Rifki Feriandi
Rifki Feriandi Wiraswasta

telat daki.... telat jalan-jalan.... tapi enjoy the life sajah...

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Rindu Ramadan, antara Cowok Ganteng dan Sahur Cuankie di Pusdai

12 Juni 2018   14:23 Diperbarui: 12 Juni 2018   14:37 987 1 0
Rindu Ramadan, antara Cowok Ganteng dan Sahur Cuankie di Pusdai
Suasana Sahur di Mesjid Pusdai - bakso cuankie di latar depan | Foto: Rifki Feriandi

Anak kecil saya, Nailah - dipanggil Ade, suka sekali cuankie. Tenang, meski namanya berbau Chinese, tapi halal kok. Makanan ini cuman bakso kuah yang segar - meski ada MSG nya sih. Tapi, ini tidak bercerita tentang kenapa si Ade suka Cuankie. Tinggalkanlah Si Ade sejenak. Fokus lah ke si Ayah. Iya, ternyata si Ayah juga suka sekali baso Cuankie. Dan ternyata Cuankie itu akan dia rindukan  di Ramadan di tahun-tahun depan.

Ciyus? Kok yang dirindukan adalah Cuankie?

Cuankie berarti Bandung, ya kan? Baso Cuankie asli itu dari Bandung. Karenanya, si Ayah itu akan rindu Bandung. Meski Cuankie bisa didapat kapan saja, yang si Ayah rindukan adalah saat sahur. Itu berarti si Ayah akan rindu Bandung saat bulan puasa. Tapi, yang jualan Cuankie bulan puasa kan cuman malam doang. Kok sahur? Belum tahu ya, ternyata di Mesjid Pusdai, kita bisa menemukan Bakso Cuankie dijual saat sahur. Tidak hanya satu penjual, malah ada dua atau tiga penjual. Dan tidak hanya Bakso Cuankie, tetapi malah sahur si Ayah awali dengan makan kerak telor ditutup dengan jeruk peras.

Jadi, yang dirindukan si Ayah adalah makan bakso cuankie di mesjid Pusdai saat sahur?

BUKAN!!! Yang dia akan rindukan di bulan Ramadan tahun-tahun depan adalah....itikaf di sepuluh terakhir di Pusdai. Saat si Ayah sahur Cuankie.

Ya. Pengalaman itikaf di malam 27 tadi malam itu begitu mengesankan dan akan dirindukan si Ayah. Itikaf itu dalam rangka si Ayah memperkuat iman. Iman itu harus dijemput, dicari dan diusahakan. Dan itikaf adalah salah satu caranya.

Kenapa dirindukan?

Mesjid penuh

Semua terasa ringan jika dilakukan secara bersamaan, bukan. Dan untuk menjaga agar istiqamah, termasuk dalam beritikaf, maka dilakukan bersamaan akan menambah semangat. Bayangkan, jika kita itikaf sendirian di sebuah mesjid yang kosong. Perasaan sendirian cenderung akan mendorong kita untuk mundur dan selesai lebih cepat.

Masih sepi segini teh. Qiyamullailnya penuh tuh | Foto: Rifki Feriandi
Masih sepi segini teh. Qiyamullailnya penuh tuh | Foto: Rifki Feriandi

Di Mesjid Pusdai, Bandung ini, itikaf di malam ganjl penuh dengan jamaah. Ketika datang pukul sembilan malam, setelah paginya kecapekan mudik, hampir saja si Ayah tidak dapat tempat parkir. Beruntung ada dua tempat kosong, persis di depan pintu keluar. Padahal, tempat parkirnya luas. Dan lalu ketika masuk ke dalam mesjid, gairah itikaf si Ayah membara. Masjid penuh dengan jamaah. Tua-muda bahkan ada yang membawa keluarga. Semuanya dengan tujuan sama, beritikaf dan melakukan ibadah. Wajah-wajah tulus beritikaf terpancar secara jelas. Rasanya tidak ada yang memperlihatkan wajah terpaksaan. Hal ini terus terang begitu nyata menambah semangat si Ayah, dan terus terang menggetarkan jiwa. Sebegitu semangatnya mereka, yang mungkin sudah berada di mesjid sejak malam 20, sementara si Ayah baru datang jam sembilan di malam 27.

Beristirahat sejenak sebelum shalat Syuruq | Foto: Rifki Feriandi
Beristirahat sejenak sebelum shalat Syuruq | Foto: Rifki Feriandi

Anak-anak muda berwajah cerah dan ganteng

Selain jamaah bapak-bapak, mesjid penuh dengan anak-anak muda. Usia kuliahan atau awal bekerja. Wajah-wajah muda mereka begitu cerah dan tampan. Usia muda ternyata sudah dipenuhi oleh gairah keimanan. Bayangkan usia muda seperti itu sudah memiliki keimanan yang hebat, atau memiliki semangat untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Kenapa wajah anak-anak muda menjadi faktor yang dirindukan?

Bagi si Ayah, ini penting untuk menunjukkan stereotif - atau distereotifkan - beberapa lapisan masyarakat bahwa mereka yang ke mesjid berjanggut panjang, celana cingkrang dan identik dengan teroris itu salah besar. Tidak ada sedikitpun gambaran seperti itu ketika itikaf di Pusdai. Sama sekali. Iya, mereka memakai celana cingkrang. Iya mereka bercambang, beberapa cambangnya lebat.

Tapi, lihat saja. Cambang lebat khas anak mudahnya malah membuat menarik. Wajahnya teduh. Perangainya sopan. Dan baju gamis atau koko yang dipakainya pun menambah bagus tampilannya. Bahkan banyak anak muda yang terlihat tampan dengan kafiyeh melilit lehernya. Model hafiz Muzzamil Hasballah. Tadinya si Ayah juga mau pakai kafiyeh seperti itu, tapi takutnya daripada terlihat ganteng seperti Muzzamil Hasbalah, ini malah terlihat lucu seperti patung Haji Geyot.

Maksud hati ingin seperti Muzammil Hasbalah, eh si Ayah malah mirip Haji Geyot :) | Foto: Rifki Feriandi
Maksud hati ingin seperti Muzammil Hasbalah, eh si Ayah malah mirip Haji Geyot :) | Foto: Rifki Feriandi

Di sisi ini si Ayah makin yakin bahwa untuk terlihat tampan itu tidaklah perlu kosmetik, perawatan wajah atau memakai makeup. Cukup ikhlas beribadah dan selalu dalam keadaan berwudu. Rasanya akan kangen melihat mereka, dan apakah justru tahun depan giliran wajah si Ayah yang terlihat tampan dan cerah karena si Ayah beribadah dengan ikhlas dan istiqamah?

Do'ain ya. Do'ain si Ayah beribadah khusu', ikhlas dan istiqamah dan Ayah jadi ganteng. Eaaa

Introspeksi time

Setelah tidur sejenak, jam satu dini hari, jamaah bangun untuk siap-siap melaksanakan Qiyamul Lail. Sebelum itu, dilakukan dulu semasam sesi mengaca diri, berintrospeksi, bermuhasabah. Sesi yang dipandu oleh ustadz atau Kiai yang diundang ini adalah sesi yang sangat menyentuh. Kita diajak melihat ke belakang atas apa yang telah kita lakukan selama ini. Dosa-dosa apa yang pernah dibuat. Kekecewaan-kekecewaan apa saja yang ada di diri kita kepada Allah. Kita diajak menghadirkan wajah ayah dan ibu kita, dan merenung apa yang sudah dan belum kita buat untuk mereka.

Susana itikaf di Pusdai | Foto: Rifki Feriandi
Susana itikaf di Pusdai | Foto: Rifki Feriandi

Sesi yang berjalan hampir satu jam ini sangat-sangat menyentuh. Dengan penerangan yang ditemaramkan, kita jadi merasa syahdu. Isakan-isakan muncul dari berbagai tempat. Iya, dalam kesyahduan itu kita merasa dekat dengan Yang Kuasa, tempat satu-satunya kita berdo'a dan memohon pertolongan. Tanpa dibuat-buat dan dikomandoi, kita akan berurai air mata mengingat dosa-dosa yang pernah kita perbuat, terhadap diri sendiri, terhadap orang tua, terhadap istri dan terhadap anak-anak.

Suasana seperti ini insya Allah akan dirindukan.

One Qiyamullail One Juz

Pernah saya bermimpi suatu saat ingin mengikuti terawih dengan membaca satu juz. Tetapi, niat itu selalu diurungkan, karena selalu terkendala perspesi. "Waduh, bisa lama banget. Kaki pegal ya. Kayaknya gak akan kuat". Dan di Pusdai ini, imam solat Qiyamullail di jam dua dini hari itu ternyata membaca satu juz penuh dalam delapan rakaatnya. Antara kaget dan tidak percaya.

Bukan. Bukan karena si Ayah tidak mau ikut solat yang panjang itu, tapi ya kok setelah menjalaninya ternyata tidak selama yang dibayangkan. Alhamdulillah saya diringankan dengan bisa menikmati solat itu. Imam shalatnya membaca Juz 27 dengan cukup cepat tapi tartil.

Itikat saat mendekat dengan Al Qur'an, termasuk Qiyamullail satu juz | Foto: Rifki Feriandi
Itikat saat mendekat dengan Al Qur'an, termasuk Qiyamullail satu juz | Foto: Rifki Feriandi

Sahur dengan Bakso Cuankie

Seperti cerita di awal, si Ayah sahur saat itikaf di Pusdai ini lain dari biasanya. Diawali dengan kerak telor, dilanjut bakso cuankie, ditutup oleh jeruk peras. Sebenarnya sih kerak telor saja juga cukup, cuman godaan tak tertahankan datang dari si bakso. Cuankienya enak banget, segar. Cuankie di Bandung itu ya satu-satunya yang enak di Indonesia.

Dengan baso yang enak di lidah, kuah yang kaldunya terasa, somay yang merekah. Ditambah sambal, cukup setetes, tanpa kecap manis atau saos tomat. Segar manstaf. Sengaja pesan tidak pakai mie, meski kebanyakan jamaah memesan Bakso Cuankie dengan mie, karena selain sudah cukup kenyang, aslinya bakso cuankie itu tidak memakai mie.

Menu penutup, bukan jeniper (jeruk nipis peras) | Foto: Rifki Feriandi
Menu penutup, bukan jeniper (jeruk nipis peras) | Foto: Rifki Feriandi

Nah, itulah kenapa saya akan merindukan bulan Ramadan. Itikaf di Mesjid Pusdai Bandung itu berbeda. Kita betul-betul mengusahakan kondisi untuk full ibadah. Latihan memenuhi hari dengan ibadah seperti yang akan terjadi jika kita naik haji atau umroh.