Reza Nurrohman
Reza Nurrohman

manusia yang terus bertumbuh. tidur dan makan adalah hal yang lebih menyenangkan sebenarnya namun berkerja merupakan kewajiban saya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Melacak Jejak Londo Ireng Diaspora Afrika di Indonesia

1 Juli 2017   18:08 Diperbarui: 2 Juli 2017   17:22 3119 6 5
Melacak Jejak Londo Ireng Diaspora Afrika di Indonesia
Sumber gambar: Istimewa

Belanda Hitam/Landa Ireng, berdasarkan Nationaliteitsregelingen (peraturan kewarganegaraan), mereka masuk kategori berkebangsaan Belanda, sehingga mereka dinamakan Belanda Hitam (zwarte Nederlander). Karena mereka tidak mendapat kesulitan dengan iklim di Indonesia, mereka menjadi tentara yang tangguh dan berharga bagi Belanda, dan mereka menerima bayaran sama dengan tentara Belanda. Namun mereka harus mencicil uang tebusan sebesar f 100,- dari gaji mereka. Memang orang Belanda tidak mau rugi, walaupun orang-orang ini telah berjasa bagi Belanda dalam mempertahankan kekuasaan mereka di India Belanda. Sebagian besar dari mereka ditempatkan di Purworejo. Tahun 1950, sekitar 60 keluarga Indo-Afrika dibawa ke Belanda dalam rangka “repatriasi.”

Dengan berakhirnya Perang Diponegoro (1825-1830), Belanda “kehilangan” sekitar 8000 tentara kulit putih, baik yang gugur dalam pertempuran maupun korban penyakit tropis. Serdadu itu direkrut dari berbagai negara Eropa sebagai prajurit bayaran. Belanda sendiri sebagai negara kecil tidak mungkin menyediakan tentara, yang kemudian menjadi korban, sebanyak itu.Belanda mulai berpikir bila nanti ada peperangan lagi di daerah jajahannya, dari mana mereka merekrut pasukan, di samping mahal biayanya juga adanya pembatasan-pembatasan dari negara yang bersangkutan untuk tidak memperbolehkan warganya direkrut sebagai serdadu bayaran.

Gubernur Jendral waktu itu, Van den Bosch, yang kemudian dikenal juga sebagai arsitek tanam paksa Cultuur Stelsel, mengusulkan sebuah solusi dengan merekrut tentara yang berasal dari Afrika Barat dari negara-negara yang kini bernama Ghana dan Burkina Faso. Di sana Belanda memang memiliki pos-pos perdagangan/benteng yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk maksud rekrutmen tersebut. Alasannya, di samping murah, berani perang, orang Afrika dinilai lebih tahan menghadapi iklim dan penyakit di daerah tropis.

Selain itu, secara politis, kesuksesan legiun militer Afrika dalam operasi militer Perancis dan Inggris, membuat negara-negara Eropa lain untuk mengikutinya, termasuk Belanda.

Dengan berbagai akal dan usaha, antara lain dengan membeli budak-budak dari raja setempat, 100 gulden per kepala, Belanda berhasil merekrut tentara bayaran Afrika. Pengiriman terjadi dalam beberapa gelombang: antara tahun 1831-1836, sebanyak 112 orang, tahun 1837-1841, sebanyak 2100 orang dan antara tahun 1860-1872, 800 orang. Jumlah seluruhnya lebih dari 3000 orang, seluruhnya berstatus bujangan.

Serdadu bayaran dari Afrika tersebut bekerja berdasar kontrak untuk 12 tahun dan dapat diperpanjang, dengan gaji 20 gulden/bulan. Gaji 20 gulden itu masih harus dipotong angsuran untuk mengembalikan ongkos “pembeliannya” yang 100 gulden. Mereka secara hukum berstatus sama dengan serdadu Belanda putih, kecuali gajinya yang hanya setengahnya. Dan untuk membedakan mereka dengan Belanda putih, mereka dinamakan Zwarte Hollanders, Belanda Hitam, atau Londo Ireng.

Mereka disebar ke berbagai lokasi, Semarang, Salatiga dan Solo, tetapi sebagian besar ditempatkan di Garnisun Purworejo pada Tangsi Militer Kedungkebo yang baru selesai dibangun permulaan tahun 1830-an. Pembangunan tangsi besar dan penempatan serdadu hitam di Purworejo itu bukan tanpa alasan. Di daerah Bagelen ini Belanda menderita banyak kekalahan selama Perang Diponegoro dengan jatuhnya korban terbesar di antara serdadunya, sehingga diperlukan cara khusus untuk mengatasi. Kisruh belanda hitam yg kemudian menghentikan rekrutmen suku Ashanti oleh KNIL adalah perbedaan jatah kasur yg diterima Belanda hitam, dibanding kulit putih, dan mereka tambah tersinggung karena jatah yg diterima serdadu Ambon dan Manado sama dengan yang diberikan kepada kulit putih, sehingga sempat terjadi kerusuhan di Purworejo.

Tidak kurang dari 25 benteng dibangun diseluruh daerah Bagelen (dari Kedungkebo sampai ke Petanahan/Kebumen), inilah yang mereka namakan strategi “benteng Stelsel” hasil rekayasa Jendral de Kock, untuk mengepung dan mempersempit gerak pasukan Diponegoro. Yang dekat Purworejo antara lain adalah benteng Kedungkebo, Bubutan, Lengis. Ke Barat Ambal dan Petanahan.

Sumber gambar: goodreads.com
Sumber gambar: goodreads.com

Dengan selesainya Perang tahun 1830, Belanda menilai bahwa daerah Bagelen adalah daerah rawan yang memerlukan perhatian khusus, mengingat pengikut Diponegoro masih cukup banyak dan kuat. Dibangunlah tangsi militer besar di Kedungkebo yang masih bertahan kokoh sampai saat ini. Kemampuan militer Belanda untuk daerah Bagelen dengan sendirinya juga diperbesar. Penempatan serdadu kulit putih dan pribumi dalam jumlah yang besar, sekitar satu batalyon, itu belum menjamin rasa aman Belanda, sehingga dirasa perlu untuk menempatkan serdadu Afrika sebanyak tiga kompi, di garnisun Purworejo yang berlangsung dari tahun 1831-1872.

Uji coba serdadu Afrika tersebut dimulai di Lampung, Sumatera Selatan yang nampak kurang memuaskan, kemudian dalam Perang Paderi di Sumatra Barat di mana sudah nampak kelebihan orang Afrika ini, namun yang dianggap sukses oleh Belanda adalah ikut sertanya 536 serdadu Afrika dalam pasukan yang berkekuatan 7500 orang dalam ekspedisi ketiga penaklukan Bali tahun 1849 (Perang Buleleng), yang berakhir dengan ditundukkannya Raja Bali setelah jatuhnya Benteng Jagaraga (Singaraja). Setelah ekspedisi berakhir sebanyak 41 orang serdadu Afrika mendapat tanda penghargaan dan citra mereka naik tinggi di mata orang Belanda.

Orang Afrika disukai Belanda karena secara alamiah rapi, disiplin, patuh. Malah tidak jarang seorang perwira Belanda mempermalukan serdadu kulit putih yang kurangajar dengan membandingkannya via orang Afrika yang dinas di serdadu Hindia Belanda.

Setelah itu serdadu Afrika ikut aktif dalam ekspedisi ke Timor, Sulawesi, Kalimantan dan tentu saja dalam perang Aceh. Di sini seorang perwira dalam laporannya mengatakan bahwa, “Orang Afrika adalah serdadu-serdadu terbaik dalam KNIL (Serdadu Hindia Belanda)” dan “...memperhatikan bahwa orang Aceh sangat segan terhadap orang Afrika”.

Belanda tidak menutup mata terhadap prestasi dan jasa orang Afrika ini. Mengingat kedatangan mereka berstatus jomblo alias single, mereka menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan perempuan setempat, ada yang sekadar kumpul kebo, namun banyak yang berujung dengan pernikahan. Mereka membangun kehidupan rumah tangga dan sewaktu kontrak mereka habis. Mereka yang tidak ingin kembali ke Afrika, memutuskan untuk menetap di tempat di mana mereka terakhir ditugaskan.

Setelah kemerdekaan Indonesia, ada yang kembali ke Belanda, ada yang kembali ke Afrika misalnya setelah kembali ke Elmira Ghana mereka membuat komunitas dan menamai tempat tinggal mereka dengan nama Java Hills. Kemudian ada juga yang menetap di Indonesia seperti prajurit Afrika Belanda setelah perang selesai ditempatkan disebuah pemukiman di Probolinggo yang kemudian membaur menjadi masyarakat Jawa hingga sekarang. Bahkan di Semarang atau beberapa daerah masih ada tuh Kampung Afrika. Keturunan Londo Ireng banyak yang campur dengan orang Indonesia sekarang. Orang Afrika yang mantan serdadu/tentara gampang berbaur dengan penduduk Indonesia karena agamanya juga Islam dan Kristen sehingga lebih mudah diterima. Coba cek silsilah keluarga siapa tahu ada yang keturunan Diaspora Afrika mantan tentara Belanda juga.

Sumber: 1 dan 2.