7 trilyun.

Selain kanker, ada beberapa penyakit yang menghabiskan biaya tertinggi dan menyedot anggaran BPJS antara lain penyakit Jantung, gagal ginjal, dan stroke. Kesemuanya merupakan penyakit stadium terminal yang sebenarnya bisa dicegah bilamana kita semua memahaminya.

Satu hal yang sangat ditakutkan dari penyakit kanker ini adalah kemampuannya menyebar ke organ penting lainnya seperti paru, otak dan liver serta ginjal, bilamana ada anak sebar maka akan terjadi komplikasi yang sangat sulit pengobatannya.

Sebagai contoh bilamana kanker menyebar ke otak maka penderita kanker tersebut akan merasakan sakit kepala yang semain hari semakin berat, bisa timbul kejang dan penurunan kesadaran sampai koma, kondisi yang demikian ini terus terjadi selama sumber utama dari kanker belum diobati secara maksimal.

Penderitaan berat lainnya dari pasien kanker adalah adanya nyeri hebat yang disebut cancer pain, nyeri ini sangat luar biasa dan bersifat terus menerus, nyeri ini pada umumnya adanya keterlibatan saraf akibat kanker atau efek samping dari pengobatan kanker, begitu hebat nyeri ini sampai penderita tidak bisa tidur dan sangat gelisah sepanjang hari, penderitaan cancer pain ini kadang melebihi penderitaan akibat kanker sendiri dan memperburuk kualitas hidup penderita, sehingga dibutuhkan tim ahli nyeri dan paliatif untuk mengurangi derita pasien dan memperbaiki kualitas hidup di sisa umurnya.

Preventif kanker
Mengingat rumitnya pengobatan kanker pada stadium lanjut maka sesungguhnya langkah terbaik adalah pencegahan dan deteksi dini, demikian juga dengan penyakit berat lainnya pencegahan jauh lebih baik dan lebih murah dari pada pengobatan. Dan ini harus terus dikembangkan oleh pemerintah dalam upaya kedokteran komunitas dan kedokteran keluarga dengan usaha promotif dan preventif. Usaha ini pada umumnya dilakukan oleh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan layanan kesehatan primer lainnya.

Namun sayang dalam beberapa tahun terakhir upaya kesehatan promotif dan preventif yang dulu dilakukan oleh puskesmas dan posyandu trendnya semakin menurun, banyak sekali puskesmas yang berubah menjadi puskemas rawat inap yang lebih mengedepankan kuratif daripada promotif dan preventif. Bukti lain sedikitnya pembangunan puskesmas baru di era pemerintahan saat ini. Ini bertentangan dengan janji saat kampanye calon presiden Jokowi dulu yang menjanjikan pembangunan seribu puskesmas baru namun sampai saat ini belum terdengar realisasinya.

Dari sudut politik upaya kuratif yang dilakukan pemerintah selama ini dengan sistem BPJS memberi kesan positif di masyarakat, ini terlihat dari beberapa survey kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi di bidang kesehatan sangat tinggi, namun sesungguhnya upaya promotif dan preventif lebih penting dan berbiaya rendah dibanding upaya kuratif dan rehabilitatif termasuk penyakit kanker ini.

Memang pembangunan promotif dan preventif pada umumnya bersifat jangka panjang dan tidak memberi dampak politik secara cepat bagi penguasa, namun sesungguhnya sebuah pembangunan kesehatan adala upaya kesejahteraan jangka panjang untuk generasi saat ini dan generasi yang akan datang.

Bilamana upaya prmotif dan preventif ini berhasil maka banyak penyakit berat seperti kanker, stroke, jantung, ginjal dan lainnya dapat dihindari sehingga secara tidak langsung biaya pengobatan akan menurun dan defisit BPJS akan berkurang.

Selamat jalan Jupe, semoga engkau damai di sisiNya.

Penulis :
dr. Badrul Munir Sp.S
Dokter spesialis saraf RS Saiful Anwar/
Dosen Neurologi Fakultas Kedokteran Univ Brawijaya Malang