Usman D. Ganggang
Usman D. Ganggang

Berawal dari cerita, selanjutnya aku menulis tentang sesuatu, iya akhirnya tercipta sebuah simpulan, menulis adalah roh menuntaskan masalah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Lebih dari itu Cintaku

4 Juli 2016   03:32 Diperbarui: 4 Juli 2016   03:38 14 2 0

(Mengintip Yanti dalam Berdua Kita Pergi)

Cinta! Meskikah mata setiap individu  buta melihatmu, hingga orang sekitarmu senantiasa berujar, "Cinta itu buta!" Padahal sejatinya, cinta itu tak pernah buta. Konkretnya, cinta hingga kapan pun tak pernah buta.

Setidaknya, bermula dari sinilah, Yanti bernama lengkap Kusuma Sari Hikmawati , penyair kelahiran Bima _NTB , meminta dia-lirik( dia yang diceritakan) terkait menghitung jumlah pasir sepanjang Pantai Lawata lokasi objek wisata Kota Bima Provinsi NTB, dalam karyanya berjudul "Berdua Kita Pergi", terangkum dalam Antalogi Sajak ,Terimaksih Jogja" bersama Seniornya Muhammad Tahir Alwi, terbit Februari 2015 oleh Pustaka Sastra LKIS Yogyakarta, 

Iya, sebesar atau sebanyak apa pun jumlahnya pasir, secara logika, masih dapat dihitung jumlahnya, jika saja kita mau menghitungnya. Sementara cinta, meski tidak dapat menghitung jumlahnya, tokh orang akan merasakannya lebih dari memastikan jumlah pasir yang rumit hitungnya karena selain jumlahnya banyak juga bentuknya lebih kecil."lebih dari itu, cintaku padamu", desis Yanti yang dalam kesehariannya bertugas di rumah sakit itu.

Iya, berdua kita pergi. "ke mana?" tanya kita sekenanya. Ternyata, baik si-"aku-lirik"(aku yang diceritakan) maupun si-"dia yang diceritakan, berklinong-ria ke lokasi wisata. Ini penggalan deskripsi datanya:/Lewat Lawata kita berhenti/ Segenggam pasir putih kuserahkan kepadamu/ Hitunglah satu-satu sampai selesai/ Lebih dari itu , cintaku padamu//.

Mengapa dia meminta untuk menghitung? Setidaknya, "aku-lirik" membaca bahwa "dia-lirik", masih merasa sangsi cintanya si-"aku-lirik". Itulah sebabnya, dia meminta dia-lirik untuk menghitung agar selain menggunakan mata harus berusaha juga untuk merasakan betapa rukitnya memilah untuk memilih sejumlah pasir yang ada dalam genggamannya.

Iya, mencermati makna tersirat penggalan puisi di atas, secara tidak langsung mau berkata, bahwa cinta itu, tdk dapat dihitung tapi harus dirasakan, itulah cinta sejati, si pelaku cinta harus merasakan indahnya cinta yang diberikan Sang Pencipta.

Jika Anda berusaha memahami secara lengkap isi puisi ini, silakan baca pada buku "Antalogi Sajak Terimaksih Jogyakarta. Percayalah! Hasil apresiasi Anda akan memberikan simpulan bahwa puisi ini meninggalkan kesan yang mendalam buat penikmatnya. Setidaknya, ini didukung oleh betapa ekspresifnya puisi ini, Juga dari puitisnya pemanfaatan majas segarnya., hingga kita sebagai penikmatnya dalam seketika kita "terseret ke dalamnya".***)

Kota Kesultanan Bima, Subuh/04/07/16