Reza Nurrohman
Reza Nurrohman

manusia yang terus bertumbuh. tidur dan makan adalah hal yang lebih menyenangkan sebenarnya namun berkerja merupakan kewajiban saya

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Barang Kesayanganmu Belum Tentu Berharga bagi Orang Lain

29 Juni 2017   10:29 Diperbarui: 29 Juni 2017   10:36 399 0 0

Tak terasa liburan panjang telah tiba dan usia kita sebagai manusia semakin bertambah namun kalau mau berkaca ke belakang tentu tiap-tiap orang dari kita mengalami fenomena yang sama terkait suatu barang.  Ketika kita bayi dan balita pasti mengalami dimana mainan-mainan yang diberikan dari orang tua apabila masih utuh dan kita beranjak remaja pasti timbul pertanyaan "nak barangnya buang saja ya atau kasih ke tetangga yang punya anak kecil atau kasih ke saudara kamu yang lebih muda"

Normalnya kebanyakan dari kita ketika remaja mengiyakan saja hal tersebut dan lumrahnya menerima dengan lapang dada pembuangan barang kesayangan kita ketika masih balita. Mungkin pada masa itu kita masih belum sadar bahwa benda bukan sekadar materi namun ada nilai kenangan yang tersimpan didalamnya. Lambat laun pertanyaan serupa datang lagi ketika kita beranjak dari usia remaja ke usia dewasa. Nah pada masa ini kebanyakan dari kita pasti sudah banyak yang sadar bahwa barang itu ada yang lebih berharga ataupun bernilai bagi kita entah itu karena kenangan bersama keluarga apalagi teman sebaya  terutama yang spesial seperti mantan atau pacar. 

Sampai disini masih gak percaya kalau barang punya nilai lebih?

Mari kita melakukan eksperimen pikiran. Bayangkan bila kita sebagai wanita usia muda kekinian yang mengadopsi gaya hidup hijaber. Calon Suami kita datang tepat di hari ulang tahun kita dan memberikan sebuah jilbab sebagai tanda cinta dan hadiah ulang tahun. Menurutmu berapa harga yang harus saya bayar agar kamu mau menjual barang itu? Nah, sekarang, bayangkan jilbab, mulai dari merek, ukuran, kualitas kain, corak warna, bentuk, hingga sama dengan jilbab kamu tadi. Kamu mau nggak membelinya dengan harga yang sama dengan yang kamu tetapkan untuk menjual jilbab kesayanganmu?  Saya yakin pasti tidak karena jilbab itu lebih berharga.

Kalau saya pribadi lebih menyimpan kenangan pada album foto untuk mengabadikan minimal satu tahun satu foto bersama keramaian. Untuk barang selain foto akan saya pertahankan selama ada kegunaan lebih untuk bisa dipakai kembali seperti bola dan buku. Saya orangnya sederhana saja kalau soal barang saya tidak pilih-pilih mungkin itu sebababnya kamar saya dijuluki museum oleh adik perempuan saya. 

Untuk barang sekali pakai atau tidak terlalu sering dipakai kembali akan saya buang. Apabila barang ini ada yang rusak terutama karena menjadi santapan tikus, kecoak dan rayap serta tidak bisa diperbaiki lagi maka ak an saya buang atau paling ekstrem bakar. Tentu saja dengan terlebih dahulu saya memfoto barang tersebut ketika masih baru saya dapatkan. Minimal saya sudah mengarsipkan dalam album foto kesayangan saya sehingga momen benda-benda ini bisa saya ceritakan kelak kepada anak cucu. Lain lagi dengan adik perempuan saya, dia lebih tega memilih mana barang berharga mana yang tidak sehingga barang-barang miliknya lebih sedikit daripada yang saya punya. Barang yang dia anggap berharga pun lebih kepada boneka dan pakaian serta berbagai aksesoris wanita. Selain tiga hal itu jangan harap dia mau anggap berharga. Soal foto bedanya dia lebih mengarsipkan foto pada gadget daripada album foto mungkin sekali karena beda generasi.

Sekarang bayangkan bagaimana kira-kira nasib barang kesayangan kita setelah kita tidak bisa merawatnya?

Contoh saya ketika remaja dulu suka sekali bermain basket. Saya punya satu buah bola basket yang saya anggap berharga karena itu hadiah dari almarhum ayah saya. Namun ketika saya beranjak dewasa dan harus berkuliah di tempat yang jauh sekali dari kampung halaman dan memiliki kamar yang lebih sempit serta harus dihuni dua orang pria maka bola itu tak dapat saya bawa.  Ibu dan Adik perempuan saya tidak sudi merawat barang-barang saya yang menumpuk dikamar besar seperti museum dengan alasan kesibukan sehingga setelah ramadhan diadakan open house dihalaman siapa saja tetangga pria usia sekolah boleh mengambil barang-barang saya yang berharga. Saya setuju dengan hal ini berikut harapan agar barang tersebut dapat dimanfaatkan kembali oleh orang lain daripada dijual ditoko bekas. 

Baru setahun kuliah ketika lebaran berikutnya datang lalu saya pun terkejut. Ternyata tetangga yang benar-benar merawat barang saya hanya yang memiliki hobi yang sama. Contoh gitar saya sampai sekarang masih berada pada gardu poskamling untuk dimandaatkan orang-orang yang bosan dengan keiatan ronda lingkungan. Beda nasib dengan bola basket saya yang kini tidak jelas dimana rimbanya karena anak yang mengambil bola itu mempunyai hobi ekstrem untuk merusak barang-barang. Sempat ada rasa bahagia ketika tahu barang kesayangan semasa muda masih bisa ikut dinikmati lagi bersama teman-teman di gardu poskamling alias ronda. Lalu ketika teringat ayah dan bola basket sempat ada rasa sedih karena tahu barang tersebut tidak bisa dinikmati lagi. 

Dua kisah diatas menjadi bahan evaluasi saya pribadi. Ketika memasuki awal usia dewasa sekarang saya lebih selektif dalam memutuskan suatu barang itu akan menjadi berharga atau tidak. Saya juga sadar bahwa apabila nanti punya ahli waris belum tentu dia mau menerima dan merawat barang peninggalan saya. Opsi jual ketika sudah tak sanggup merawat atau opsi berikan kepada orang yang memiliki hobi yang sesuai dengan barang menjadi prioritas utama.