Widi Kurniawan
Widi Kurniawan Pegawai Kantoran

Blogger, senang menulis, jeprat-jepret, masak nasi goreng dan jalan-jalan ........ wdkrn.com

Selanjutnya

Tutup

Sehatsaatpuasa Pilihan

Takjil Berupa Gorengan, Sebuah Penyesalan yang Dirindukan

17 Mei 2018   21:17 Diperbarui: 17 Mei 2018   21:36 750 2 2
Takjil Berupa Gorengan, Sebuah Penyesalan yang Dirindukan
Pedagang gorengan di pasar takjil Bendungan Hilir tengah melayani pembeli, Kamis (17/5/2018) (KOMPAS.com/NURSITA SARI)

Mendekati waktu berbuka puasa, biasanya orang-orang sudah terbayang takjil khas Ramadan yang enak-enak. Maraknya penjaja takjil di pinggir jalan pun semakin membangkitkan selera. Hmm, tapi ingat, takjil bisa menjadi godaan yang menggiurkan di penghujung tuntasnya puasa dalam suatu hari.

Beberapa jenis makanan dan minuman rupanya hanya muncul di bulan Ramadan saja, misalnya saja kolak. Tetapi ada jenis makanan yang selalu saja eksis sepanjang hari, walau disadari memiliki resiko tinggi bagi kesehatan. Jenis makanan itu apa lagi kalau bukan gorengan.

Yups, gorengan merupakan kudapan paling populer di negeri ini. Saat Ramadan, gorengan pun selalu muncul di lapak-lapak penjual takjil, dan kerap menghiasi meja makan di rumah-rumah penduduk Indonesia.

Gorengan, bisa berupa tempe goreng, bakwan, tahu goreng, cireng, lumpia dan sebagainya. Bahkan varian tempe goreng bisa bermacam lagi berupa mendoan hingga tempe goreng crispy. Tahu pun demikian, variannya dari mulai tahu goreng biasa, hingga tahu bakso, tahu isi, tahu jeletot sampai dengan tahu bulat digoreng dadakan di  mobil , anget-anget, harganya lima ratusan, uhuy...

Itu baru jenis gorengan yang masuk dalam "keluarga" kudapan. Belum lagi yang masuk dalam kategori lauk, misalnya ayam goreng, ikan goreng, udang goreng, cumi goreng tepung hingga kerupuk. Ditambah nasinya berupa nasi goreng plus telur ceplok. Lalu makanlah kita sambil nonton berita tentang isu-isu aktual yang "digoreng", komplit deh serba gorengan.

Masalahnya, di balik penampilannya yang menggiurkan itu, gorengan apa pun namanya, menyimpan bahaya bagi kesehatan. Gorengan disinyalir mengandung kolesterol jahat, hampir sejahat perlakuan Rangga terhadap Cinta. Penyakit yang ditimbulkan pun dari mulai batuk biasa, bengek hingga penyakit jantung. Ngeri...

Hanya saja, bagi penggemar gorengan, sudah tahu resikonya yang sedemikian rupa, tetap saja tak kuasa menolak godaannya. Gorengan bisa menimbulkan penyesalan, tapi kenikmatannya tetap dirindukan. Termasuk di bulan Ramadan ini, aneka gorengan ternyata tidak bisa dilepaskan begitu saja dari jajaran takjil yang beraneka rupa.

Nah, bahkan lewat tulisan ini pun saya tak berhak dan tak bisa melarang anda-anda sekalian untuk tidak makan gorengan. Mustahil itu.  Hal yang bisa saya lakukan hanyalah sekedar mengingatkan bahwa perlu ketelitian dan kehati-hatian saat hendak membeli gorengan di penjual takjil dadakan yang bertebaran.

Jika sudah sadar bahwa gorengan sejatinya menyimpan resiko, maka tak usahlah menambah masalah baru ketika terpaksa tak bisa menghindari godaan untuk makan gorengan. Kita harus lebih selektif memilih gorengan yang setidaknya lebih aman dikonsumsi. Misalnya, kita harus mewaspadai jenis minyak yang digunakan pedagang, terlihat hitam kah? Atau si pedagang berusaha menjaga kualitas gorengannya dengan selalu mengganti minyak goreng yang baru.

Gosip tentang adanya penjual gorengan nakal yang menggunakan plastik untuk dicampur dalam minyak goreng, sejatinya memang "hoax membangun", artinya kabar itu sulit kita buktikan langsung, tapi sesungguhnya bisa membuat kita sebagai konsumen lebih berhati-hati lagi memilih jajanan, terutama gorengan.

Satu indikator lainnya yang perlu dicermati saat membeli gorengan adalah, bagaimana si penjual menjajakan gorengannya. Apakah digelar begitu saja di meja beralaskan kertas koran bekas dan tanpa penutup dari debu jalanan? Well, jika kita melihat seperti itu meskipun bakwan yang ditampilkan seolah melambai minta dimakan, sebaiknya kita hindari karena resikonya menjadi berkali lipat, tak sekedar kolesterol jahat semata.

Belum lagi jika para penjual dan pembeli dengan cueknya memilih dan mencomot gorengan menggunakan tangan langsung, tanpa bantuan sendok, garpu atau alat penjepit makanan.

"Duh, mau makan gorengan yang gizinya diragukan saja kenapa harus repot amat yak?"

Eit, tapi coba bayangkan jika ada saja orang yang tadinya sempat ngupil atau apalah, kemudian memilih-milih gorengan dengan tangannya itu, eh... tak tahunya setelah dipegang gorengannya tak jadi diambil. Hal demikian sering kok terjadi. Makanya jangan jajan di kafe melulu, di mall melulu, sekali-kali rasakan euforia jajanan jalanan.

Menjadikan gorengan sebagai takjil memang tidak ada salahnya jika dipandang dari sisi HAM alias hak asasi manusia. Bebas kok, silakan. Namun, rekomendasi dari saya setelah berpanjang lebar dalam paragraf-paragraf sebagaimana di atas, alangkah lebih baik jika takjil berupa gorengan yang kita sajikan sebagai hidangan buka puasa adalah hasil karya sendiri di rumah. Lebih memuaskan, lebih aman, lebih menggiurkan, dan tentunya lebih irit.