Syarif Enha
Syarif Enha

Manusia hidup harus dengan kemanusiaannya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Merawat Kesunyian

2 Juli 2016   00:58 Diperbarui: 2 Juli 2016   01:21 24 0 0

Pernahkah kau merasa sepi dan sendiri ketika harus berbagi? Saat anda merasa harus bercerita panjang lebar mengenai banyak hal, ternyata tidak ada seorang pun yang ada di dekatmu. Sehingga kau merasa begitu “sunyi”. Siapa lagi yang bisa menemanimu selain dirimu sendiri.

Atau di lain kesempatan, anda memiliki keinginan, angan-angan, harapan atau apapun yang ingin anda bagi dengan siapa saja, namun tidak ada satupun yang mau mendengar dan memahami ide besar anda. Anda tentu akan mengalami kesendirian, meski bersliweran orang disekitar. Siapa lagi yang bisa anda ajak bicara, kecuali anda sendiri?

Perasaan yang silang sengkarut antara kecewa, jengkel, marah, dan kehendak untuk berteriak, memaksa, namun tiada daya.

Berhentilah, diam sejenak dalam keheningan. Tanpa engkau sadari, dirimu akan pecah menjadi banyak karakter. Masing-masing berpendapat menurut pemikirannya. Suasananya akan begitu riuh melebihi sebuah seminar yang rutin di gelar. Masalahmu akan segera beres dengan sekian banyak perspektif. Tinggal dirimu merangkum dan menyimpulkan, apa yang sebenarnya bisa kau ambil langkah penyelesaian masalahmu itu.

Mungkin, inilah yang disebut kawanku sebagai menemukan temali ilmu. Bahwa pada diri setiap orang tersembunyi banyak pemikiran yang bisa dirangkum. Banyak ilmu yang bisa disimpulkan. ketika berhadapan dengan satu masalah, maka setiap karakter yang berada di balik tempurung kepala kita, masing-masing memberikan pandangan menurut perspektifnya masing-masing, sehingga kita begitu kaya pendapat untuk bisa mempertimbangkan dengan jernih. Permasalahannya, kita tidak memiliki kecerdasan untuk menimbang banyak suara yang bersliweran itu.

Jika para penulis besar menyatakan bahwa profesi penulis adalah dunia sunyi. Maka sebenarnya tidak sepenuhnya demikian. Dunia dalam diri manusia begitu riuh dan beraneka, sehingga tidak selayaknya kita merasa sepi. Hanya saja, kadang kita terlalu memandang bahwa ramai itu bergantung pada keadaan dan suasanya, tidak pada bergerak-atau –diamnya akal pikiran kita.

Kebaikan itu akan lebih bnyak hadir kepada orang-orang baik. Atau dalam kata lain, orang baik adalah orang yang selalu berpikir positif, selalu berprasangka baik kepada keadaan dan siapa saja. Dengan perspektif tersebut, saban harinya tidak akan hadir kepada kita selain kebaikan.

Dalam diri manusia, Allah titipkan nalar yang begitu dahsyat. Sesuatu yang tidak diberikan kepada mahklauq Allah selain manusia. Betapa istimewanya. Namun kadang kita taruh nalar itu di bagian paling belakang. Mengutamakan nafsu yang gelap, sehingga nalar yang jernih justru tersungkur tak berdaya.

Apakah juga nalar harus senantiasa kita taruh di hadapan? Tidak juga. Allah memberikan ukuran dan mekanisme kerja nalar itu agar berujung pada satu kebaikan. Setiap hal yang diciptakan Allah telah memiliki kaidah system atau sunnah atau yang sering disebut sebagau sunnatullah. Bagaimana kita mensikapi segala yang ada, Allah telah menggariskannya.

Ilmu pengetahuan memiliki kaidah nalarnya sendiri. Bernegara memiliki tata pola pikirnya sendiri. Beragama juga memiliki kaidah nalarnya yang khusus. Ada kalanya kita canggih bernalar dalam agama, tapi kita kurang dalam bernalar Ilmu. Kadang kita hebat dalam bernalar politik kenegaraan, namun kita alpa ketika harus bernalar beda dalam bersikap di lingkup keagamaan. Maka tidak mengherankan jika pada akhirnya kita bingung, linglung dan payah pada kondisi pikir kita sendiri.

Kenapa hidup begitu rumit?

Mari pelan-pelan kita mengurai. Dimulai dari kesunyian, semoga kita menemukan kejernihan. Amin.