Suhendra L. Hardi
Suhendra L. Hardi pendidik

Bilai ketulusanmu tidak dihargai, balaslah ia dengan keikhlasan, lalu pergilah sejauh mungkin, tanpa pernah mengingat-ingat lagi |Menikmati Utopia Kehidupan|

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

(cerpen) Aruna dan Nyala Obor Takbir

5 Juli 2016   05:27 Diperbarui: 5 Juli 2016   09:30 105 1 0

Tangan lembut itu membangunkanku lebih awal. Bila biasanya menjelang subuh Umi selalu membangunkanku, maka kini jauh sebelum subuh Umi sudah membelai keningku lalu mengecupnya. Satu kata yang membuatku langsung terjaga, `Sahur, Nak`.

Ya, hari ini akan menjadi hari pertama puasa. Tak sabar rasanya aku ingin menuntaskan sebulan penuh puasa bareng Abi dan Umi. Pasti menyenangkan. Tahun lalu, aku belum mengerti seperti apa puasa. Tapi setelah Wak Jamal cerita banyak soal puasa di surau, yang kedatangannya bak tamu mulia dan istimewa, serta nilai pahalanya yang berlipat dari biasa, aku langsung saja bilang ke Umi untuk bisa ikut sahur dan puasa, seperti Abi dan Umi. Aku pasti sanggup dan kuat. Dan, bila sepertiga malam ini Umi membisikkan bahwa hari ini adalah sahur pertama, tanpa komando aku langsung terjaga dan ke kamar mandi. Beristinsyaq 3 kali, lalu mencuci tangan dan mencuci wajah. Aku siap untuk sahur pertamaku.

Abi tengah asyik berbincang, Umi pula ikut tertawa di sela obrolan itu. Apakah aku yang amnesia atau barangkali ingatanku yang rusak, tapi di antara mereka sedang duduk lelaki berpewakan tinggi mengenakan kemeja hijau dan kain sarung serupa. Kulitnya lebih putih dari kebanyakan orang sini yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Agak ragu aku bergabung di tikar pandan yang telah terhidang juga berbagai menu sahur.

`Aruna, ayo duduk sini` lelaki itu menyapaku.

Bagaimana bisa ia tahu namaku. Umi dan Abi ikut menatapku dengan senyum. Aku tidak tahu harus bagaimana, dengan ragu aku duduk di tepat di sebelah lelaki itu. Tercium semerbak bau wanginya, sejuk sekali. Aku sangat ingin bertanya siapa ia, tapi melihat Abi dan Umi begitu akrab, aku ragu untuk bertanya. Barangkali aku saja yang lupa. Tidak mungkin orang yang tidak dikenal baik bisa duduk di antara kami.

***

Rupanya lelaki itu menginap di rumah. Ia menginap di kamar depan. Aku baru tahu ruangan di salah satu sisi ruang tamu kami adalah kamar. Ah, kemana saja aku selama ini. Apakah bagi anak berusia 5 tahun gejala seperti ini normal, dimana kita sering lupa pada hal-hal di sekeliling kita. Ini adalah rumah dimana aku lahir dan tumbuh, bagaimana aku bisa mengabaikan hal seperti itu. Aku meremas rambutku sendiri sambil menunduk.

`Aruna, bagaimana puasa hari ini, kuat kan?`

Lelaki itu muncul di depanku. Mukaku memerah, malu. Ia lalu mengusap rambutku dan berjongkok sehingga aku apat melihat jelas sorot matanya yang jernih.

`Hari ini, Abang ajari baca Al Quran ya, mau  ?` Aku menganggukkan kepala.

`Nah Aruna wudu dulu, kita ke surau bersama, nanti Abang ajari baca Al Quran. Kata Umi, Aruna sudah sampai IQRA 6 kan, berarti sudah siap membaca Al Quran`.

Mau tak mau aku bungah, anak mana yang tidak bahagia akan diajari membaca Al Quran. Bila mengaji di surau dengan Wak Jamal kami harus lama sekali mengantri. Karena hanya Wak Jamal satu-satunya guru ngaji yang harus mengajari kami ber 32. Lebih lagi Wak Jamal memprioritaskan mereka yang masih IQRA di bawah 4. Maka tawaran ini sungguh sangat menggembirakan.

Sejak saat itu, kutau bahwa hariku menjadi lebih menyenangkan. Aku rupanya punya seorang yang bisa ku panggil Abang. Dan lebih istimewa karena di puasaku yang pertama, Abang selalu memiliki agenda harian bersamaku. Kadang Abang masuk ke kamar dan mengambil sebuah buku tebal penuh gambar warna. Dengan setia Abang membacakan keterangan gambar dalam buku itu. Gambar negeri yang sangat jauh dari tempatku. Di hari lain Abang mengajakku membuat mobil mainan dari batang pisang, ketapel dari ranting jambu, wayang dari tangkai daun ubi kayu, dan banyak lagi. Setiap sore sebelum buka, Abang juga mengajakku membantu Umi menyiapkan buka puasa. Ah begini rasanya punya Abang. Menyenangkan sekali. Tak sabar aku ingin bercerita di depan kelas pas sekolah nanti. Supaya semua temanku tahu kalau aku punya Abang yang keren, supaya Ibu Rahma juga tahu kalau Abangku pun pandai membuat mainan dari bahan alam.

`Aruna, nanti setelah matahari tampak, kita akan ke ladang cari bambu buat bikin obor malam takbir. Mau kan?`

Tentu saja aku mau sekali, aku selalu ingin bertualang ke ladang bersama Abi. Biasanya Umi akan melarang aku ikut ke ladang karena jauh. Jadilah aku sehari-hari hanya bermain di sekitar rumah saja. Tidak buruk sih, karena Umi sering mengajakku membuat sesuatu dari sisa kain jahitan Umi. Beberapa kain perca itu bahkan pernah ku buat menjadi kain pel, ya walau tidak layak digunakan sebenarnya. Tapi aku senang Umi mengajarku sesuatu.

`Kita akan mencari bambu terbaik, yang bersih sisi kulitnya, tapi kokoh di dalam. Supaya nyala obor bisa dipakai sepanjang pawai takbir` Aku menganggung takzim. Tak sabar menunggu terbit matahari. Dan tak sabar melihat sepeti apa obor terbaik itu.  

***

Segera aku menghambur ke rumah setelah diantar Wak Jamal dari pawai obor takbir lebaran. Aku sangat ingin menceritakan pengalamanku keliling kampung bersama anak-anak lainnya memakai obor dan takbir yang bersahut tanpa henti.

Abi dan Umi telah menungguku di pintu. Setelah mengucapkan salam dan trimakasih ke Wak Jamal, kami masuk ke rumah. Langsung saja aku berkeliling rumah untuk mencari Abang. Tak sabar menceritakan bahwa obor buatan Abang adalah obor yang nyalanya paling lama dari kawan-kawan lain. Lalu bentuk obornya pun indah, dengan api yang tak putus dan paling terang sepanjang pawai. Teman-teman banyak yang iri pada obor yang aku bawa.

`Mi, Abang dimana ?`

Aku  lalu membuka kamar depan yang tidak terkunci. Pelan-pelan kulihat ke dalam, dibalik remang lampu neon hanya kutemukan selembar sajadah. Aku berbalik, umi sudah jongkok lalu memelukku.

`Tamu istimewa itu sudah pergi Nak, kita berdoa semoga Allah mempertemukan kembali kita di Ramadan berikutnya`.


Bengkulu, 04 Juli 2016. 22.03