Tabrani Yunis
Tabrani Yunis Guru

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Thrkompasiana Pilihan

Ketika Imam Lupa, Kami Salat Id Dua Kali

17 Juni 2018   14:10 Diperbarui: 17 Juni 2018   16:33 835 4 1
Ketika Imam Lupa, Kami Salat Id Dua Kali
ilustrasi. dok. Sumbar.antara.com

Oleh Tabrani Yunis

Terkadang, ketika sesuatu sudah kita rencanakan dengan baik, hal-hal yang tak terduga bisa terjadi. Walau sesuatu yang kita lakukan itu sudah menjadi kebiasaan dan tak mungkin kita lupa, namun dalam banyak fakta, ada saja yang terjadi. Ya, ada saja yang terlupa atau kita sebut dengan silap atau juga khilaf. Artinya, kemungkinan salah itu selalu ada. Itulah namanya kita manusia. Sebagaimana kita ketahui dan sadari bahwa manusia itu punya sifat lupa. Punya sifat silap atau khilaf. Karena yang tidak punya sikap atau sifat lupa hanyalah Allah.

Oleh sebab itu, dalam hidup ini, tidak satu pun manusia yang tidak lupa,tidak luput dari kesalahan atau tidak melakukan kesalahan sekecil apapun. Jadi kesalahan dan kekhilafan dan silap itu memang sifat manusia. Silap dan lupa itu pun bisa terjadi kapan saja. Sedang ingat pun bisa lupa. Ya apa lagi saat lupa, ya jadi lupa-lupa ingat. Pokoknya, lupa bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Terhadap utang saja banyak yang lupa, apalagi pada hal yang tidak berbentuk utang.

Berbicara soal lupa, khilaf dan silap, dalam tulisan ini penulis kembali teringat dengan apa yang terjadi ketika salat Iedul Fitri, 1 Syawal 1439 H di sebuah masjid di kampung istriku, Meurandeh Alue, Kecamatan Bandardua, Pidie Jaya. Tulisan ini bukan ingin menunjukan hal-hal yang tidak pantas diceritakan. Karena kejadian ini adalah pelajaran berharga bagi penulis, juga bagi orang kampung. Setelah penulis analisis atau kaji-kaji, ada banyak lesson learned yang penulis dapatkan.

Namun sebelum berbicara soal hikmah yang banyak, alangkah lebih arief kalau diceritakan dahulu apa yang terjadi. Ya harus dipaparkan kembali apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa ada banyak hikmah yang bisa dipetik di dalam kejadian itu.

Sekitar satu menit sebelum menunaikan salat Ied, seperti biasa di tahun-tahun lalu, imam berdiri dan meminta para jamaah di dalam masjid untuk berdiri dan mengatur saf. Saf yang rapi dan tertib. Lalu Imam memberitahu para makmum tentang tata cara salat Idul Fitri. Bahkan mengingatkan pula bagaimana salat dilakukan, mulai dari niat salat, jumlah takbir di rakaat pertama sebanyak 7 kali dan di rakat kedua sebanyak 5 kali.

Salat Ied pun didirikan. Imam melakukan takbir 7 kali dan diikuti para makmum di belakang. Kemudian bacaan al fatihah dan ayat pendek, di rakaat pertama. Pada rakaat kedua, seharusnya imam melakukan takbir 5 kali, namun entah mengapa, imam lupa dan langsung membaca al fatihah seperti layaknya salat 5 waktu.

Sayangnya tidak ada makmum yang memberikan isyarat kalau Imam silap atau khilaf, karena tidak melakukan takbir lima kali sebagaimana layaknya salat Ied. Begitu pula ayat pendek usai al fatihah selesai dibaca, lalu Imam tersadar kalau beliau silap atau salah alias khilaf, maka Imam mengulangi takbir sebanyak lima kali dan membaca lagi alfatihah dan ayat pendek yang sama. Ketika sujud, dilakukanlah sujud sahwi. Setelah salat selesai, lalu makmum yang berdiri di belakang dan khatib yang akan naik mimbar mengingatkan agar imam mengulangi atau melakukan kembali salat Ied, karena salat yang sudah dilakukan dianggap batal. Imam pun mengajak kembali makmum untuk berdiri dan mengulangi salat. Salat Ied pun kembali dilaksanakan.

Usai salat Ied yang kedua ini, khatib Iedul Fitri naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbah Ied. Karena Imam tidak meminta maaf, khatib pun menyampaikan atau memohon maaf kepada para jamaah Ied atas kekhilafan atau kesalahan yang terjadi saat salat Ie tersebut. Ini dilakukan untuk menghindari munculnya protes atau tanggapan negatif dari para jamaah. Ini menjadi penting, karena hal seperti ini tergolong hal yang sensitif di kampung ini.

Oleh sebab itu, agar tidak ada pihak yang saling menuding atau berpandangan negatif, khatib yang memiliki otoritas di podium, maka dianggap sesuatu yang lebih tepat. Lalu, khatib melanjutkan khutbah Ied yang membuat jamaah terpukau hingga khutbah selesai dan semua jamaah berdiri membentuk lingkaran dan saling bersalaman, saling memohon maaf lahir dan batin.

Bisa jadi, apa yang terjadi di masjid Pancasila pagi itu adalah sesuatu yang mungkin kita katakan seharusnya tidak terjadi. Juga pernah terjadi di masjid-masjid lain yang kemudian diikuti dengan sujud sahwi atau juga membatalkan salat tersebut dan menggantikannya dengan cara melakukan kembali salat Ied. Sebagaimana hakikatnya manusia itu pelupa, tidak mungkin pula tidak ada salah atau khilaf.

Maka apa yang terjadi kala itu, bisa menjadi pembicaraan orang. Paling kurang, ketika pulang ke rumah, menceritakan pada keluarga. Begitu pula ketika saling berkunjung saat hari raya, hal itu akan menjadi pembicaraan. Ada yang positif dan ada pula negatif. Semua bisa pula terjadi.

Dalam perspektif positif, apa yang terjadi kala itu adalah sebuah pelajaran, sebuah peringatan bahwa setiap orang bisa salah atau khilaf. Oleh sebab itu, kejadian itu memberikan banyak hikmah kepada semua jamaah yang hadir. Ada beberapa hikmah yang kita petik. Pertama, seperti disebutkan di atas, kesalahan itu sendiri adalah pelajaran bahwa yang namanya manusia tidak lepas dari kesalahan atau khilaf. Kedua ketika imam salah, seharusnya ada yang memberikan isyarat akan kesalahan tersebut.

Ketiga, seharusnya orang-orang atau makmum yang berdiri di belakang imam adalah orang-orang yang faham dan bisa menggantikan posisi imam, ketika imam mengalami sesuatu yang membatalkan salat. Ke empat, ketika orang membicarakan dan mendiskusikan kasus itu, ia akan belajar dari kasus itu, lalu mencari tahu apa yang benar dilakukan kala imam salah atau silap. Siapa yang harus melakukan dan bagaimana.

Kelima, dengan kasus itu para jamaah bisa menambah ilmu pengetahuan agamanya lagi. Ke enam, ini adalah pengalaman, dimana pengalaman adalah guru yang mengajarkan kita agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sudah pernah kita lakukan. Tentu akan sangat banyak hikmah yang kita petik dari hal-hal seperti ini. Tinggal pada kemauan kita dan kemampuan kit menganalisis dan mengambil hikmah.

Selayaknya kita semua mengambil ikhtibar dari kesalahan atau kesilapan imam dalam memimpin salat. Selayaknya pula tidak menyalahkan, walau harus menegakkan kembali salat ied hingga berulang menjadi dua kali. Soal sah atau tidaknya salat kita, itu adalah hak Allah. Yang penting kita tegakkan salat sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul. Kalau ada salah, yang kecil kita hilangkan dan yang besar kita kecilkan. Apalagi Islam sendiri adalah agama yang damai.

Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1439 H. Mohon maaf lahir dan batin.