REZAWAHYA
REZAWAHYA PNS

Penulis dengan multi-interest Ingin berbagi ilmu dan kebahagian kepada orang lain terutama kaum muda

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Langkanya Orang Jujur

2 Juli 2016   02:49 Diperbarui: 2 Juli 2016   03:24 214 2 2

Maraknya kasus Operasi Tangkap Tangan tindakan korupsi oleh KPK, sebenarnya menyedihkan bagi bangsa Indonesia. Dan sepertinya, bangsa ini tidak pernah mengenal kata-kata "taubat" untuk perilaku ini. Lihatlah, ketika kepala daerah  kabupaten ditangkap di sebuah cafe,  tak seberapa lama berselang anggota dewan-pun ditangkap di  bandara. Dan jumlah kasusnya cenderung meningkat dari tahun  ke tahun dengan format dan jenis cenderung berubah-ubah  dan  makin  massive.

Di lain pihak, orang yang mempunyai keinginan berbuat baik dianggap suatu yang  aneh sehingga  perlu di-blow up oleh media. Contohnya adalah seorang polisi yang merupakan operator pembuatan sim dengan suka  rela menjadi pemulung  demi menjaga  dirinya untuk tidak menerima uang  sogokan  dalam pembuatan sim. Begitu juga  ada seorang office boy yang menjadi perhatian public  setelah mengembalikan uang temuannya di sebuah kantong  plastik.  Dari contoh pemberitaan  tersebut, terlihat sekali, begitu langkanya orang-orang  jujur di negeri ini, dan memang kenyataannya  seperti  itu. Tengoklah, bagaimana  proses birokrasi saja, kita sudah dihadapkan dengan  aparatur yang tidak mau bekerja  kalau tidak ada uang pelicin. Belum lagi kalau kita lihat di terminal-terminal, begitu banyaknya pungutan liar (pungli) yang dilakukan  oleh  oknum preman. 

Berikut  saya  akan mencoba  membahas  beberapa hal yang mengakibatkan begitu dahsyatnya permasalahan  ketidakjujuran  di tengah masyarakat  sehingga  orang jujur bisa kita  anggap sebagai makhluk langka.  

* Budaya yang sudah menggurita

Masalah ketidakjujuran ini sudah mencapai level "budaya". Betapa tidak,  banyak sekali ketidakjujuran yang  kita temui di hampir semua tempat atau aktivitas kehidupan di Indonesia. Cobalah  pergi ke  pasar  tradisional, masih  kita temui pedagang  yang memainkan timbangan atau menjual sesuatu yang jelek tapi dikatakan barangnya bagus. Atau kalau  kita  di jalan raya, kita  sangat mahfum melihat  pengendara kendaraan yang tidak sabar di saat  lampu merah. Mereka menyerobot lampu merah  hanya untuk alasan ingin cepat sampai di tempat tujuan.

Di  birokrasi begitu juga, setiap ber-urusan dengan birokrasi pada  saat itu  kita  dihadapkan dengan orang-orang yang mengharapkan uang  tidak resmi. Pungutan liar  ini bukan hanya dilakukan  oleh  pejabat tinggi atau anggota dewan saja (untuk urusan  proyek yang  besar), di level bawahpun hal itu  sudah  sangat  umum  ditemui. Contoh  kongkritnya adalah; Untuk membuat selembar surat  keterangan miskin,  seseorang harus memberikan sejumlah uang kepada oknum kelurahan, kalau  tidak si miskin  harus melengkapi  berkas-berkas yang sangat banyak sebelum dibuatkannya surat tersebut (dipersulit oleh birokrasi).

Di  sekolah, cara berbuaat  curang  atau  ketidakjujuran  lain lagi formatnya. Dengan  menargetkan memperoleh  nilai yang  tinggi, oknum guru-guru berbuat curang dengan  "memberikan" jawaban soal-soal ujian  nasional. Ada juga dengan  alasan  memberikan pelajaran tambahan, siswa diperlakukan  tidak adil di sekolah, yang ikut les  dengan guru  pelajaran diberikan soal-soal ulangan plus pembahasannya di tempat lesnya sedangkan anak yang tidak ikut les dibiarkan susah  payah belajar tanpa  arah.

Dari contoh-contoh tersebut, terlihat  jelas bahwa masalah ketidak  jujuran sudah  merambah di semua lini kehidupan. Karena  langkanya  kejujuran, akhirnya Departemen Pendidikan  Nasional harus  menerbitkan sertifikat jujur  untuk  sekolah  yang  tidak melakukan kecurangan. Belum lagi Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU)  memberikan sertifikat PAS untuk mereka yang  tidak berbuat curang. Dan di  kantor-kantor  pemerintah perlu  mereka  buatkan  spanduk "Tidak menerima  uang  sogokan" hanya demi  menekan kasus pemberian tips kepada pegawai pemerintah. Inilah  phenomena yang berlaku  di semua  tempat  dan  dilakukan oleh  banyak orang, sehingga sulit dihilangkan karena sudah menjadi tradisi. Pada akhirnya akan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

 

*Harus Taubat Nasional

Betapa peliknya  permasalahan  ketidakjujuran di negeri ini. Betapa tidak, penyakit masyarakat yang  menggurita  di semua jenis kehidupan; mulai dari urusan birokrasi  hingga urusan lalu lintas di jalan raya; dari urusan pelaksanaan ujian sekolah hingga saringan  masuk penerimaan  pegawai instansi swasta dan pemerintah. Rasanya, dan harus dilakukan upaya  penghilangan budaya  seperti itu. Kalau budaya ketidakjujuran tetap  melekat, maka sulit sekali ditemukan suasana aman, tentram, dan kondusif untuk melakukan aktivitas  perekonomian, sosial, politik, dan lainnya di masa mendatang.

Kita  akan dibenturkan dengan pesimisme apabila sudah berhadapan dengan mekanisme ketidakjujuran. Pelajar yang sudah kerja keras belajar  di rumah, akan merasa sia-sia saja melakukan itu,  kalau dilihatnya temannya yang malas dan tidak pernah belajar dengan giat bisa masuk sekolah  favorit hanya karena bapaknya berduit dan memberikan uang  sogokan. Bisa kita bayangkan penyakit ini akan sangat mempengaruhi hubungan antara kita.

Bagaimana upaya  kita menghilangkannya? Salah satunya  harus ada keinginan untuk  tidak berpartisipasi dalam berbuat ketidak jujuran; dimanapun, kapanpun,  dan dengan siapapun. Kalau  sudah kuatnya adzam atau "keinginan" untuk berbuat  jujur, maka kita  tidak mau merusak tatanan kehidupan yang sehat dan  bersih dari perbuatan curang. Kita semua harus bertaubat untuk tidak mau  melakukan hal itu. Dan harus ada  keinginan  dari dalam diri kita masing-masing.

Gerakan seperti ini harus dimulai dari  memberikan contoh oleh para pejabat negara. Dimulai dari mana? Mulai dari proses pemilihan kepala negara, jangan memilih seseorang yang memberikan imbalan, karena  sudah dipastikan akan banyak pengikutnya yang  mau mengambil keuntungan pada saat memangku jabatan nantinya. Setelah  itu, perbaiki sistem dengan pemberian efek jera kepada pelaku tindak kejahatan ini. 

Terakhir, harus ada komitmen kuat dari semua pihak. Aku mau berbuat jujur, dan  tidak mau  terlibat dalam kecurangan ada atau tidak ada  pengawasan terhadap kita; contoh  adanya komitmen dalam diri kita  masing-masing. Cukuplah Alloh saja yang  menjadi  pengawas abadi  sehingga kita  mau dengan sukarela berbuat jujur.

Palembang, 2 Juli 2016