Reza Nurrohman
Reza Nurrohman

manusia yang terus bertumbuh. tidur dan makan adalah hal yang lebih menyenangkan sebenarnya namun berkerja merupakan kewajiban saya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Geger Sekolah Lima Hari Buntut Persaingan NU dan Muhammadiyah dalam Kabinet Jokowi

16 Juni 2017   21:15 Diperbarui: 17 Juni 2017   17:59 1565 1 0

Sebelum membahas topik mari kita melakukan napak tilas sejenak melakukan selayang pandang ke beberapa bulan lalu. Sejak Anies Rasyid Baswesan terkena "reshuffle" atau pergantian kabinet oleh Presiden Jokowi. Kursi panas orang nomor satu dunia pendidikan Indonesia pun kembali menjadi incaran banyak orang. Sesuai dugaan banyak pengamat pilihan jatuh kepada salah satu "kekuatan" atau "faksi" dalam masyarakat Indonesia. siapa lagi kalau bukan kader Muhammadiyah? Orang yang kelewat skeptis mungkin mengamini idiom kementrian agama itu jatahnya Nu dan kementrian pendidikan itu jatahnya muhammadiyah.  Bicara soal umat islam Indonesia khususnya dan masyarakat Indonesia secara umum pasti mengakui dan tidak bisa menyangkal data bahwa kader NU dengan "franchise" pesantrenya sudah mengakar dalam budaya Indonesia sehingga layak selalu menjadi kandidat utama menteri agama. Adapun Muhammadiyah dengan "holding company" sekolahanya sudah tersebar dari pusat kota jakarta sampai pelosok desa. Kalaupun kader muhammadiyah selalu menjadi kandidat utama menteri pendidikan seperti NU dengan menteri agama sudah tidak bisa diragukan bukan?


Adapun pengisi kursi panas mentri pendidikan akhirnya jatuh ke tangan Muhadjir Effendy, Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang salah satu kampus swasta bergengsi dan juga tokoh Muhammadiyah dengan jabatan terakhir Pengurus Pusat.  Seperti biasa muhammadiyah selalu mengirimkan kader terbaiknya untuk mendukung pemerintah tentu saja dengan tetap melakukan kritik kepada pemerintah sebagai penyeimbang seperti yang dilakukan Amien Rais. Sedangkan kalau kita bandingkan Nahdatul Ulama terkesan selalu ikut gerbong pemerintah dan adem ayem saja kalaupun ada kritik jatuhnya selalu lebih halus sehingga lebih bisa dikatakan sebagai saran. Mungkin inilah yang membedakan Muhammadiyah dengan NU dalam bidang politik. 


Jangan kaget dengan sikap politik Muhammadiyah. Jangankan yang beda pemahaman keislamanya yang menjadi penguasa. Yang sama-sama pemahaman keislamanya seperti Soekarno dan Soeharto yang tercatat pernah menjadi kader muhammadiyah juga sering dikritik sekaligus didukung melalui perwakilan kader dalam kabinet. Jokowi saat ini tercatat sebagai penganut islam dengan paham tradisional atau islam nusantara yang di dukung penuh NU sedangkan Muhammadiyah menganut islam dengan paham modernis atau islam berkemajuan. 


Sebagai gambaran saya mengutip statemen Ulil Absar Abdala bahwa kalau di ibaratkan organisasi agama lain Nahdatul ulama itu paralel Katolik sedangkan Muhammadiyah itu paralel dengan Kristen Protestan. Pendapat serupa tapi tak sama pernah diungkapkan Yusuf Kalla kalau digambarkan seperti perusahaan Nahdatul Ulama itu seperti "franchise" macam indomart dan alfamart sedangkan Muhammadiyah itu seperti "holding company" macam Semen Indonesia. 


Awal Muhadjir menjabat biasa saja namun ketika terjadi kebijakan sekolah lima hari dengan full day school tiba-tiba Nahdatul Ulama bersuara keras melalui Said Aqil Siradj bahkan terakhir mengancam boikot dan melobi Jokowi untuk mengganti Muhadjir apabila bersikeras menerapkan kebijakan itu melalui berbagai pemberitaan media massa.


Pertanyaan utamanya kenapa seolah terjadi persaingan politik pendidikan antara NU dan Muhammadiyah?


Kebangkitan Lembaga Pendidikan NU Melalui Sayap Organisasi Maarif

Secara kasat mata saya melihat sejak Gus Dur mewakili Eksekutif sebagai Presiden sekaligus kader NU "kalah" secara politik dengan Amien Rais mewakili Legislatif sebagai Ketua MPR melalui geger prahara Dekrit Presiden Pembubaran DPR/MPR menjadi salah satu pemicu utama perubahan kebijakan pendidikan NU.


Kuatnya simpatisan Muhammadiyah di perkotaan malalui cengkeraman sekolah-sekolahnya menghasilkan banyak dukungan politik di pusat-pusat kekuasaan sedangkan NU hanya terkesan bisa dduduk di pinggiran daerah saha melalui pesantren-pesantrenya.


Banyak kader NU yang ketika pindah ke kota meninggalkan pandangan tradisional karena kesibukan kota besar membuat mereka mempercayakan anak-anaknya ke sekolah islam yang lebih "simple" dan modern seperti Muhammadiyah mungkin membuat NU banyak kehilangan generasi mudanya.


Lambat laun ketika Said Aqil Siradj menduduki kursi nomor satu Nahdatul Ulama terlihat perubahan besar dalam strategi pendidikan NU. Sadar dengan potensi generasi mudanya untuk tetap mempertahankan Islam tradisional dengan dukungan kebudayaan lokal maka mulai bermunculan sekolah-sekolah modern Nahdatul Ulama.


Dulu kita hanya melihat SD Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah sedangkan NU dengan MI Maarif, Mts Maarif dan MA Maarif sehingga menguatkan label dan dikotonomi sekolah modern islam itu Muhammadiyah dan sekolah agama itu NU. Namun lihatlah sekarang jamak kita temui bermunculan SD Maarif, SMP Maarif dan SMA Maarif. (catatan lembaga pendidikan yang berafiliasi ke NU tidak hanya terbatas dengan penamaan Maarif dan NU saja)


Perkembangan Sayap pendidikan NU yang dulunya hanya konsentrasi ke pesantren agama dan sekolah bercorak islam tradisional kini mulai merambah sekolah modern dan perguruan tinggi non agama yang secara turun temurun sudah identik dengan Muhammadiyah disadari atau tidak diakui atau tidak mengubah peta politik generasi muda muslim Indonesia pada khususnya dan umat islam indonesia pada umumnya. Semakin lama seolah muhammadiyah semakin terdesak kehilangan pengaruh generasi mudanya. Hal ini bisa kita lihat diberbagai bidang secara kasat mata lebih banyak NU yang pegang posisi strategis dibandingkan muhammadiyah.


Perpindahan Penduduk Nahdatul Ulama ke kota-kota besar Jawa dan Luar Jawa

Pembangunan secara besar-besaran negara Indonesia sejak orde baru sampai reformasi, dari mulai Soeharto sampai Jokowi. Bagaikan madu yang menarik penduduk pinggiran pedesaan dan etnis pulau jawa yang mayoritas berafiliasi ke NU dengan basis islam tradisional ke perkotaan yang sebelumnya menjadi basis massa pendukung Muhammadiyah secara teologis yang berbasis islam modernis. Lambat laun bisa kita temukan aktivitas besar-besaran pelajar dan mahasiswa nahdatul ulama dari mulai peguruan dasar sampai tinggi. Ironisnya gaung pelajar dan mahasiswa muhammadiyah sekarang hanya terbatas pada lembaga pendidikan muhammadiyah saja. Sangat berbeda jauh dari Nahdatul Ulama. Ternyata perpindahan keluarga NU ke kota-kota menggeser ataupun merubah keluarga Muhammadiyah baik melalui pendidikan maupun pernikahan.


Sikap Aktif Politik Nahdatul Ulama berbanding Terbalik dengan sikap Pasif Politik Muhammadiyah

Kalau diamati dengan jelas aktifitas partai politik seperti PPP dan PKB selalu membawa-bawa nama besar Nahdatul Ulama dalam berbagai kegiatan dan Nahdatul Ulama seolah mengamini hal tersebut dilihat dari banyaknya kader NU sekaligus petinggi kedua partai besar Islam tersebut. PDIP sebagai rumah umat islam tradisional ketiga yang dirangkul NU sekaligus sekutu setia sejak PNI. Ada 3 mesin partai poltik yang bisa dirangkul NU otomatis membuat muslim Indonesia yang tertarik politik berusaha menjadi kader NU dan secara teologis menjadi islam tradisional. 

Terakhir ketua Umum Golkar Setya Novanto menjadi kader NU dan diberikan kartu anggota. Kalau pakai hitungan politik ada 4 parpol dengan tokoh NU sebagai ujung tombaknya. PDIP dalam hal ini diwakili Jokowi mebuat Nahdatul Ulama berada diatas angin dalam dunia perpolitikan Indonesia.

Kondisi berbeda dialami Muhammadiyah sejak kekalahan Masyumi dan keputusan muktamar Muhammadiyah yang meminta kader Muhammadiyah secara tegas tidak membawa nama besar Muhammadiyah dalam berpolitk praktis mebuat organisasi ini kurang menarik secara politik dibandingkan NU.

Sejak reformasi Muhamadiyah hanya sekali mendapatkan momentum memperkuat sayap politiknya dengan kemenangan Amien Rais di parlemen dalam pelengseran Gus Dur. Sayang momen tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik bahkan Syafii Maarif yang dekat dengan pandangan Gus Dur mempertahankan Muhammadiyah untuk bersikap pasif secara politik walaupun kadernya sering bersuara hanya sebagai personal bukan organisasi. Apalah daya PAN pun menjadi layu sebelum berkembang dan suaranya masih kalah apabila dibandingkan PKB, PPP, PDIP dan Golkar yang dekat dengan NU.


Menimbang Alasan "Rasional" Muhammadiyah dengan Alasan "Budaya" Nahdatul Ulama 

Muhammadiyah mendukung kebijakan Muhadjir yang juga kader Muhammadiyah tentu ada alasan rasionalisasinya dengan menimbang penduduk Indonesia yang kebanyakan di perkotaan menjadi pekerja tentu kesulitan mendidik anaknya karena waktu kerja yang panjang. Sekolah bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang itu dengan kegiatan positif toh sabtu minggu bisa dimaksimalkan buat ekstrakurikuler. Contoh netral yang diajukan Purwakarta dengan bupati Dedi Mulyadi dianggap berhasil menerapkan kebijakan sekolah lima hari 8 jam secara lokal alias daerah bukankah bisa dinasionalkan?

 

Nahdatul Ulama menolak kebijakan Muhadjir dengan alasan romantisme budaya dan tradisi yang sudah berkembang dimasyarakat. Biasanya umat muslim indonesia ada tradisi tpq atau masyarakat umumnya pelajar muda bisa membantu bisnis dan urusan rumah keluarga selepas sekolah. Waktu kosong sabtu-minggu dianggap berpotensi membuka kesempatan generasi muda untuk melakukan penyimpangan karena banyaknya waktu luang. Selain itu tidak semua sekolah mempunyai kemampuan memfasilitasi kegiatan ekstrakurikuler. Bukankah kebijakan full day school 8 jam 5 hari waktu sekolah bisa ditinjau ulang?


Muhammadiyah punya alasan untuk mendukung sedangkan Nahdatul Ulama juga punya alasan menolak. sama2 rumit bukan? 


Semoga Jokowi bisa mengambil keputusan terbaik


Penutup

Saya ingin mengingatkan kembali kepada pihak-pihak yang bertikai akan sejarah kepulauan nusantara ini jauh sebelum Indonesia berdiri tidak terhitung banyak perpecahan yang merugikan kita sendiri dan menguntungkan orang lain. Ingat kalau Hasyim Asyari (Pendiri NU) dan Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) adalah saudara seperguruan bahkan kehidupan beliau sudah seperti kakak-adik kandung walaupun banyak berbeda pandangan namun tetap saling menghargai dan mencintai. kembali ke pendirian Indonesia Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama merupakan orang tua bangsa dan negara Indonesia dengan banyak pahlawan yang disumbangkan melalui kader kedua organisasi raksasa ini. Mari berdialog mencari pemecahan dan hentikan ancaman. kalau kalian benar berkonflik jangan sampai ada adu jotos utamakanlah musyawarah mufakat karena yang akan dirugikan pasti bangsa dan negara Indonesia juga.