Rifki Feriandi
Rifki Feriandi Wiraswasta

telat daki.... telat jalan-jalan.... tapi enjoy the life sajah...

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Rekapitulasi, Refleksi, dan Evaluasi Tantangan SamberTHR

19 Juni 2018   07:09 Diperbarui: 19 Juni 2018   08:58 978 2 2
Rekapitulasi, Refleksi, dan Evaluasi Tantangan SamberTHR
Dok.pribadi

Rekapitulasi, Refleksi dan Evaluasi Satu Ramadan Bercerita dan Bertebar Hikmah

 

One day one posting di Kompasiana itu serasa berkejaran dengan One day one juz di sepenuh Ramadan.

Pada saat mengetahui ada kegiatan Samber - Satu Ramadan Bercerita, saya langsung bertekad untuk mengikutinya. Sederhana alasannya: sudah terlalu lama tidak menulis aktif di Kompasiana. Ada sekedar ingin pembuktian, apakah saya bisa konsisten?

Sebenarnya hampir saja saya gagal ikutan kegiatan ini dari awal, karena saya baru baca beritanya di hari pertama kegiatan: #THRKompasiana1. Iya, hari pertama kegiatan Samber itu dilakukan dua hari menjelang hari pertama puasa.

Alhamdulillah, ternyata saya bisa menuntaskan kegiatan ini secara penuh. Dan tulisan ini hanya sekedar rekapitulasi, refleksi dan evaluasi terhadap apa yang telah saya lakukan.

Rekapitulasi

Selama sebulan penuh tantangan itu, inilah data yang telah saya lakukan yang dirangkum sampai tanggal 18 Juni 2018, pukul .

Jumlah artikel: 32

Jumlah pembaca: 14.993

Jumlah love: 34

Jumlah komentar: 32

Jumlah artikel utama: 2

Jumlah artikel pilihan: 21

Rata-rata pembaca per artikel: 340.7 (di luar Artikel Utama)

Artikel dengan pembaca terbanyak: Mystery Topic 2: Salahkah Jika Anakku Ingin Bertemu Ria Ricis? dengan 3290 pembaca.

Artikel dengan pembaca tersedikit: Tema FIksi Ramadan: Cerita Anak: Pinto Lapar Tapi Sabar (Pinto dan Poni Ngabuburit) dengan 154 pembaca.

Medsos share:

  • semua artikel dishare ke tiga saluran media sosial, facebook, twitter dan instagram
  • facebook, semuanya dishare di hari posting tulisan
  • witter, tiga perempatnya dishare di hari posting tulisan
  • instagram, sepuluh artikel dishare dalam bentuk rapelan di tanggal 18.06.2018

Rekapitulasi tulisan SamberTHR penulis | Foto: Rifki Feriandi
Rekapitulasi tulisan SamberTHR penulis | Foto: Rifki Feriandi

Refleksi

Kesanggupan untuk mengikuti tantangan ini adalah karena topiknya cukup dekat dengan interest saya sebagai penulis humaniora. Apalagi Ramadan itu sangat dekat dengan kehidupan saya sebagai muslim. Dan di bertahun-tahun Ramadan itu, banyak sekali cerita yang bisa dituliskan. Yang menarik sekaligus ada yang bisa dipetik.

Namun demikian, saat memulai menulis, saya harus memutuskan untuk membuat 32 topik itu bisa dibalut dalam satu tema. Dasarnya sih karena rasanya terlalu biasa jika tiap topik berdiri sendiri-sendiri. Jadi, saya buat tantangan dari dalam diri sendiri. Buatlah tema yang spesifik sehingga tulisan dari awal sampai akhir itu menyambung. Jadilah saya mengusung tema yang sangat dekat, yaitu kedekatan #adedanayah. Satu Ramadan Bercerita tentang Ade dan Ayah. Dari sisi anak kecil (Ade), dari view orang dewasa (Ayah) atau dari sisi parenting.

Keputusan mengambil satu tema untuk 32 topik itu sebenarnya cukup membantu. Saya menjadi fokus menulis. Pikiran tidak terlalu susah mencari bahan tulisan. Cerita menjadi cukup mengalir apa adanya, karena mengikuti apa yang sebenarnya terjadi. Topik pertama sampai dengan ke enam itu cukup mudah, karena saya bisa menuliskan tinteraksi langsung dengan si Ade. Seperti tentang target berpuasa, saya lakukan percakapan tanya jawab. Dan Alhamdulillah kadang momennya itu tepat. Seperti untuk topik mesjid favorit, entah kenapa kok ya topik itu pas ketika saya ajak si Ade ke mesjid yang belum pernah dia datangi dan berbuka bersama banyak orang. Jadi bahan ceritanya pun mengalir, fresh from the oven. Tanpa tiupan, tanpa rekayasa. Cerita dari pengalaman itu rasanya lebih enak.

Namun tidak bisa dipungkiri, ada juga banyak kesulitan yang dihadapi, terutama jika topiknya terlalu spesifik. Seperti topik 7, atur stamina saat bekerja. Sangat fokus untuk bekerja. Ayah centris. Tapi, ya akhirnya saya dekati juga dengan menjaga kebugaran ade dan ayah. Karena bukankah berjalan dan menjaga buah hati itu adalah kegiatan "bekerja" juga, kan?. Topik pro-kontra sahur on the road juga cukup sulit jika dibalut tema #adedanayah, meski akhirnya bisa didekati dengan cara pandang si Ade.

Ada juga sih yang sulit namun lucu. Topik 17, outfit lebaran. Gimana gak sulit coba. Ayah harus menulis tentang outfit buat lebaran buat si Ade. Sudah mah si Ayah tidak pernah mengikuti mode jadi tidak begitu paham tentang perbusanaan, eh ini dikaitkan dengan si Ade, busana anak kecil. Akhirnya saya perhatikan saja si Ade dalam berdandan seharian. Saya lihat-lihat lagi foto-foto si Ade selama ini. Yang cocok untuk ditulis adalah gaya si Ade itu yang casual ya. Baik ada acara resmi atau santai jalan-jalan, gaya itu cocok. Akhirnya, mengalirlah tulisan dengan judul "Apapun Outfitnya, Tetap Triple-C Gayanya: Tentang Outfit Anak Ramadan". Bagi saya, ini tulisan tersulit namun tulisan yang boleh saya banggakan, terutama karena si Ayah sering bergumam "Si Ade itu cantik ya". Eaa...co cwit.

Tidak bisa dipungkiri, banyak konten si Ayah juga dalam beberapa topik, terutama jika topiknya berkaitan dengan sesuatu yang jadul. Ayah is jaduler. Cerita masa kecil, mitos dan sejenisnya, otomatis cerita si Ayah mendominasi. Tapi, harapannya ya tetap dalam bingkai parenting #adedanayah.


Terakhir, ada sesuatu yang baru yang saya coba masukkan. Vlog. Iya, saya masukkan beberapa vlog ke dalam artikel untuk memperkuat cerita. Dan terus terang, tantangan Samber itu justru menjadi pemacu saya - eh si Ade deng - untuk memulai ngevlog. Dan buat si Ade, ini adalah saluran dia berkreasi, setelah dia menjadi percaya diri dan terpacu untuk ngevlog gegara Ria RIcis. Vlog yang ada di artikel Ria RIcis ini menjadi vlog pertama si Ade. Jangan tanya kualitasnya deh, yang pasti vlog ini membuat si Ade dan si Ayah bangga. Sebagai pemula sekali, boleh lah kualitasnya gak jelek-jelek amat. Tetapi, si Ayah bangga sekali dengan kegigihan si Ade. SI Ade mulai memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Pede. Dan tidak malu-malu malah cenderung bisa bercanda. Kalah si Ayah mah.

Evaluasi

Secara umum, tujuan saya mengikuti tantangan Samber telah berhasil. Samber berhasil membuat saya kembali menulis. Saya bisa konsisten. Dan, saya bisa menjaga fokus untuk tetap dalam satu balutan tema. Konsistensi dan fokus itu Alhamdulillah berhasil saya dalami.

Dari sisi Kompasiana sendiri, saya acungi jempol buat para admin Kompasiana. Ini tantangan seru dan produktif. Pemilihan topik dari pihak Kompasiana pun rasanya sudah bagus, karena sesuai dengan aura Ramadan. Perkara cenderung membosankan, ya itu wajar, karena topiknya melulu tentang Ramadan. Dan itu juga sebenarnya tantangan, bukan? Bagaimana sesuatu yang sepertinya membosankan bisa dinikmati prosesnya.

Dari sisi peserta, rasanya tidak banyak orang yang berani menerima tantangan ini. Praktis jika melihat dari hastag di Instagram, tantangan ini hanya diikuti oleh 18 orang Kompasianers yang aktif dan konsisten. Yang paling menarik di sini adalah tidak semua yang menyambut tantangan adalah muslim. Ada beberapa non-muslim yang ikut. Tapi, tulisan-tulisannya menarik, karena justru mengambil sudut pandang yang lain yang jarang didapat.

Dari sisi hadiah, hmm.... Hadiah utama sebuah hape keren itu sangat menarik. Dan bisa jadi, itu menjadi faktor utama banyak yang ikut serta, meskipun akhirnya banyak yang kehilangan kesempatan itu karena bolong menulisnya. Entahlah, awalnya saya berpikir jika lebih baik jumlah hadiahnya banyak meski menurunkan besaran hadiah, dibanding jumlahnya sedikit tetapi besarannya besar. Sekarang sih, saya berpikir lebih baik jumlah hadiahnya banyak dan besaran hadiahnya besar juga ...wkkwkwk.

Overall, saya pikir Kompasiana sudah berhasil membuat sebuah tantangan yang menarik. Angkat topi buat Kompasiana. Teteh-Teteh, Aa-Aa Admin semua, terima kasih sudah bersusah bekerja.


Taqabalallahu minna wa minkum sadayana.