Shalahuddin Ahmad
Shalahuddin Ahmad profesional

Alumni ITB, Mantan Country Director dari sebuah perusahaan global, dan berkantor di sebuah kota tepi Black Sea. Menulis sebagai rasa tanggung jawab sosial untuk sharing, edukasi, dan menguji pemikiran sendiri serta dapatkan feedback dari komunitas. Aktif di Quora dan FB di waktu senggangnya.

Selanjutnya

Tutup

Media

Mencapai Kejayaan Bangsa

4 Juli 2017   14:15 Diperbarui: 4 Juli 2017   14:39 304 0 0

Adalah berbagai bangsa kadang berada di puncak peradaban dan kadang terpuruk bahkan menjadi budak bangsa lain.

Bangsa Yahudi mengalami kejayaan di zaman Nabi Sulaiman dan membangun kuil pertama abad ke 9 SM dan kemudian diusir dari Jerusalem pada abad ke 6 SM oleh Nebukadnezar dan bahkan menjadi budak bangsa lain, dan kemudian juga mengalami pengusiran kedua oleh Romawi beberapa abad kemudian.

Bangsa Turki pernah berjaya di zaman Ottoman dari selama 7 abad dari 1299-1922 sampai pada saat Khilafah dihapuskan dan berdiri republik Turki yang hanya menjadi negara kelas 2 di Eropa, aplikasi masuk EU ditolak, meskipun demikian Turki sekarang sudah mulai menapak maju dengan berbagai terobosan oleh Presiden Erdogan. Bahkan sekarang ini EU lah yang lebih membutuhkan Turki dibanding Turki membutuhkan EU.

Bangsa Babilon punya sejarah panjang dengan kejayaan masa lampau dengan mendirikan menara Babel, juga kejayaan di era khalifah Abbasiah dengan ibukota Bagdad, dan kemudian negara ini porak poranda setelah diduduki Amerika di perang teluk 2.

Bangsa Nusantara pernah berjaya di zaman Sriwijaya yang wilayahnya mencakup hampir seluruh Asia Tenggara mencakup Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand selatan. Majapahit pernah menjadi kerajaan besar di Jawa meskipun tak sampai ke pelosok Nusantara. Bahkan Bangsa Indonesia pernah membangun kuil Budha terbesar di dunia yaitu Candi Borobudur.

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS 3:140).

Kadang suatu bangsa berada dalam kejayaan dan kadang dalam keterpurukan. Disaat berjaya maka harus bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan dan disaat dalam kondisi terpuruk harus bersabar dan berinsiatif melakukan perubahan agar kembali meraih kejayaan. Perubahan bisa dilakukan dari diri sendiri dan lingkungan keluarga. Perubahan bisa dilakukan dengan mulai dari hal yang kecil seperti mengikuti antrian dan tak berebutan, membuang sampah pada tempatnya, taat tak melanggar lampu merah lalu lintas, tak biarkan pelanggaran terjadi, mengingatkan suami agar tak korupsi, dan berbagai insiatif kecil lainnya. Bagaimana bangsa bisa melakukan perubahan besar jika untuk mengantri dan buang sampah pun tak bisa berlaku tertib. Disamping perubahan kecil ini juga diperlukan perubahan besar, membangun institusi negara, membangun sistem hukum, meletakkan dasar konstitusi, dlsb.

Transformasi menuju kejayaan itulah yang dikatakan Al-Quran membutuhkan agen perubahan yang disebut sebagai syuhada yang kadang harus bertaruh nyawa untuk memperjuangkan prinsipnya. Hal itu dilakukan oleh para pejuang dan pahlawan bangsa sehingga bangsa Ini mencapai milestone penting yaitu kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Disini ada Teuku Umar, Pangeran Diponegoro, Laksamana Malahayati, KH Zainal Mustafa, dan masih banyak lagi.

Rupanya perjalanan masih panjang dan masih banyak agen-agen perubahan yang dibutuhkan untuk mentransformasi bangsa ini. Tak penting kapan kejayaan tercapai berupa negara adil makmur gemah ripah loh jinawi, tapi yang penting adalah apakah ingin ikut berpartisipasi melakukan perubahan baik perubahak kecil di diri dan keluarga sampai perubahan di skala besar menyangkut bangsa dan negara. Tanpa ada partisipasi maka jangan pernah bermimpi kejayaan akan tercapai di generasi ini atau generasi mendatang.