Fiksiislami

Kami Muslim, dan Sedang Terdampak Kegilaan Penggila Surga

17 Mei 2018   21:58 Diperbarui: 17 Mei 2018   22:17 429 0 0

Asuuu...(batin Dol kamit)

Ia seharian komat kamit karena disangka bawa dinamit

Senja tadi disebuah pelataran jajaran ruko, dengan sangat terpaksa ia terjengkang tunggang langgang.

Beberapa moncong senapan tepat mengarah dijidat Dan jantungnya.


Jamput umpatnya; bebarengan dengan suara kentut yang menerobos karena kesal bercampur ketakutan, ketika suara suara instruksi meledak mengalahkan toa.


Bingkisan bingkisan harus ia bongkar, dihamburkannya isi Bersama isak tangis karena malu Dan duka.


Oh bangsaku kini Banyak bangsatnya

Kami ini santri, Tak peduli label organisasi yang menaungi. Kami kini harus selalu merendahkan diri, sebab citra agama kami telah terhakimi.


Celana cingkrang kami Adalah upaya menjaga Kain Kain agar tidak terdampak debu najis pun jua kotoran ketika berjalan.

Jidat hitam kami mungkin karena tanda kenikmatan tatkala kami asik meratakan dengan tanah biang kesombong dibalik kening, sebab Tuhan kami meminta sujud wujud Dan prilaku kami


Cadar atau mungkin baju yang begitu besar berkibar, Adalah upaya kami agar mata mata tidak jelalatan menikmati apa apa yang harus kami simpan untuk yang berhak mendapatkan. Pun jua menjaga hasrat kami untuk menebar pesona dari kemontokan, kemolekan atau manis senyuman bibir ranum ini.

.

.

Dol kamit komat kamit

Mata bersitatap pada moncong moncong Laras panjang, menahan kaki agar tidak goyang.

Gigi Gigi bertaut rapat, sembari merapatkan ujung kran air dalam celana agar basah tidak menjadikan ia semakin malu.

.

.

Adakah dinamit atau demit yang kalian sangkakan bom itu paman?

Sedikit getar ketakutan namun lebih Banyak berpadu dengan suara kemenangan.


Moncong moncong tertunduk, suara suara merendah, kata kata maaf tersampaikan, namun koyak bingkisan Dan kardus sangat significant mewakili nurani.


Ya sudah kami ini muslim, jika inilah musim pelecehan buat kami, maka syukur tetap kami panjatkan pada DOA DOA,  sebab kami sadar inilah rahasia sejati yang musti kami sadari pada jalan hakiki


Malang, 17 Mei 2018

Sawir Wirastho