Ruslan Yunus
Ruslan Yunus Peneliti dan Penulis

Belajar Menyenangi Interdisipliner Humaniora.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

"Ramadan ya Habib, Laytaka Dawman Qareeb!"

24 Juni 2018   15:55 Diperbarui: 28 Oktober 2018   13:40 1104 1 0

Maher Zain penyanyi berdarah Lebanon yang kini menetap di Swedia ini adalah juga seorang komponis, produser, dan penulis lagu. Lagu "Ramadan" nya ini, mengantarkan imajinasi saya kepada perpisahan dengan Ramadan, yang sebentar lagi akan tiba.

Seperti yang saya kutip dari Dr. Jamal D. Rahman, di dalam "Ramadhan Dalam Imajinasi Nabi (2008),  berlangsung dialog antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan sahabatnya. Dialog ini diambil dari kitab klasik di pesantren "Durrotun nashihin".

"Di malam terakhir Ramadan, langit, bumi, dan para malaikat semuanya menangis karena musibah yang menimpa umat Muhammad".

"Musibah apakah gerangan itu, wahai Rasulullah ?", bertanya sahabat.

"Kepergian bulan Ramadan !"

Gambaran kepergian Ramadan sebagai sebuah "musibah" menunjukkan betapa berharga dan tinggi nya posisi Ramadan di antara bulan-bulan lainnya. Tentu tanpa mengabaikan bahwa dengan berakhirnya Ramadan, kita memasuki hari Idul Fitri, hari kita kembali ke fitri.

Digambarkan bahwa dengan akan berakhirnya Ramadan ini membuat bukan hanya orang-orang saleh dan mukmin yang merasa kehilangan. Bahkan langit, bumi, dan malaikat pun turut menangisi kepegiannya. Keutamaan dan kemuliaan Ramadan, bukan semata karena Ramadan membawa magfirah atau pengampunan yang luar biasa. Tetapi juga karena Ramadan membawa rahmah, yang luar biasa pula !

Di bulan Ramadan inilah, pintu- pintu pengampunan itu dibuka selebar- lebarnya. Lailatulqadr, kemuliaannya bahkan digambarkan melebihi kemuliaan seribu bulan. Malam qadr ini tak pernah dianugerah kan kepada umat- umat terdahulu, kecuali kepada umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Maka siapa yang pada malam itu beribadah (dan melakukan kebaikaan- kebaikan), ia seperti beribadah (dan berbuat kebaikan- kebaikan) selama lebih dari seribu bulan.

Tentang keagungan dan magfirah yang menyertai Ramadan, digambarkan di dalam hadis- hadis Qudsi berikut ini. Yang saya kutip lagi dari Jamal D. Rahman (2008).

Pada awal Ramadan, angin berembus dari bawah singgasana Tuhan. Dan, daun- daun pepohonan surga pun bergoyang, hingga terdengar desir semilir teramat merdu. Tak pernah terdengar sebelumnya desir semilir semerdu itu !

Pada bulan Ramadan arasy dan singgasana Tuhan berseru, sementara malaikat berkata lirih, " Beruntunglah umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka dianugerahi kemuliaan. Matahari, bulan, bintang, dan burung-burung di udara, ikan di air, dan semua makhluk yang memiliki ruh di bumi --kecuali syaitan-- memohonkan ampun bagi umat Muhammad. Mereka berdoa siang dan malam tak henti- hentinya.

Lalu Allah berkata kepada malaikat, "Persembahkanlah (pahala) salat dan tasbihmu di bulan Ramadan ini kepada umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam".

Alangkah agungnya bulan Ramadan !.

Bila terhadap setiap amal kebaikan seorang hamba, akan dilipat gandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali, terhadap ibadah puasa Ramadan, Allah sendirilah yang akan menentukan kelipatan balasannya. Inilah salah satu rahmah luar biasa dari Ramadan.

Seperti dikatakan di dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, setiap amal yang dilakukan anak Adam akan dilipat gandakan. Satu kebaikan akan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Tapi kemudian Allah  Azza Wa Jalla berfirman: "Kecuali puasa. Puasa itu adalah untuk- Ku, dan Akulah sendiri yang akan membalasnya. (Karena) orang- orang yang berpuasa itu telah meninggalkan syahwat dan makannya demi Aku semata !".

Demikianlah orang- orang yang berpuasa itu, bukan lagi sekedar meninggalkan syahwat dari mempergunjing kan saudaranya. Bahkan menahan mulutnya dari berkata, kecuali dengan kata- kata yang akan mendekatkan diri kepada Allah. 

Mereka pun tidak lagi sekedar meninggalkan syahwat penglihatan, pendengaran, dan pikiran dari segala perkara yang sia- sia. Kecuali untuk  hal- hal yang bermanfaat. Pada diri mereka dan pada diri saudara- saudara mereka, sesama hamba Allah. Mereka bukan lagi meninggalkan syahwat berkeluh- kesah, bahkan menggantinya menjadi kebiasaan bersyukur.

Orang- orang yang berpuasa itu, bukan lagi sekedar menahan  syahwat  dari mengambil yang bukan hak mereka. Bahkan terhadap yang diizinkan untuk diri mereka, diambilnya kecuali secukupnya agar lebih kanaah dengan hidup ini.  Mereka tidak lagi sekedar menahan makan dan minum pada waktu siang hari. Tetapi juga menahan diri dari makan dan minum yang "berlebih- lebihan" ketika sudah berbuka. Mereka makan dan minum sekedarnya, agar bisa pula merasakan lapar dan hausnya orang- orang yang sedang kekurangan makanan.

Maka, perpisahaan dengan Ramadan inilah yang membuat para sahabat terdahulu, begitupun orang- orang saleh dan mukmin  menangisi kepergian nya. Bulan magfirah dan rahmah. Tak ada jaminan  bahwa kita akan menemuinya lagi tahun berikutnya. 

Dengarlah, elegi perpisahan mereka dengan Ramadan. Ketika Ramadan datang, cinta akan ada dimana- mana. Ramadan adalah kekasih. Kekasih yang diinginkan selalu menemani. Kekasih yang seandainya mungkin tak ingin dilepaskan pergi !  

"I  feel so alive/ It's  like my soul thrives in your light/ But how I wish you'd  be/ Here with me all year around Ramadan  Ramadan/ Ramadan  Ramadan/ Ramadanu  ya habib/ Laytaka dawman  qareeb/  How I  wish you  were always  near/  Love is  every where/ So  much peace fills  up the air

(Aku merasa sungguh hidup/ Seakan jiwaku masuk ke dalam cahayamu/  Tetapi betapa kuberharap kau kan selalu/  Disini, bersamaku sepanjang tahun/ Ramadan Ramadan/ Ramadan yang terkasih/ Betapa kuingin kau selalu disini/ Cinta di seluruh penjuru/ Kedamaian penuhi angkasa)- (Maher Zain).

Wallaahu a'lam.


Bukit Baruga- Makassar, 15 Juni 2018.

kompasiana@ruslanyunus.   

text: all rights reserved.