Reza Nurrohman
Reza Nurrohman

manusia yang terus bertumbuh. tidur dan makan adalah hal yang lebih menyenangkan sebenarnya namun berkerja merupakan kewajiban saya

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Waspadalah Perguruan Tinggi Indonesia Bisa Bangkrut Seperti 7-Eleven

3 Juli 2017   09:41 Diperbarui: 3 Juli 2017   15:27 1491 5 7
Waspadalah Perguruan Tinggi Indonesia Bisa Bangkrut Seperti 7-Eleven
koleksi-pribadi-5959afb15497735d0afe409c.jpg

Membaca kehebohan kebangkrutan Sevel (Seven Elevent) di berbagai media masa dan gegernya komunitas pengusaha muda karena selama ini sevel dinilai sebagai suatu terobosan bisnis kekinian yang menarik gairah wirausaha mereka, saya terbayang akan nasib perguruan tinggi di Indonesia.  Sevel tutup tanggal 30 Juni 2017 karena berbagai faktor internal dan eksternal. Mengutip kompas bahwa alasan utama sevel menutup bisnisnya karena pemasukan lebih kecil  dari pengeluaran. Konsumen utama hanya membeli makanan ringan dan nongkrong sangat lama hal ini beda jauh dengan pesaingnya yang terus bertumbuh karena konsumen tidak hanya membeli makanan ringan.  faktor eksternal terutama regulasi pemerintah yang tidak kondusif terhadap ekspansi Sevel salah satunya banyak daerah menerapkan kebijakan jam malam untuk belajar bagi anak-anak muda sehingga pangsa pasar sevel yang buka 24 jam untuk anak muda mengalami hambatan. 

Tanda-tanda meredupnya universitas saat ini mulai terasa. Dua perusahaan raksasa dunia yang menjadi idola lulusan perguruan tinggi seluruh dunia yaitu Google dan Ernst & Young melihat sekolah maupun perguruan tinggi sebagai lembaga atau sistem tradisional yang sudah ketinggalan jaman. Keputusan mereka menyewa pegawai berdasarkan skill atau keahlian dan bukan berdasarkan ijasah perguruan tinggi membuat kaget kalangan akademisi dan pendukung sistem sekolahan. Benarkah kebijakan Google dan Ernst & Young bahwa perguruan merupakan sistem tradisional sudah ketinggalan jaman? Apakah keputusan mereka sudah tepat sasaran sebagai pionir perkembangan jaman?

Sudah umum diketahui adanya diskonektifitas atau kesenjangan antara Perguruan Tinggi alias PT dan dunia industri. Fokus dan prioritas riset di PT umumnya tidak berkaitan dengan kebutuhan industri. Sangat sedikit hasil-hasil riset PT yang diadopsi oleh perusahaan. Industri yang ada hanya merupakan perpanjangan tangan industri induk di luar negeri. Hampir tidak ada hasil riset mendasar yang dilakukan di Indonesia yang berkaitan dengan industri. Akhirnya jamak ditemui mata kuliah wirausaha sebagai pilihan jurusan-jurusan yang sama sekali tidak ada kaitanya dengan bisnis dan industri seperti pengalaman pribadi saya kuliah di salah satu universitas negeri pada jurusan pendidikan terdapat mata kuliah kewirausahaan. Selain itu, dosen selalu mengkampanyekan pembuatan program kreativitas mahasiswa kewirausahaan serta magang dengan instansi bisnis diluar kurikulum resmi tentunya dengan alasan klasik bahwa wirausahawan di Indonesia masih sedikit. Hal ini membuat saya yang semula ingin menjadi guru sedikit depresi lalu melarikan diri ke dunia usaha walaupun susah sekali persainganya.

Coba pikir lagi, mana yang lebih berguna untuk karir atau pekerjaanmu, titel pendidikan perguruan tinggi dari mulai sarjana sampai doktor atau perguruan tinggi dalam kantong kamu yang bis akamu akses lewat gadget canggih seperti laptop atau hape pintar dimana banyak tersedia informasi gratis?

Memang harus diakui bahwa pemerintah Indonesia yang mendukung gerakan anti hoax secara tidak langsung masih mendukung eksistensi perguruan tinggi. Kondisi Indonesia yang mudah panas lalu konflik karena berbagai informasi menyesatkan di berbagai lini media massa meneguhkan posisi perguruan tinggi sebagai penyaring informasi kebenaran melalui tulisan-tulisan ilmiah yang layak dikonsumsi agar adem ayem. Toh kenyamanan perguruan tinggi tidak bisa bertahan selamanya, apabila nanti pendidikan Indonesia sudah merata akankah perguruan tinggi masih bisa mempertahankan eksistensinya?

Sepertinya kita harus mencontoh Amerika Serikat dimana sekarang pemerintah negara mereka sudah mulai sadar dan membaca tanda-tanda perubahan akibat dari kebijakan Google dan Ernst & Young yang mungkin akan segera ditiru oleh pelaku Industri lainya. Mereka melakukan sebuah survei dan wawancara yang dilakukan setiap hari saudara-saudara. USA Fund berkerja sama dengan swasta seperti Gallup melakukan riset konsumen pengguna perguruan tinggi dari usia remaja samapai usia dewasa. Tidak kurang dari 5000 orang setiap hari menjadi responden untuk mengetahui kebutuhan mereka sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perguruan tinggi.

Menurut mereka hal ini penting untuk memastikan kebutuhan para remaja dan orang dewasa sebagai pelanggan atau kostumer perguruan tinggi agar ilmu yang dibutuhkan tepat guna sesuai tantangan karir pekerjaan mereka kedepan. Sementara untuk urusan ini Indonesia masih sangat tertinggal dari Amerika, kita masih pasrah saja dengan sistem pendidikan tinggi melalui perguruan tinggi tanpa proses demokrasi ataupun komplain mengenai ilmu yang diajarkan perguruan tinggi seperti menggugat kenapa ada mata kuliah wirausaha dijurusan non bisnis? 

Suara para remaja dan orang dewasa sebagai pengguna jasa perguruan tinggi sangat penting. Apabila ini didiamkan saja bukan tidak mungkin kejadian banyak lulusan perguran tinggi murtad atau keluar jurusan setelah lulus sebagai tradisi rutin yang kita lihat sebagai konsumsi makanan sehari-hari. Fenomena ini mengingatkan saya kepada petuah guru besar kompasiana Tjiptadinata Effendi beserta Rosalina Tjiptadinata dalam setiap tulisanya tentang pengalaman hidup. Universitas kehidupan merupakan suatu proses pendidikan jalanan yang membentuk keahlian serta kecakapan dalam mengarungi jalanan kehidupan yang dianugerahkan Tuhan. Menurut mereka hal ini sangat penting dalam membentuk karakter serta perilaku seseorang diluar sekolah formal.


Pertanyaanya apakah perguran tinggi Indonesia bisa memutuskan masa depan mereka sediri dalam melihat perkembangan ini? Bagaimana kita sebagai pengguna jasa mereka menyikapi hal ini? Ada tanggapan?