Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Kompasianer

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ramadan Kedua untuk Felia #2

16 Juni 2017   10:27 Diperbarui: 16 Juni 2017   11:27 647 4 2

[caption caption="Sumber gambar: dokpri"][/caption]

#KolakRTC

#Cerita_WahyuSapta

Hari ke sepuluh ramadan, Felia berpuasa kembali, setelah dua hari sakit. Kemarin ia mendatangi bu Yul, tetangga yang tak jauh dari rumahnya. Bu Yul janda yang sudah tua, hanya hidup seorang diri. Sebenarnya ia memiliki anak, satu, tapi merantau jauh di luar pulau. Sedangkan suaminya telah lama berpulang. Pekerjaannya mencari sisa-sisa beras yang tercecer di toko beras kompleks pasar. Tujuan Felia ke rumah bu Yul untuk menghantarkan fidyah saat ia tak berpuasa. Sekalian bersilaturahmi. 

Kadang-kadang Felia memang memanggil bu Yul, untuk dimintai tolong mencuci piring dan gelas saat ada acara pengajian atau arisan RT di rumah Felia. Meskipun Felia dan Dede sering sibuk di luar rumah, sebisa mungkin mereka tetap peduli dengan lingkungan sekitar. Tetap mengenal tetangga, meskipun hanya yang terdekat saja yang mereka kenal baik. Seperti bu Yul, rumahnya tak jauh dari rumah Felia, hanya berbeda RT. Felia sering melewati rumahnya.

"Terimakasih nak Felia, semoga amalan ini dibalas Gusti Allah,"

"Aamiin, terimakasih bu Yul. Felia nggak bisa memberi banyak buat bu Yul, cuma ini, sederhana."

"Loh, ini Alhamdulillah banget," kata bu Yul berbinar dan bahagia. Felia tak lebih juga bahagianya. Tapi Felia sedikit menyesal, karena hanya bisa memberikan sesuatu yang sederhana. Ia berjanji dalam hati, bahwa jika ia memiliki dana yang lebih, ia ingin membantu bu Yul membuat warung sederhana di depan rumah, agar bu Yul tak lagi ke pasar untuk mencari sisa-sisa beras. "Semoga Allah mendengar keinginan ini." batin Felia.

Sepulang dari Bu Yul, Felia merasa lega. Lunas sudah hutangnya. Ini bagus untuk perkembangan jiwanya dan calon bayi yang dikandungnya. Ia melakukannya dengan ikhlas. 

***

"Hes, ikut mbak, yuk!" kata Felia pada pegawainya lewat telepon.

"Kemana mbak?"

"Udah, nggak usah nanya, ikut aja yuk! Aku tunggu di rumah, ya,"

"Trus yang jaga warnet siapa dong?"

"Biar Bayu aja." Hesti nurut apa kata Felia. Sebenarnya ia tidak begitu percaya Bayu untuk menjaga warnet, suka ceroboh. Tapi, biar saja deh, toh, ini kemauan Felia si bos. Ia bertanya-tanya, mau kemana Felia mengajaknya.

Sesampainya di rumah Felia, Hesti melihat Felia telah siap dengan keranjang belanjaan. Felia tersenyum menyambut Hesti.

"Yuk, kita berangkat,"

"Kita kemana mbak?"

"Ke pasar. Mbak mau belanja." Hesti keheranan. Tumben Felia ke pasar. Biasanya belanja di abang sayur yang lewat depan rumah. Dengan perut sudah kelihatan membesar, gerakan Felia tetap gesit. Selama ia mengenal Felia, bertambah kagum padanya. Semangat yang dipunyai Felia bagai semangat empat lima. 

Selesai berbelanja, Hesti terbengong.

"Banyak banget belanjaannya, mbak? Buat apa?"

"Bantuin mbak masak, ya? Nanti kamu sambil belajar masak. Mbak mau masak buat buka puasa nanti sore,"

"Kok banyak? Emang buat siapa sih?"

"Mbak mau bikin nasi bungkus. Sejadinya aja. Trus, kita bagi ke orang-orang. Kemarin mbak lihat di jalan Sudirman, banyak pemulung yang tidak sempat berbuka, karena terlalu fokus ke pekerjaannya." papar Felia.

Hesti memandang Felia, semakin kagum ia padanya. Sungguh mulia hati Felia. 

Lalu, acara masak memasak di rumah Feliapun dimulai.

***

Gema suara adzan maghrib menggema. Alhamdulillah, waktunya berbuka. Felia tersenyum lega. "Subhanallah, karena Kebesaran-Mu, ya Allah, hambamu mampu melakukan ini. Berbagi rejeki dengan para pemulung," batin Felia. 

Felia dan Dede berbuka bersama dengan para pemulung di jalan Sudirman. Hesti dan Bayu ikut juga. Ia berbuat demikian sesuai kemampuannya. Kebetulan ada sedikit rejeki, warnet sedikit ramai, karena kemarin banyak yang datang, untuk online pendaftaran sekolah. Berbuka dengan sederhana, hasil masakannya bersama Hesti tadi pagi. Tak ada kemewahan. Yang penting keikhlasnya.

Melihat senyum mereka yang tulus, adalah suatu berkah luar biasa. Ternyata berbagi, membuat hati menjadi lembut, itu terbukti, saat ia menitikkan air mata haru, yang tak bisa ia bendung. Begitu juga Dede suaminya. Dede memandang Felia, Feliapun memandang Dede. Senyuman indah melengkung dari keduanya, seolah mengatakan, "I love you, honey. Sungguh beruntung memilikimu," Dan kata itu hanya lewat tatapan mata yang syahdu. 

Waktu semakin beranjak. Ada masjid kecil, di sekitar jalan Sudirman. Mereka salat berjamaah.

***

Lebaran tinggal hitungan hari. Felia mengelus perutnya. Sambil ia berbicara seolah ia sedang berbincang dengan dedeq yang ada dalam perutnya. Ia berterimakasih, karena dedeq tidak terlalu rewel, sehingga di Ramadan kedua selama ia menikah, dapat berjalan lancar. Hanya bolong dua hari, karena Felia sakit.

Semua ini ia lakukan, untuk mendapatkan ridho Allah semata, bukan saja untuk dirinya, tetapi juga keluarganya. Juga untuk kebaikan dedeq dalam perutnya. 

Ia ingin persalinannya lancar, dengan selalu menjaga kesehatan dan kandungan. Baik dari segi lahir dan batin. Dukungan Dede juga menjadi penyemangatnya. Meski terkadang ia sangat manja, tetapi Dede dengan sabar menjaganya. "Alhamdulillah, ya Allah," seru Felia, sambil melipat mukenanya. Pagi ini, ia akan mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, juga mempersiapkan membeli beras untuk zakat fitrah. 

Syukur tak pernah lepas dari mulut Felia.

***

~tamat~

Semarang, 16 Juni 2017.