Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hidup yang Tak Diinginkan

2 Juli 2017   18:35 Diperbarui: 2 Juli 2017   18:45 246 0 0
Hidup yang Tak Diinginkan
sumber gambar: cdn.playbuzz.com

Kita sadar bahwa kita hidup. Dan kalau kita hidup, kita pun pingin hidup kekal selamanya sambil menikmati kehidupan. Siapa yang tak mau hidup kekal? Siapa yang tak mau hidup enak?

Kita tahu bahwa kita hidup seperti itu, dan kita pun tahu kalau apa yang ada di dunia tak akan dibawa mati. Kematian itu metafisik sifatnya. Kematian itu bukan lagi soal raga atau benda yang tampak, melainkan sudah masuk ranah rohani.

Tapi dari hal itu, seringkali saya merasa kalau perilaku kita begitu absurd. Kita menginginkan imortalitas, tapi kita begitu mencintai sesuatu yang mudah rusak dan musnah. Padahal kita juga tahu kalau kehidupan ini bukan yang sesungguhnya. Saya sering berpikir: hidup macam apa ini? Bukan hidup semacam ini yang kuinginkan. Bukan kehidupan yang ada penderitaannya, kriminalitas, atau keburukan, melainkan hidup yang memang tidak ada hal-hal semacam itu di dalamnya.

Tanyakan saja kepada tiap orang di dunia, karena bahkan seorang ateis pun akan menginginkan hal demikian. Tapi kita terlalu cepat kecewa di sini, di dunia ini. Kita kecewa karena hal demikian tidak pernah tercapai. Akhirnya, kita pun memaki-maki Tuhan karena kita kira Dia tidak becus menciptakan kehidupan. Dalam hati saya berkata: Tapi, Tuhan macam apa yang tidak becus? Tuhan macam apa yang tidak pandai dan bisa salah? Kalau begitu maka tuhan yang dimaki-maki itu memanglah bukan tuhan.

Kemudian saya berpikir, memang seringkali kita bersikap egois menginginkan segala hal agar sesuai dengan kemauan kita. No, no, no, no. Bukan, kita tak bisa berbuat apa-apa karena hidupnya kita pun bukan kita yang melakukannya. Artinya, bahwa semua hal yang ada di kehidupan ini tidak lain adalah kemauanNya. Diri kita pun adalah kemauanNya. Masalahnya, bisa tidak kita menemukan apa kemauan Tuhan –sebagai Dzat Yang Maha Menentukan– atas diri kita?

Kemauan kita tak bisa dilampiaskan di sini, di dunia. Itu ada tempatnya, nanti. Di sini, di dunia ini, kitalah yang mesti terlebih dahulu memahami apa mau Tuhan. Di sini tak ada yang menjadi milik kita. Semua cuma pinjaman yang bisa saja seketika diambilNya kembali, bahkan tubuh kita ini. Jadi apa yang pantas untuk kita miliki? Kenapa tidak memiliki Tuhan saja? Kan cuma Dia yang mampu? Kan cuma Dia yang bisa mendatangkan sesuatu bagi diri kita? Kepada siapa kita akan meminta seandainya kita berada di dalam perut bumi sendirian? Semua yang diciptakan ini kan benda mati? Tidak ada yang memiliki kemampuan secara otonomi, karena tak ada makhluk yang bisa menciptakan kemampuan pada dirinya sendiri. Kalau saya memang mampu pada diri saya, saya akan buat diri saya jadi ganteng; dengan hidung mancung, kulit putih, tinggi badan 2 meteran, kaya raya, dll. Pokoknya kalau saya memang mampu berkehendak, saya akan menciptakan diri saya dan menentukan sendiri akan seperti apa hidup saya.

Kalau memang kita tahu hakikat ini semua, kita tak akan ingin hidup lebih lama di dunia ini. Ini bukan sikap pesimistis terhadap hidup, karena justru inilah sikap optimistis terhadap kehidupan yang sebenarnya; yang didambakan, yang memang sangat pantas dan layak. Dunia ini memang tak enak kok. Kenikmatannya tak abadi. Tak kekal dan seringkali mengecewakan. Saya memang kecewa pada dunia ini, karena sebenarnya tak ada apa-apa di balik materi itu.