Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Kompasianer

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ramadan Kedua untuk Felia

4 Juni 2017   16:04 Diperbarui: 4 Juni 2017   19:27 583 12 11
Ramadan Kedua untuk Felia
sumber gambar: Pixabay

 

#KolakRTC

#Cerita_WahyuSapta

Ada rindu yang menyeruak. Rindu yang tak biasa. Rindu ramadan. Tahun ini memasuki ramadan kedua. Bagi Felia, sangat istimewa. Kali kedua ia berpuasa ramadan bersama Dede suaminya. Apalagi saat ini, ada kehadiran janin dalam perutnya, memasuki bulan kelima. Terasa lengkap kebahagiaannya. Tak menyangka, bahkan ia harus menunggu satu tahun lebih, untuk mendapatkan keinginannya memiliki momongan. 

Saat itu, ia tak henti-hentinya memohon kepada Allah SWT, untuk diberi kesempatan menjadi seorang ibu. Hingga suatu hari, saat bahagia itu datang. Tak habis rasa bersyukurnya. Apapun cara ia lakukan untuk selalu menjaga kesehatan janin yang ada di dalam kandungannya. Berbagai makanan bergizi dan susu untuk bumil, meski kadang tak begitu disukainya, tetap ia santap. Demi sang janin. 

Begitu pula suaminya. Apa yang diinginkan Felia, selalu dituruti. Hingga berat badan Felia membengkak, naik dengan cepat. Tapi tak mengapa, demi sang calon adik yang telah lama diimpikan.

Memasuki bulan ramadan tahun ini, ia bersikeras untuk tetap menjalankan ibadah puasa, meski ia sedang hamil. Pikirnya, selama ia kuat menjalaninya, kenapa tidak? Berpuasa di bulan ramadan adalah wajib, seperti kewajiban beribadah lainnya. Apalagi ia mendapat kesempatan untuk bisa hamil, merupakan karunia yang tiada tara. Lalu, mengapa saat ada kewajiban beribadah, ia harus tak menjalankannya? Ia juga merasa sehat, selama ini ia selalu menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang seimbang. 

Saat ia berkonsultasi dengan dokter kandungan langganannya, ia diperbolehkan berpuasa, selama tak ada keluhan. Nah, cukup sudah. Feliapun memutuskan untuk berpuasa selama bulan ramadan. 

Dede suami Felia mencemaskan kondisinya dan janin yang ada dalam perut. Itu karena begitu sayangnya Dede pada Felia. 

"Dik, kamu jangan berpuasa dulu ya. Ingat janin yang ada dalam kandunganmu."

"Duh, bang, nggak papa. Felia baik-baik saja. Sehat. Nih, lihat, aku kuat!" kata Felia sambil memperlihatkan pergelangan tangannya. Dede tersenyum melihat ulah Felia. Dulu ia gadis cantik langsing, sekarang berubah tambun. Pipi cubby. Jadi kelihatan lucu. Tapi, biarlah, yang penting sehat, begitu batin Dede.

Setiap sahur dan berbuka, dengan semangat Felia mempersiapkan sendiri menu makanan untuk dirinya dan Dede. Tidak lupa susu bumil. Beruntung, janin yang dikandungnya tidak begitu rewel. Ia hanya mengalami morning sick pada bulan ketiga saja. Selanjutnya baik-baik saja.

Entah mengapa, di hari ketujuh puasa Ramadan, saat berbuka, Felia ingin dibuatkan minuman susu bumil oleh Dede suaminya. Padahal biasanya ia membikinnya sendiri.

"Bang, Felia ingin dibikinkan susu sama abang," pinta Felia.

"Biasanya bikin sendiri, dik,"

"Tapi ini beda, bang. Ini permintaan yang di dalam perut."

"Abang nggak tahu caranya, dik. Gimana caranya?"

"Abang ambil gelas, lalu diisi dua sendok susu. Tuang air sedikit dulu, diaduk sampai bercampur, baru dikasih air hingga penuh, bang," papar Felia. Dede kemudian mengambil gelas.

"Bang, Felia nggak mau gelas yang itu. Maunya yang ada gagang bawahnya. Yang itu bang, yang di dekat piring." Felia menunjuk gelas yang dimaksud. Gelas khusus kesayangannya.

"Aduh, macam-macam saja deh, kamu, dik!" Dede mulai bingung. Tetapi perasaan itu ditahannya. Karena ini adalah permintaan janin yang di dalam perut, calon buah hatinya.

"Bukan Felia, bang. Ini permintaan dedeq. Eh, iya, satu lagi. Kayaknya abang butuh ganti nama panggilan, deh. Jangan bang Dede, ntar mirip panggilan dedeq untuk yang di perut."

"Yee... trus abang harus ganti nama apa dong?"

"Nama abang kan Dede Fahrudin, dipanggil Rudi aja. Keren kan? Hanya sampai dedeq lahir, bang. Mau ya, bang. Permintaan dedeq nih," pinta Felia serius. 

"Okey deh, Felia cantik, demi kamu, apa sih yang tidak,"

"Bukan Felia, bang! Permintaan dedeq. Kalau abang nggak mau, ntar dedeq suka ngeces gimana, mau?"

"Iya, iya, abang mau. Abang sekarang dipanggil Rudi deh," jawab Dede eh Rudi geli. Aneh-aneh saja permintaan bumil. Jika tak dituruti bisa rame. Felia pun tersenyum lega.

***

Hari ke delapan puasa Ramadan, dedeq yang ada di dalam perut Felia agak rewel. Felia merasa gelisah tak nyaman. Rasanya pusing dan mual. Padahal pada saat sahur, cukup asupan makanan yang masuk dalam perutnya. Pekerjaannya sedikit terabai. Ia tidak konsen pada pekerjaan. Felia memiliki usaha sendiri, bidang warnet. Segera saja warnet ia titipkan pada pegawainya, Hesti, untuk menggantikan dirinya. Ia pulang ke rumah, yang tak jauh dari tempat usahanya.

"Hes, gantiin aku ya, mbak mau pulang dulu. Rasanya pusing nih,"

"Iya, mbak Fel istirahat dulu saja. Jaga kesehatan."

Sesampainya di rumah, Felia menelpon Dede alias Rudi. 

"Bang, Felia pusing." Dede yang mendapat laporan bahwa Felia menjadi bingung.

"Dik, batalin puasanya dulu. Kamu nanti kan bisa mengganti puasa dengan membayar fidyah*). Nggak usah dipaksa, yang penting kesehatanmu dan dedeq yang ada di perut," jawab Dede di seberang telpon dengan cemas.

"Iya, bang. Abang nggak usah khawatir, nanti Felia batalin puasa, demi Dedeq."

"Apa perlu abang pulang, dik?"

"Nggak usah, bang. Pekerjaan abang nanti terbengkalai." sahut Felia. Dede sedikit lega, meski cemas juga. Ia berharap Felia bisa fight.

Sedangkan Felia, ragu, antara membatalkan puasa, atau tetap berpuasa. Sayang sekali, sudah tengah hari. Tapi pusingnya tak mau diajak kompromi. Akhirnya, Felia membatalkan puasanya dengan segelas susu bumil.

"Ampuni hamba-Mu yang lemah ini, ya Allah," desah Felia menyesal. Tapi Felia yakin, Allah Maha Kasih, Maha Penyayang.

Akan tetapi, Felia akan berniat tetap berpuasa satu bulan penuh selama bulan ramadan selagi mampu. Bulan Ramadan itu bulan penuh kebaikan dan penuh berkah, segala kebaikan aka dilipat gandakan amalannya. Sayang jika ia sia-siakan.

***

Semarang, 4 Juni 2017

 

*)Fidyah adalah keringanan (rukhsah) dalam menjalankan ibadah puasa, dengan memberikan makan sebanyak hari ia tidak berpuasa kepada orang yang tidak mampu/fakir miskin. Jumlahnya sebesar seberapa ia mengeluarkan jatah makannya sehari. Orang-orang yang mendapat keringanan itu adalah orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa karena sakit atau lanjut usia, wanita hamil dan menyusui, pekerja keras yang tak memungkinkan dirinya untuk berpuasa.