Syifa Ann
Syifa Ann pelajar/mahasiswa

Alumni Sosiologi, Penyuka Puisi | Pecinta Buku Nonfiksi & Kisah Inspirasi. | Pengagum B.J Habibie. | Pengguna K'- Mobilian. | Addicted With Joe Sacco's Books. | Risk Taker. ¦ A Warrior Princess on Your Ground. | Feel The Fear, and Do It Anyway :)

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Plagiarisme Dunia Maya: Menolak atau Maklum, Itu Pilihan

2 Juli 2017   11:56 Diperbarui: 3 Juli 2017   14:08 795 17 5

Kemunculan jaringan internet telah membawa peradaban manusia selangkah lebih maju, banyak hal menjadi lebih mudah dengan adanya jaringan yang saling terkoneksi itu. Keberadaan internet pula yang memunculkan istilah dunia maya, Dunia maya membuka ruang untuk orang menjadi apa saja dan siapa saja, salah satu hal yang bisa lebih mudah dilakukan di dunia maya adalah menulis dan menjadi penulis.

Jika dahulu untuk diakui sebagai penulis, salah satu cara yang biasa ditempuh adalah mengirimkan tulisan ke media cetak lalu menunggu kabar beberapa minggu sampai bulan untuk hasilnya, maka sekarang dengan adanya dunia maya kesempatan untuk mempublikasikan tulisan menjadi lebih luas, dengan bermodal jejaring sosial pun, asal tahan mengetik tulisan yang panjang dan konsisten lalu mengunggahnya misalnya di facebook seseorang bisa mengasah bakat dan kemampuan menulisnya dengan cara ini.

Sayangnya konten di dunia maya terutama yang berbentuk tulisan seringkali amat rentan dengan penjiplakan atau plagiat. Secara sederhana, plagiat berarti mengambil karya orang lain dan mengakui karya tersebut sebagai miliknya sendiri tanpa mau repot-repot mencantumkan sumber. 

Di ranah kepenulisan dunia nyata tindakan plagiat termasuk "dosa besar" dunia literasi, semua di ranah kepenulisan dunia nyata sepakat soal itu. Tapi menyoal plagiarisme di dunia maya, untuk sebagian orang, konsep plagiat di ranah ini sendiri masih menuai pro-kontra seperti terbelah menjadi dua kubu, ada sebagian yang bilang bahwa plagiarisme di dunia maya bisa dimaklumi dengan alasan tulisan yang terunggah di dunia maya bukan tulisan ilmiah dan bukan untuk tujuan pendidikan, atau dengan alasan bahwa si pelaku plagiarisme hanya melakukan aksinya untuk eksis dan iseng ditambah lagi kalau usia si pelaku plagiat masih muda, itu biasanya akan lebih dimaklumi.

Di sisi lain, ada satu kubu lagi yang dengan tegas menolak plagiarisme di manapun dengan alasan apapun.

Lalu di mana posisi saya? Sebagai orang yang sampai saat ini masih terus belajar menulis, saya membenci plagiat baik di ranah dunia nyata ataupun dunia maya. Karena dibalik segala sesuatu yang diproduksi di manapun tempatnya pasti ada prosesnya, di situ ada pikiran yang dituangkan, ada kerja, ada usaha. Jadi enak saja kalau plagiator mengambil dengan bebasnya. Meski tulisan itu hanya terunggah di dunia maya dan bukan kategori ilmiah, sebuah tulisan tetap menggunakan pikiran untuk merangkainya menjadi padu dan enak dibaca. Lantas jika sebuah tulisan diunggah di dunia maya, apakah tulisan itu berarti bebas dari perlindungan dan kepemilikan hak cipta?

Tidak. Memang, jika sebuah tulisan diunggah ke dunia maya, tulisan itu akan bebas dibaca oleh publik dan dibagikan juga oleh warganet hingga menyebar ke mana-mana, tapi tidak lantas menghilangkan hak ciptanya. Siapa yang pertama kali membuat, dialah pemilik hak cipta. 

Begitupun dengan sebuah tulisan, contoh sederhananya, jika suatu saat novelis Krisnha Pabichara mengunggah beberapa bagian novel Natisha-nya di facebook apa lantas bagian-bagian novel tersebut yang diunggah di facebook boleh dikopas, disalin tempel seenak jidat si penjiplak, hanya karena novel itu ada di facebook?

Kalau ada yang bilang tidak masalah karena konten dunia maya itu milik publik, sungguh saya akan jadi kasihan pada Krisnha Pabichara sebagai penulis asli Natisha. Karena sudah menulis susah-payah eh karyanya dijiplak dan diakui milik si penjiplak--ini hanya misal.--semoga tidak terjadi. Mengunggah kontenmu di dunia maya bukan berarti kamu harus merelakan kehilangan hak cipta atasnya.

Mungkin benar jika tulisan di dunia maya bukan tulisan ilmiah, tapi tetap butuh pikiran untuk memproduksi tulisan tersebut. Karenanya plagiat, baik di dunia maya atau pun dunia nyata tetap tidak etis. Karenanya saya menolak plagiarisme berapapun usia si pelaku selama ia sudah tamat dari sekolah dasar. Karena apa?

Usia pra remaja selepas sekolah dasar, sampai usia remaja diakhir masa SMA adalah usia emas untuk seseorang mulai mematangkan diri, belajar bertanggung jawab mulai dari hal kecil, termasuk apa yang dia tulis.

Jika punya minat menulis tapi tidak bisa menulis maka belajarlah, di zaman sekarang ini, sarana untuk belajar menulis semakin banyak-- bahkan yang bisa diakses secara gratis, selamanya hanya bermodal koneksi internet. Jika tidak mengerti etika penulisan cobalah bertanya.

Akan banyak yang menjelaskan padamu. Atau gunakan akun medsosmu selayaknya fungsinya. Bersosial. Followlah banyak akun penulis yang sudah punya karya. Itu gunanya twitter, facebook dan instagram punya tombol follow, salah satunya menghubungkan orang yang punya minat sama, dan di era media sosial seperti sekarang, banyak penulis yang semakin membuka diri terhadap pembaca, jangan sungkan bertanya, sepanjang soal penulisan, kebanyakan pertanyaanmu pasti akan dijawab tapi sapalah dengan sopan tentu saja.

**
Banyak sarana untuk belajar menulis jika mau, itulah kenapa plagiarisme baik di dunia nyata ataupun maya untuk saya tidak bisa dimaklumi. Semuda apapun usia si pelaku. Melakukan plagiat sekali lalu minta maaf itu masih dapat dipahami, tapi jika seseorang melakukan plagiat berkali-kali untuk kemudian minta maaf lagi itu namanya ngeyel dan kebiasaan--Yang tentu saja tidak baik dibiasakan. Dan untuk saya jika seorang ketahuan melakukan plagiat baik di dunia nyata ataupun maya, kemudian dibully akibat perbuatan memalukan itu, hal itu adalah salah dia sendiri. Bukannya saya membenarkan tindakan bullying, tidak tapi siapa suruh plagiat?

**

Di sisi lain, bagi sebagian orang, plagiarisme dunia maya pun masih berada di wilayah yang abu-abu dalam perspektif masing-masing. Tidak ada pandangan yang bisa dipaksakan sama dalam semua hal. Sampai kapanpun, para pemaklum plagiarisme dunia maya akan tetap memaklumi plagiarisme dunia maya dengan alasannya masing-masing--toh bangsa kita memang bangsa pemaaf sejak dulu. dan banyak aturan di negeri ini yang masih abu-abu, termasuk soal literasi yang berada dalam fokus ke sekian di ranah pendidikan Indonesia.

**
Begitupun para penolak plagiarisme, sampai kapanpun akan tetap menolak plagiarisme dengan dalih apapun.

Pada akhirnya menolak atau memaklumi tindakan plagiarisme di dunia maya adalah pilihan bagi setiap orang, tak ada satu sudut pandang pun yang bisa dipaksakan. Pada akhirnya segala perbedaan tetap akan jadi corak dalam dunia yang tak selalu bisa diseragamkan.

Salam Kreatif!