Retno Permatasari
Retno Permatasari

seorang yang senang traveling

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Yuk, Isi Ramadan dengan Perilaku yang Menyejukkan

6 Juni 2017   22:44 Diperbarui: 6 Juni 2017   23:12 188 0 0
Yuk, Isi Ramadan dengan Perilaku yang Menyejukkan
Berbuat Baik - www.materikelas.com

Saat ini, seluruh umat muslim sedang melaksanakan ibadah puasa. Ya, bulan Ramadan yang selama ini ditunggu-tunggu itu, kini telah hampir satu pekan dirasakan. Semua orang berlomba-lomba berbuat kebaikan, meringankan langkah menuju masjid, hingga sesering mungkin melantunkan ayat suci untuk mendapat keberkahan dari Allah SWT. Ramadan seringkali dijadikan umat muslim, untuk meningkatkan kualitas ibadahnya. Bahkan, tidak sedikit yang menggunakannya untuk introspeksi, demi memperbaiki ujaran dan perilakunya.

Namun, di awal Ramadan kemarin, yang terjadi justru sebaliknya.  Setelah bom meledak di Kampung Melayu, memasuki bulan Ramadan tindakan persekusi justru semakin masif terjadi. Hanya karena dipengaruhi oleh postingan di media sosial, sekelompok ormas keagamaan dengan semena-mena, melakukan perburuan dan main hakim sendiri. Fakta ini tentu membuat kita semua prihatin. Ironisnya, para pelaku bom dan persekusi, merupakan pihak-pihak yang selama ini begitu aktif meneriakkan ayat suci.

Toleransi yang selama ini menjadi karakter masyarakat kita, seakan hilang begitu saja dengan adanya bom dan persekusi ini. Dimana sikap saling menghormati selama ini? Dimana rasa kemanusiaan kita sebagai umat manusia? Hanya karena salah dalam memahami ideologi, banyak orang tak berdosa meninggal terkena serpihan bom. Hanya karena menuliskan ekspresinya, seorang anak dibawah umur menjadi korban persekusi. Sekali lagi, dimana rasa kemanusiaan kita? Jika diantara kita ada yang berbuat salah, bukankah lebih elok jika saling mengingatkan dan memaafkan. Tidak perlu melakukan perburuan, intimidasi, ataupun tindak kekerasan.

Di bulan Ramadan ini, mari kita kembali meneguhkan diri untuk tetap mengedepankan perilaku yang toleran. Saling hargai menghargailah sebagai umat manusia. Tidak hanya minoritas mengharga mayoritas, sebaliknya mayoritas juga harus menghargai minoritas. Mayoritas, atau pihak yang mengatasnamakan mayoritas, tidak boleh bersikap sewenang-wenang. Kita tentu tidak ingin, kekerasan yang mengatasnamakan agama terus terjadi di negeri ini. Kita juga tentu tidak ingin, hanya karena kesalahpahaman saja, bisa berdampak pada konflik berkepanjangan.

Tentu kita masih ingat, bagaimana semua orang memanfaatkan pilkada DKI untuk kepentingan masing-masing. Ujaran kebencian dan informasi yang menyesatkan sengaja dimunculkan, agar sentimen SARA kembali menguat. Akibatnya, perpecahan di level masyarakat masih saja terjadi meski kontestasi pilkada telah selesai. Kedamaian dan keberagaman negeri ini, menjadi hal mahal untuk diwujudkan. Karena semua orang sibuk mencari kesalahan orang lain. Dampak dari itu semua adalah, tindakan intoleransi telah berubah bentuk menjadi aksi persekusi. Mari kita gunakan bulan Ramadan, untuk kembali memupuk toleransi antar umat berbagama. Islam merupakan agama yang sejuk dan penuh kedamaian. Sudah semestinya, para pemeluknya juga melakukan perilaku-perilaku yang menyejukkan, dan menjauhkan diri dari segala bentuk kekerasan.