Mr Sae
Mr Sae profesional

Aktivis Kemasyarakatan dan Pemerhati Kebijakan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Jalan Terjal Menuju Lumbung Pangan Dunia

20 Juni 2017   09:03 Diperbarui: 20 Juni 2017   10:25 468 0 0
Jalan Terjal Menuju Lumbung Pangan Dunia
3430440281-594895bb6e7e61cb082a2410.jpg

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaku optimis menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 mendatang. Menurut Mentan Amran, saat ini Indonesia telah berada dijalur yang tepat untuk menuju lumbung pangan dunia. Ada 11 komoditas strategis. Alhamdulillah sudah selesai empat (beras, jagung, cabai, bawang). Kami selesaikan lagi tahun ini jagung, tahun depan bawang putih, tahun berikutnya apa, kata Mentan Amran di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Mentan Amran menegaskan, seluruh komoditas strategis tidak bisa diwujudkan swasembada secara bersamaan, karena memiliki proses dan karateristik yang berbeda setiap komoditas. Setiap tahun, satu per satu kita gugurkan persoalan pertanian di Indonesia, kita mimpi 2045 Indonesia jadi lumbung pangan dunia. Insya Allah kami bisa capai karena hari ini kita sudah buktikan pada dunia bahwa kita bisa makan beras, jagung, bawang, cabai tanpa impor, jelas Mentan. Menurutnya, sektor pertanian di era pemerintahan Joko Widodo berada pada kondisi cuaca yang tidak mendukung produktivitas pertanian. Ini era terberat sektor pertanian. Terjadinya El Nino dan La Nina dahsyat, terbesar sepanjang sejarah, tapi kita bisa mengelola dengan baik, kata Mentan Amran. Dengan, berhasilnya melewati periode sulit tersebut, Amran berujar, Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia pada 2045. 2018 sampai 2021 kami menargetkan swasembada pangan dengan peningkatan produksi di atas lima persen. 100 persen kebutuhan pangan juga dipenuh  dari dalam negeri sehingga tidak ada lagi impor pangan,paparnya.(5/6/2017. https://bisniskeuangan.kompas.com)

Menyikapi target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia tersebut diperlukan peta jalan pengembangan komoditas pertanian strategis. Adapun konsep dasar lumbung pangan dunia pada mulanya lumbung pangan lebih dipahami sebagai penyimpan (buffer Stock) hasil panen padi saja, namun saat ini keberadaan konsep lumbung pangan semakin berkembang seiring dengan dinamika permasalahan pangan serta berbagai kebijakan yang di implementasikan. Dalam konteks penyusunan peta jalan pengembangan komoditas pertanian strategis, konsep lumbung pangan dunia yang dimaksudkan merupakan pengembangan dari konsep swasembada dan daya saing pertanian.

Kemudian konsep lumbung pangan dunia merefleksikan sebagai upaya penyediaan pangan melalui peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri untuk memperkuat ketahanan pangan dan daya saing pangan dalam rangka mencapai kedaulatan pangan. Selain berupaya memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri (swasembada pangan), konsep lumbung pangan dunia juga ditujukan untuk memperkuat daya saing pangan nasional sehingga mampu memanfaatkan peluang ekspor pangan ke pasar global.

Pendekatan lumbung pangan dunia tidak hanya terfokus pada self sufficiency, tetapi juga mebangun fondasi penguatan daya saing dan inisiasi ekspor komoditas pangan utama. Untuk itu, dalam konsep lumbung pangan dunia akan mengeksplorasi dan menetapkan berbagai pangan unggulan ekspor dengan mengembangkan hilirisasi sistem komoditas pertanian strategis yang dilandasi prinsip-prinsip efisiensi dan keberlanjutan untuk menghasilkan produk pertanian bernilai tinggi (high value revolution).

Untuk mencapai hal tercapainya lumbung pangan dunia dibutuhkan skenario sistemik dengan menjaga keberlanjutannya. Program lumbung pangan dunia tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri (swasembada pangan), tetapi ditujukan juga untuk memperkuat daya saing dan ekspor pangan nasional sehingga mampu memanfaatkan peluang ekspor pangan global secara berkelanjutan. Skenario menuju laumbung pangan dunia melalui tahapan-tahapan dan setiap tahapan membutuhkan “political will” dan "political action” yang serius termasuk dukungan infrastruktur, inovasi teknologi yang terus berkembang dan kekuatan kelembagaan pertanian dari seluruh lini baik pusat dan daerah. Keterkaitan dan peran serta elemen lain tidak hanya dalam aspek non teknis namun juga dalam bentuk teknis.

5 tahapan dalam pengembangan komoditas pangan strategis menuju lumbung pangan dunia adalah berawal dari proses: (1) pencapaian swasembada pangan yang mampu memenuhi minimal 90 % kebutuhan domestik terutama pangan strategis,(2) kemudian tahapan berikutnya adalah penciptaan daya saing produk/komoditas terutama terkait mutu/kualitas dan spesifikasi produk, harga, efisiensi hulu hilir dan profit, (3) maksimalisasi hasil produksi pangan strategis(produksi melimpah dan stabil) memenuhi kebutuhan domestik lebih dari 100%, terciptanya pipa rantai pasok, tersedianya komoditas sebagai cadangan untuk kebutuhan intervensi dan bencana, (4) setelah over produksi, langkah berikutnya adalah melakukan ekspor yaitu setelah tercapai kebutuhan domestik dan selebihnya menjadi target ekspor dengan melakukan pengembangan pangsa pasar dunia. Dalam konteks ini nilai tambah ekspor sebagai akumulasi keberhasilan tahapan sebelumnya, dan (5) terciptanya lumbung pangan dunia dengan mempertahankan ekspor berkelanjutan.

Tahapan-tahapan tersebut tidaklah mudah untuk merealisasikan karena pada saat yang bersamaan sektor pertanian dihadapkan pada permasalahan internal dan perkembangan dinamika lingkungan yang dinamis yang memiliki potensi mengeser sumberdaya pertanian baik dari aspek tenaga kerja, tanah dan input-input produksi primer seperti air. Untuk itu sinergisitas lintas sektoral menjadi syarat mutlak dalam mencapai targer lumbung pangan dunia tersebut. Pertanian tidak bisa biarkan bergerak sendiri karena dalam kenyataanya daya dan hilirisasi sektor pertanian tidak bisa terpisahkan dengan peran sektor lainnya. Harapanya keinginan lumbung pangan dunia tersebut terealisasi sebagai jaminan kesejahteraan petani tercapai. Semoga.