T.H. Salengke
T.H. Salengke Akademisi

Penulis lepas yang masih belajar merajut kata menjadi kalimat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengejar Berkah Ramadan yang Tidak Otomatis

30 Mei 2017   21:36 Diperbarui: 31 Mei 2017   07:11 528 14 13
Mengejar Berkah Ramadan yang Tidak Otomatis
Ilustrasi: femmehub.com

Ramadhan disebut-sebut sebagai bulan penuh berkah. Semua kebaikan dicatat sebagai ibadah yang nilai imbalannya berlipat ganda. Di dalamnya penuh rahmat, pengampunan dan jaminan bebas dari segala bentuk siksaan. Hal yang lebih menarik bahwa pintu syurga dibuka lebar dan ditutupnya pintu neraka dengan serapat-rapatnya serta setan-setan dibelenggu.  

Masalahnya, apakah setelah kita sampai ke bulan yang ditunggu-tunggu itu lalu kita puasa, tarawih dan sahur maka dengan sendirinya kita akan dapat keberkahan itu? Atau masih ada yang lain lagi seperti memburu lailatul qodr dan sampai titik terakhir yakni idul fitri, merayakan kemenangan setelah memerangi hawa nafsu selama sebulan penuh?

Berkah dilihat dalam konteks anugrah dari Yang Maha Kuasa yaitu Allah kepada hambanya yang memasuki Ramadan dengan penuh rasa keimanan, memperhatikan nilai dan norma bulan suci maka segala janjiNya akan dianugrahkan kepada sesiapa saja. Mendapat pemberian Yang Maha Kuasa merupakan sebuah berkah dalam hidup di dunia ini.

Namun demikian banyak yang mempertayakan mengapa masih maraknya kejahatan dan kemaksiatan padahal setan-setan semuanya terbelenggu? Suatu yang menarik untuk ditelaah dengan kesimpulan awal bahwa dalam diri manusia itu ada sifat kesetanan sehingga bisa saja saat masuknya Ramadan kejahatan dan kemaksiatan tetap berjalan seperti pada bulan-buan sebelumnya.

Umat Islam mensikapi Ramadan dengan berbagai bentuk dan cara. Yang pasti mayoritas ummat melihat bahwa bulan suci ini sekadar rutiitas tahunan, terkandung di dalamnya kewajiban menahan diri dari makan dan mium serta hubungan seksual dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan segala anjuran memperbanyak kebaikan dan mencegah segala bentuk kemungkaran yang pada akhir menjelang idul fitri disyariatkan mengeluarkan zakat firah sebagai penyempurna ibadah Ramadan seorang hamba.

Selain serangkaian hal wajib, selama Ramadan juga disunnatkan solat tarawih yang merupakan ibadah spesial karena hanya dilakukan pada bulan Ramadan dengan cara dan ketentuan waktu yang telah ditetapkan.

Keberkahan Ramadan memang sangat luar biasa. Segala bentuk kebaikan nilainya berlipat ganda bahkan bisa melebihi pahala ibadah wajib di bulan-bulan lain. Oleh karena itulah, sepanjang hari sangat dianjurkan membaca al-Quran, membaca buku-buku agama dan ilmu pengetahuan, bersedekah, diskusi yang bermnfaat, saling nasehati dalam kebaikan dan kesabaran, menjenguk orang sakit dan melayat kematian, bersedekah dan melakukan interaksi sosial dalam kontek silaturrahmi.

Segala kewajiban, sunnah, dan anjuran selama Ramadan sangat jelas. Demikian juga dengan larangan-larangan. Namun hal yang sering dilupakan adalah segala hal yang berhubungan dengan perniagaan dan bisnis, politik dan kekuasaan, diamana kita tetap melihat perlakuan menyimpang seperti penipuan, korupsi, makar, fitnah dan sebagainya padahal dalam bulan suci seolah-olah setan yang terbelenggu tampak tetap bisa menguasai jiwa manusia bahkan dalam beragama bisa timbul sikap in group dan out group dengan sendirinya terjadi disitegrasi dalam beragama dan bermasyarakat.  

Keberkahan beragama dan bermasyarakat terjadi bila terciptanya integrasi sosial antar ummat secara integral, mengambil ibrah dari semua rangkaian ibadah karena keberkahan itu tidak datang secara otomatis kepada siapa saja yang berada di dalam bulan puasa. Hendaknya berusaha senantiasa memupuk dengan semangat dan kesyahduan bulan Ramadan.

Sekadar renungan seusai tarawih.

KL:30052017