Sri Widiyastuti
Sri Widiyastuti

Kata menunjukan rasa...

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Memaknai Momen Lebaran

1 Juli 2017   20:19 Diperbarui: 1 Juli 2017   23:43 254 0 1
Memaknai Momen Lebaran
kumpul adik dan kakak beserta anak anak

Hari Raya Idul Fitri masih terasa hangat. Tahun ini adalah tahun kedua saya berhari raya di Tanah Air bersama keluarga setelah bertahun-tahun berhari raya di negeri orang. Menjadi keluarga nomaden, tentu saja ada suka ada dukanya terutama saat seharusnya berkumpul bersama dengan keluarga besar, kita hanya mendengar ceritanya saja. Beruntung sekarang komunikasi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bisa lewat video call, whatsapp atau live Facebook. Kalau dulu hanya mendengar suara saja sudah sangat senang sekali. Bisa telponan berjam-jam agar bisa merasakan suasana lebaran di Tanah Air. Terutama takbirannya!

Alhamdulillah dua tahun ini saya sangat bahagia bisa berkumpul bersama adik dan kakak juga sanak saudara.  Setiap detiknya saya nikmati kebersamaannya. Biasanya masak sendiri untuk persiapan berhari raya, sekarang bisa melakukannya bersama kakak sambil mengobrol mengenang masa kecil dahulu saat masih ada Mama dan Papa. Hingga tak terasa, terurai air mata meskipun dalam tertawa, menertawai masa dulu. Lebaran sekarang taksama lagi karena orang tua sudah wafat. Tinggal adik kakak beserta anak-anak yang semakin membesar. Dan mulai tersadar, kami sudah semakin menua.

Selain berlebaran bersama adik dan kakak kandung, pada hari Kamis yang lalu (29/6)  saya dan keluarga juga menghadiri halal bi halal keluarga besar dari suami di sebuah hotel di Bandung. Excited tapi sekaligus gugup. Rasanya seperti akan bertemu dengan calon mertua saja! Sehari sebelumnya saya dan suami mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan ke Bandung. Sebagai awalan saya menginformasikan kepada anak anak akan bertemu dengan aki, nini, mamang, bibi, uwa dan sepupu yang belum pernah ditemui sebelumnya. Agar mereka mengerti mengapa kami mengajak mereka ke Bandung. belanja jilbab baru (dan kemudian batal dipakai), belanja sepatu buat anak ke4 dan ke5 sebab sepatunya sudah jelek, dan kemudian malamnya saya setrika baju yang akan dikenakan pada hari H  (ketauan ga rajin setrika nih heuheu) sementara suami saya browsing hotel tempat halal bi halal. Alhamdulillah dengan bekerjasama persiapan pun sudah siap. Oiya, sebagai antisipasi kena macet di jalan, suami saya membeli minuman banyak banget, kemudian disimpan di dalam freezer dan keesokan harinya diletakan dalam cool box. Untuk persediaan minum anak-anak.

Hari H, pukul 4.30 pagi kami meluncur dari rumah lewat jalan tol ke arah puncak. Di perjalanan saya download film Fatahillah untuk teman perjalanan anak anak. Hanya butuh beberapa menit saja download Fatahillah part 1 dan part 2. Download dengan paket xtra Combo XL memang cepat. Kata suami sih, ada harga ada rupa. Suami saya ini pelanggan setia XL, saya pernah menceritakannya kesetiannya. XL komitmen dengan nmemberikan pelayanan jaringan yang luas dan tercepat. Jadi di mana pun kita bisa terus mempergunakan akses internet. Download atau menonton streaming youtube tanpa kuota pula. 

Sampai di Masjid AtTTa'awun kami berhenti untuk shalat. Suami dan anak anak saya yang shalat Subuh sementara saya sedang ABC-Allah Bagi Cuti- jadi saya pergunakan untuk update posisi di WAG keluarga. Di puncak sekalipun jaringan XL bisa dipergunakan dengan lancar. Telpon pun suaranya jernih dan bening. Membuat komunikasi lancar.

Setelah shalat Subuh kami melanjutkan perjalanan. Berbekal foto satelit hasil browsing semalam, dan google map pukul 9 kami sudah sampai di tujuan. Alhamdulillah, sambutan keluarga sangat hangat sekali. Jauh dari yang saya bayangkan. Santai tapi elegan. Saya benar benar diaku sebagai keluarga. Dan tak dinyana ternyata suami saya itu cucu dari seorang seniman mashyur Bandung. Aki Enoch Atmadibrata. Saya pun segera browsing biografi Aki dan ketemu. Aki Enoch atau suami saya menyebutnya dengan Aki Enuh, adalah seorang seniman seni tari. Beliau juga seorang kareografer tarian tradisional Sunda yang diakui kepiawaiannya nasional dan Internasional. Beliau pun pernah mengajar tari di sebuah universitas di Ohio, Amerika Serikat.  Aki Enoch adalah salah satu penerima Penghargaan Seniman Senior Indonesia Mestro Seni Tradisi dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2009) dan Satya Lencana Kebudayaan dari PresidenRepublik Indonesia (2003). Selengjapnya bisa dibaca biografinya di Wikipedia. Alhamdulillah lewat silaturahim, wawasan saya jadi bertambah. Ternyata anak anak saya ada darah seni dari kakek buyutnya. Pantas saja beberapa waktu lalu, putra saya yang ketiga meminta ijin mengikuti ektrakurikuler karawitan. Mungkin, sebab inilah yang membuatnya tertarik kepada bidang kesenian sunda.

[caption caption="Keluarga besar Atmadibrata lintas generasi"]

[/caption]

 

Momen lebaran memang penuh makna. Selain Juga menambah erat tali silaturahim. Lebih bahagia lagi ketika kita bisa mengabadikannya dalam bingkai sebuah foto keluarga. Dalam momen itu juga saya dengan sepupu dan bibi dari suami bertukar nomor telepon, semoga setelah ini kita dapat bertukar kabar. Ah ... Lagi lagi saya bersyukur karena memakai XL, jaringannya yang kuat dan luas, mendukung saya untuk mengenalkan diri saya kepada bibi yang baru saya kenal. Browsing di internet beberapa buku saya yang sudah terbit membuat saya lebih pede lagi untuk berkenalan lebih jauh dengan orang-orang yang saya hormati dan sayangi. Setelah itu kami saling share foto dengan segera. Sehingga saya bisa menyimpannya baik baik sebagai kenangan indah di lebaran tahun ini.

Nah, bagaimana dengan suasana berhari raya sahabat Kompasiana? Sebelum lupa, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya untuk sahabat Kompasiana di mana pun berada. Salam Aidil Fitri.